Review: Hororis Causa (13 Kengerian) – Komunitas Literasi Fiksimini

Judul: Hororis Causa – 13 Kengerian
Penulis: Komunitas Literasi Fiksi Mini
Penerbit: Penerbit AGPress
Tahun Terbit: September 2016 (Cetakan Pertama)
Harga: – (agak-agak lupa, belinya udah lama)
Jumlah halaman: 146 hal.
ISBN: 9786023960927

*

Blurb:

Hororis Causa adalah kumpulan cerpen yang ditulis oleh teman-teman yang tergabung dalam Komunitas Literasi Fiksimini. Berkat aktivitasnya di Fiksimini, beberapa teman mencoba untuk mengembangkan karya yang lebih panjang dari sekadar 140 karakter. Hasilnya adalah kumpulan cerpen bergenre horor. Sederhana saja ketika genre ini dipilih. Sebab kami adalah penulis pemula, maka genre horor lebih mudah dalam membangun drama, ketegangan, sekaligus kejutan. Tentu masih banyak kekurangan, namun siapa pun yang membaca buku ini, semoga mendapatkan hiburan lewat kengerian yang muncul dari setiap halamannya.

*

Review:

Sudah lama banget rasanya saya tidak membaca sekumpulan cerita. Apalagi horor. Duh, horor, beneran agak malas karena membayangkan horor adalah sekumpulan cerita tentang setan gentayangan yang sungguh sangat biasa dan sudah berulang kali diceritakan di film, buku, legenda, dan cerita lisan.

Tapi tenang, Hororis Causa berbeda dari itu, setidaknya setelah saya menyelesaikan seluruhnya. Memang tidak ada benang merah apa-apa dari 13 cerita di buku ini selain kengerian yang ditawarkan pada penulisnya. Hororis Causa sama sekali tidak menawarkan hantu cemen yang ketawa serem di atas pohon saat malam Jumat. Hororis Causa dan 13 penulisnya punya lebih dari itu –lebih dari sekadar horor biasa, ditambah sketsa-sketsa yang tak kalah menakutkan. Hem.

Continue reading

Advertisements

Review: Pulang – Happy Salma

IMG_20160901_132819

Judul: Pulang
Penulis: Happy Salma
Penerbit: Koekoesan
Tahun Terbit: November 2006 (cetakan pertama)
Harga: Rp – (pemberian teman)
Jumlah halaman: 120 hal.
ISBN: 979954525

*

Blurb:

Ke mana hamparan sawah, pohon karet yang tinggi langsing berjajar rapi, dan juga pohon-pohon rindang lainnya? Semua terbabat habis, ke mana mereka? Kicau burung sudah tidak seramai dulu lagi. Sungai yang dulu mendendangkan gemericik alam yang bening, kehilangan auranya, keruh, pekat! Semua menghilang bersama derai tawaku semasa kecil. Tak ada lagi keindahan seperti ketika aku dan adikku berlari kecil bersama kawan-kawan sepermainan. Tak ada lagi dangau tempat aku tertawa mesra bersama kekasih. Semua menghilang, hilang sudah. Tinggal tunggul-tunggul kecoklatan yang diguyur hujan dan terpanggang matahari silih berganti.

Happy Salma dalam kumpulan cerpen pertamanya: “Pulang”, sengaja menuliskan cerpen-cerpennya sebagai ajang aktualisasi diri. Namun, perlu dicatat, setidak-tidaknya, bagaimanapun juga sastra adalah alat aktualisasi diri pengarangnya.

