Review: Lalita – Ayu Utami

Photo Credit: Dunia Buku

Judul: Lalita
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: Penerbit KPG
Tahun Terbit: September 2012 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp 50.000,-
Jumlah halaman: 256 hal.
ISBN: 9789799104939

*

Blurb:

Lalita menerima sejilid kertas tua berisi bagan-bagan mandala, dan sejak itu setiap hari pengetahuannya tentang sang kakek bertambah. Setiap kali pengetahuan itu bertambah banyak, setiap kali pula sang kakek bertambah muda dalam penglihatannya. Pada suatu titik ia bisa sepenuhnya melihat seorang remaja berumur tiga belas tahun, yang berdiri lurus kaku dan kepala sedikit miring seolah melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

Apa hubungan semua itu dengan Candi Borobudur? itu akan menjadi petualangan Yuda, Marja, dan Parang Jati.

*

Review:

Agak lama jarak dari membaca Manjali dan Cakrabirawa sampai dengan membaca Lalita ini, sih. Ya, adalah beberapa bulan. Jadi setelah sejenak lupa dengan Sandi Yuda – Marja Manjali – Parang Jati, akhirnya ‘diingatkan’ dan ditarik lagi ke dalam kisah hidup ketiganya. Buku ini sejatinya masih kelanjutan dari Manjali dan Cakrabirawa. Jadi karena perseteruan Yuda dan Jati -serta kepergian Jati ke Jawa Timur dengan membawa serta Marja, hubungan mereka pun merenggang.

Sandi Yuda sendirian. Tapi kemudian ia bertemu seorang wanita 40-an bernama Lalita Vistara, seorang kurator dan pemilik galeri, perempuan kaya raya yang identik dengan warna Indigo. Perempuan itu misterius, namun awalnya Yuda tak tertarik. Tapi kemudian karena sebuah insiden di mana Yuda menyelamatkan hidupnya, Lalita pun mengundang Yuda masuk ke dalam kehidupannya yang kelam, menyusuri jejak masa lalu keluarganya yang keturunan Drakula.

Continue reading

Review: Lost – Rizal Affif & Nia Janiar

whatsapp-image-2017-02-14-at-7-19-42-pm

Judul: Lost (Pencarian di Bulan Agustus)
Penulis: Rizal Affif & Nia Janiar
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: Oktober 2015 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp – (baca di iJak)
Jumlah halaman: 136 hal.
ISBN: 9786023752096

*

Blurb:

30 Agustus diperingati sebagai hari internasional orang-orang yang dihilangkan paksa

Adrian, sang fotografer, hanyalah pengagum rahasia. Aruna, sang ibu rumah tangga, tak pernah pergi jauh dari rumah.

Namun, saat orang yang mereka cintai hilang begitu saja dari kehidupan mereka, mereka menolak tinggal diam.

Keputusan membawa mereka meninggalkan dunia nyaman mereka, menantang bahaya, menjelajah ruang dan kenangan masa silam.

DEMI SEBUAH JAWABAN

*

Review:

Memberikan 4 bintang pada buku ini semata-mata karena cerita keduanya, bukan cerita pertama. Buku ini terdiri dari 2 novela (novel pendek) yang masing-masing berjumlah 100-an halaman. Pada cerita pertama yang berjudul Mencari Jawaban, kisah berpusat pada Adrian –seorang fotografer yang kehilangan pujaan hatinya di Semeru. Cerita pertama ini agak biasa, sebab penggalian karakter Adrian tidak terlalu dalam dan tidak ada kesan yang terlalu berarti buat saya. Sebagian besar novela hanya berisi kegalauan hati Adrian pasca hilangnya si perempuan -yang pergi mendaki Semeru bersama suaminya.

Sebentar, suami?