Sebagai ajang aktualisasi diri, tentu saja kualitas cerpen-cerpen Happy Salma ini akan mencerminkan kualitas hidup (pun pemikiran) Happy Salma sendiri. Karenanya tampak, cerpen bagi Happy adalah proses pencarian diri dan mematangkan diri sebagai …(tentu ini juga terserah Happy Salma sendiri sebagai manusia yang punya hidup). Filsafat atau ilmu-ilmu humaniora bisa saja membantu dalam proses ini. Sebagai ajang aktualisasi diri, cerpen-cerpen Happy Salma pun tampak ringan dan gampang bahkan dalam memandang kehidupan itu sendiri. Sedikit gelisah, sedikit kerinduan, sedikit peduli, tanggung, tak ada keberanian, bahkan keragu-raguan yang ada, begitulah cerpen-cerpen Happy Salma. Karenanya cerpen-cerpen Happy Salma ini tak beranjak dari tema-tema lama: kekalahan, kepasrahan tapi ingin keluar dari situasi seperti ini walau tanpa perspektif yang jelas. Ujung-ujungnya justru membingungkan: apa sih maunya? Sementara ia punya peluang untuk mengungkapkan itu semua dengan baik dan berani setidaknya ada editor bahasa dan logika cerita yang siap setiap saat di samping hidupnya sendiri yang sudah menarik dan dahsyat untuk menjadi tumpuannya: artis dan selebritis

*

Review:

Waktu itu, sudah lama sekali, pernah membaca liputan koran Kompas Minggu mengenai Happy Salma yang katanya menulis dan baru saja menerbitkan bukunya. Sejak itu, saya berniat membaca buku beliau, sebab selama ini di mata saya Happy Salma adalah seorang aktris –belakangan juga pemain teater, tapi saya penasaran bagaimana seandainya jika beliau menulis. Kebetulan, seorang teman tahu bahwa saya mencari buku ini sudah lama sekali. Jadi, beruntungnya, buku ini saya dapatkan cuma-cuma dari hasil perburuan seorang teman di pasar buku bekas di Malang. Melewati jarak yang lumayan untuk tiba di Jakarta.

Pulang terdiri dari 8 cerita pendek. Tidak terlalu panjang dan tidak terlalu berbelit. Tema besarnya mungkin adalah hubungan ibu, anak, dan kepulangan seorang anak ke rumahnya. Hampir semua cerita pendek menggunakn benang merah yang sama walau twistnya berbeda-beda. Pulang sendiri, cerita pendek yang kemudian dijadikan judul cerpen, menurut saya biasa saja. Tidak ada kejutan yang menarik di dalamnya. Malahan, cerita berjudul Umi yang ada di urutan paling akhir buku yang memberikan sedikit kejutan.
Continue reading

Review: Sagra – Oka Rusmini

Judul: Sagra
Penulis: Oka Rusmini
Penerbit: Indonesia Tera
Tahun Terbit: Juli 2004 (Cetakan Kedua)
Harga: Rp 35.000,-
Jumlah halaman: 320 hal.
ISBN9799375436

*

Blurb:

Apakah hidup akan menyisakan sepotong kecil, seukuran kuku kelingking, sedikit saja, keinginanku yang bisa kutanam dan kusimpan sendiri?

Hyang Widhi, apakah sebagai perempuan aku terlalu loba, tamak, sehingga Kau pun tak mengizinkanku memiliki impian?

Apakah Kau laki-laki?

Sehingga tak pernah Kaupahami keinginan dan bahasa perempuan sepertiku?

*

Review:

Sebelum ini sebenarnya mencari Tarian Bumi, tapi kemudian menemukan Sagra terlebih dulu dan kepincut untuk membacanya karena cover yang menarik. Malah sebenarnya kurang suka baca kumcer, tapi ternyata yang ini lumayan juga.

Favorit saya adalah Sagra, sebuah cerpen yang dijadikan judul bukunya. Sebenarnya, hampir semua cerpen Oka Rusmini di buku ini bagus-bagus dan punya ciri khas tersendiri. Oka Rusmini seperti ingin menanamkan Bali begitu dalam di cerita-cerita yang beliau tulis; adatnya kental, nuansa budaya Bali-nya kuat, aura tradisinya masih oke. Sebagai awam -yang bukan orang Bali dan hampir tak tahu apa-apa tentang budaya Bali, saya rasa cerita-cerita dalam buku ini membantu saya untuk lebih banyak tahu.

Continue reading

Review: (Tak) Percaya Cinta – Muthia Zahra Feriani & Alldo Fellix Januardy

Judul: (Tak) Percaya Cinta
Penulis: Muthia Zahra Feriani & Alldo Fellix Januardy
Penerbit: Logika Rasa
Tahun Terbit: Juni 2014 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. – (dapat dari bookswap di bookshow Maryam)
Jumlah halaman: 164  hal.
ISBN: 

*

Percaya Cinta:

Cinta adalah definisi rasa yang tidak perlu diungkapkan dalam kata-kata. Seringkali orang yang menerjemahkan cinta dalam suatu deskripsi dengan diksi tertentu justru membuat diri sendiri kecewa.

Jika sesuatu ada karena hati yang percaya, begitu juga dengan cinta. Tanpa perlu kata-kata, percaya cinta adalah kesetiaan perjalanan rasa untuk kita yang mendamba bahagia.

Tak Percaya Cinta: 

Cinta adalah sekumpulan kisah anomali yang digeneralisir oleh para pemimpi. Kita terbiasa mendengar kisah tentang gadis biasa yang akan menemukan sang pangeran, seorang buruk rupa yang dicintai perempuan sempurna, dan keluarga raja yang tak memandang tinggi-rendah derajat manusia; seolah semua itu akan terjadi kepada diri kita. Suatu hari kita terantuk realita. Sekeliling membuat kita merasa tak layak bagi kisah cinta yang mulia. Hingga kita tak akan berhenti bertanya mengapa.

Sesungguhnya kita tak pernah percaya cinta.

*

Review:

Saya mendapatkan buku ini di meja swap pada sebuah acara, dan sumpah saya jatuh cinta pada bentuknya. Catat ini, hanya bentuknya saja, pada awalnya. Sebab buku ini berukuran mini dan hanya setinggi pembatas buku kecil. Tidak besar dan lebar seperti bentuk buku fiksi lain yang biasa beredar di pasaran. Sebab itulah saya memutuskan mengambil buku ini dari atas meja. Dan lagipula, karena Reight Book Club sedang rutin mengadakan baca barengnya, dan tema bulan April adalah antologi, jadi saya kira kumpulan cerpen ini pas untuk dibaca segera.

Continue reading

[Tantangan Baca] Buku-buku Eka Kurniawan

books5

Beberapa waktu lalu saya berkumpul bersama teman-teman yang juga suka baca, dan tiba-tiba saja, entah dari mana awalnya, tercetus keinginan untuk membaca bersama-sama. Maka, untuk periode bulan ini, kami memilih buku-buku karya Mas Eka Kurniawan. Sebabnya, masing-masing dari mereka tertarik pada judul yang berbeda, sehingga tantangan baca ini dimaksudkan untuk membaca segala judul buku Mas Eka, bukan hanya salah satunya.

Kami kemudian membuat sebuah klub baca, yang bernama Bacaisme, baru saja terbentuk semenjak kami meresmikannya via obrolan ngalor ngidul tadi pagi, usai saya menyeruput kopi pertama hari ini. Dan berhubung kami semua adalah orang-orang yang tidak suka ribet, jadi kami memutuskan bahwa semua orang boleh ikut seru-seruan membaca buku Mas Eka Kurniawan bersama kami.

Tidak ada syarat yang khusus, beberapa ketentuan dasar yang harus kamu penuhi, sebagai berikut:

Continue reading

REVIEW: Robohnya Surau Kami – A.A. Navis

Judul: Robohnya Surau Kami
Penulis: A.A. Navis
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: April 2012 (Cetakan ke-18)
Harga: Rp. – (beli di tokbuk bekas, jadi kurang tahu harga aslinya)
Jumlah halaman: 142 hal.
ISBN: 978-979-22-6129-5

*

Blurb:

Dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”, berdialoglah Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah…

“…..kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak….”

Kutipan cerpen di atas ditulis oleh A.A. Navis, sastrawan besar yang telah melahirkan karya-karya monumental dalam sejarah sastra Indonesia. Pemikirannya yang kritis dapat dijadikan sebuah otokritik bagi setiap pemeluk agama di Indonesia dan mana pun juga. Silakan bercermin pada cerpen-cerpen yang ada di dalam kumpulan ini. Lalu putuskan, apakah kita akan menarik hikmah dan manfaat atau bersikap “buruk rupa, cermin dibelah”.