Iya. Untuk selengkapnya agar tidak spoiler, silakan dibaca sendiri. Tidak banyak hal yang bisa saya ceritakan dari kisah Adrian –karena kalau saya dipaksa cerita banyak, maka bukan tidak mungkin saya akan terlalu spoiler. Well, sebab tidak ada elemen yang saya sukai. Tidak diksi, tidak juga plot, tidak juga yang lain. Seandainya novela ini berdiri sendiri menjadi novel, bahkan bintang saya jelas akan berubah jumlah. (well, kecuali paragraf pertama bagian prolog, sih).

Continue reading

Review: Kinanthi; Terlahir Kembali – Tasaro G.K.

Gambar: Goodreads

Judul: Kinanthi – Terlahir Kembali
Penulis: Tasaro G.K.
Penerbit:
Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2012
Harga: Rp – (baca di perpustakaan)
Jumlah halaman: 544 hal.
ISBN: 9786028811903

*

Blurb:

Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta;
Engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada di sekitarnya. Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh, dan terbelah ketika dia menjauh. Keindahan adalah ketika engkau merasa ia memerhatikanmu tanpa engkau tahu. Sewaktu kemenyerahan itu meringkusmu, mendengar namanya disebut pun menggigilkan akalmu. Engkau mulai tersenyum dan menangis tanpa mau disebut gila.
Berhati-hatilah….

*

Review:

Menemukan buku ini di Perpusda Cikini, dan karena sedang tidak ingin membaca buku lain, akhirnya iseng menyelesaikannya dalam beberapa jam. Sebenarnya beberapa kali melihat buku ini di toko buku tapi ragu membelinya. Kirain cerita percintaan anak remaja gitu, ternyata nggak. Kinanthi bercerita mengenai kisah seorang gadis kecil bernama Kinanthi yang hidup di desa daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Sejak kecil, Kinanthi berteman baik dengan Ajuj –anak lelaki yang tua satu-dua tahun di atas umurnya. Mereka sangat dekat dan akrab, sehingga Ajuj juga yang berdiri paling depan ketika Kinanthi diejek kawan-kawannya karena ayahnya seorang tukang judi dan santer beredar bahwa kakaknya pelacur di kota. Ajuj yang putra seorang rohis itu tak peduli siapa Kinanthi, yang ia tahu bahwa ia nyaman berteman dengan gadis itu.

Kisah mereka kemudian menjadi rumit karena pertentangan orangtua. Kedua ayah mereka memang sudah bermusuhan dari kecil, dan di sebuah desa atau dusun yang penghuninya tak terlalu banyak, otomatis seluruh warga saling mengenal dan kamu akan bertemu orang yang itu-itu lagi. Ayah Kinanthi lebih bijak dengan tidak melarang Ajuj main ke rumah gubuknya. Sementara ayah Ajuj yang lebih angkuh dan melarang keras anaknya main dengan putri seorang penjudi.

Continue reading

Menelisik Surat-surat untuk Padmini, Sebuah Sisi Lain Kekuatan Perempuan

Photo Credit: Pexels

Tempo hari saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh seorang perempuan seniman Indonesia. Beliau pernah menjadi juri dan mentor acara musik, bahkan cukup terkenal bersama kelompok jazz-nya yang sudah berkarir puluhan tahun. Saya tidak bisa meragukan nyanyian beliau, dan Krakatau –band jazz tersebut, kalau kalian kenal, adalah sebuah kelompok yang hebat menurut saya. Di luar dugaan saya, Trie Utami atau yang dikenal juga dengan Mbak Iie ini pun menulis beberapa buku. Sebelum menemukan dunia Padmini, saya pernah membaca Cinta Setahun Penuh hasil meminjam di sebuah taman bacaan –dan hingga hari ini masih saya cari bukunya namun belum jua ditemukan.

Dunia Padmini sendiri saya temukan di sebuah Galeri Buku Bengkel Deklamasi milik pujangga sekaligus budayawan Jose Rizal Manua di kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Awalnya saya mengira bahwa buku ini adalah sebuah novel roman dewasa, sebab judulnya sangat perempuan dan tulisan/komentar endoser di sampul belakangnya pun berbunyi demikian. Saya pikir, dan yang pernah saya pahami selama ini adalah bahwa seringkali sisi lain perempuan ditonjolkan dalam sebuah karya sastra, mungkin dengan tujuan menyadarkan sesama perempuan bahwa mereka adalah sosok yang berarti, bagaimana pun keadaan mereka.