*

Review:

Gue baca buku ini dalam rangka Readathon Day – 24 Januari 2015 kemarin. Sebenernya udah punya dari beberapa minggu lalu, tapi belum selesai dibaca. Kebetulan, hari Sabtu minggu lalu ada acara Readathon, yang konsepnya kurang lebih, membaca satu atau lebih buku dalam kurun waktu 4 jam nonstop. Event internasional, sih, cuma Goodreads Indonesia ikut meramaikan. Bacanya boleh selesai, boleh nggak, tapi perkembangannya harus diupdate di forum GRI. Lumayan, gue bisa menghabiskan buku A.A. Navis ini segera, ternyata.

Continue reading

REVIEW: Fiksi-fiksi Benang Merah [Dalam 4 Genre] – Ervin Ruhlelana

image

Judul: Fiksi-fiksi Benang Merah [Dalam 4 Genre]
Penulis: Ervin Ruhlelana
Penerbit: Samantha School Publishing & Kendi Aksara
Tahun Terbit: 2013 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 80.000
Jumlah halaman: 250 hal.
ISBN: 978-602-1510-02-5

*

Blurb:

Buku ini berisi kumpulan fiksi pendek yng dikelompokkan ke dalam 4 genre; JAZZ, GRUNGE, BLUES, dan ORKES. Ditulis dari rentang 2001-2013.

JAZZ

“Kau harus belajar banyak tentang tradisi teks dan tradisi oral, Anak Muda, jangan cuma oral seks yang ada dalam kepalamu.” – Sangkuriang, Glossolalia Lelaki Tua, dan Selinting Bako Mole

GRUNGE

Shifra Londa, gadis cantik yang diberaki ratusan lalat saat dia lahir, bertubuh semampai, berkarakter liar dan licin seperti belut, yang sudah bermetamorfosa menjadi sekawanan burung pipit, mati ditikam pisau jagal dengan tiga tikaman, dua di paru-paru, satu di rahim. – Binatang Jalang (a short about a perfect murderer)

BLUES

Berbulan-bulan aku tak menemukan jawaban, dia hampir beku, aku masih juga kaku, kami diam-diaman karena alpa memang pandai menyerang segala. Alpa yang begitu lama, begitu menggoda, hingga saat ini, saat dia sudah membeku jadi batu, terjebak di kepalaku, aku hanya bisa memberinya paku. Cuaca buruk yang melegenda, karena alpa tak bisa dilawan dengan buku-buku sejarah atau ensiklopedia, bahkan Paman Google mulai memakai dandanan hipster sok tahu. – Jutaan Bilangan Silang, Tisyu-tisyu Astrologi, dan Nebula-nebula Berkarat

ORKES

Nina menguap, bau vagina purba menelusup pelan ke hidung Berapi. Berapi terbatuk, sececret air madi mencrot di ubun-ubunnya. Seekor serigala hidup disana. Dan rupanya purnama sudah tiba. Dengan konsentrasi dan kontrasepsi, Berapi mengeluarkan serigala dalam rahim Nina pelan-pelan. Persalinan berhasil dengan baik. Serigala itu lari ke kedalaman hutan, lolongannya masih menggema. – A Short About An Organic Vagina

*

Review:

image

Minggu lalu, Ervin –penulis buku ini, baru saja meluncurkan novel barunya berupa e-book yang bisa diunduh gratis. Kebetulan, dia membagikannya terlebih dulu di Path dan menodong sebuah review. Akhirnya, setelah cas cis cus, gue kebagian review dua buku –yang baru itu dan Fiksi Benang-benang Merah ini. Tadinya mau dikirimin, tapi gue bilang sis @bellazoditama punya. Kemudian gue menyesal, karena setelah baca jadinya pengin punya satu buat koleksi di lemari, hahaha.

Oke, jadi Fiksi Benang-benang Merah adalah sebuah kumpulan fiksi pendek yang dibagi ke dalam 4 genre –seperti yang tertulis pada blurbnya. Keseluruhan buku ini adalah sebuah kotak pandora super absurd, bertebaran kata-kata senggama, kata-kata asing, kata-kata yang jarang digunakan, atau kata-kata yang kemudian dirangkai menjadi bahasa tingkat tinggi.

Buku ini absurd, bagi semua orang.

Buku ini mungkin aneh, bagi yang tidak mengerti atau tidak paham inti tulisan Ervin Ruhlelana.

Continue reading