Tapi Dunia Padmini memiliki cara yang agak berbeda. Melalui buku ini, pembaca diajak masuk dan dijadikan sebagai Padmini –seorang perempuan, house wife, ibu dari dua anak, yang sering menerima sepucuk surat dari seorang sahabatnya. Di sini sang sahabat bertindak sebagai aku yang hingga akhir buku pun tidak diketahui siapa sosoknya. Saya bilang akhir buku, bukan akhir kisah ini, karena hingga bukunya selesai pun sepertinya kisahnya masih belum berakhir. Dunia Padmini dan surat-surat yang ada di dalamnya menceritakan berbagai lapisan kehidupan.

Continue reading

Review: Century – Sarah Singleton

Judul: Century
Penulis: Sarah Singleton
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Penerbit: 
Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Desember 2004 (cetakan pertama)
Harga: Rp – (dapat dari Book Blind Date-nya Goodreads Indonesia, di acara IIBF 2016)
Jumlah halaman: 248 hal.
ISBN: 9792230335

*

Blurb:

Mercy dan adiknya tinggal di dunia yang remang-remang: tidur saat matahari terbit, dan bangun saat matahari terbenam. Rumah mereka pun diselimuti musim dingin tak berkesudahan.

Mercy tidak pernah bertanya pada ayahnya tentang cara hidup mereka—dan penyebabnya—sampai suatu hari ia menemukan di bantalnya sekuntum bunga snowdrop, tanda pertama musim semi.

Pertemuannya dengan Claudius yang misterius mengguncang Mercy dan memulai perjalanan berlikunya menyusuri sejarah keluarga, mengungkapkan fakta-fakta tentang kematian ibunya dan rumah mereka yang membeku dalam waktu.

*

Review:

Suatu kali, sebuah buku ditemukan. Penulisnya bernama Mercy Galliena Verga, dan ternyata buku itu merupakan kisah hidup Mercy sendiri.  Mercy bisa melihat hantu, dan ia tinggal di sebuah rumah yang remang-remang, tidak pernah ada matahari. Sebab Mercy, Trajan –ayahnya, Charity –adiknya, Aurelia, serta Galatea yang bertindak sebagai pengajar mereka, hanya terbangun pada malam hari. Mereka akan pergi tidur menjelang fajar. Mercy merasa ada yang aneh dengan kehidupan mereka semua, bukankah seharusnya orang-orang bangun menjelang pagi?

Berangkat dari rasa penasaran itulah, akhirnya Mercy mencoba mencari tahu. Ditambah lagi, suatu hari Mercy bertemu dengan Claudius –lelaki misterius yang mengatakan bahwa Mercy bisa bertemu lagi dengan ibunya, dan bisa juga kembali melihat matahari pagi. Ajakan itu kemudian membuat Mercy tergugah untuk mengikuti arahan Claudius, meski tindakannya ditentang oleh Trajan –sang ayah.

Continue reading

Review: Pulang – Happy Salma

IMG_20160901_132819

Judul: Pulang
Penulis: Happy Salma
Penerbit: Koekoesan
Tahun Terbit: November 2006 (cetakan pertama)
Harga: Rp – (pemberian teman)
Jumlah halaman: 120 hal.
ISBN: 979954525

*

Blurb:

Ke mana hamparan sawah, pohon karet yang tinggi langsing berjajar rapi, dan juga pohon-pohon rindang lainnya? Semua terbabat habis, ke mana mereka? Kicau burung sudah tidak seramai dulu lagi. Sungai yang dulu mendendangkan gemericik alam yang bening, kehilangan auranya, keruh, pekat! Semua menghilang bersama derai tawaku semasa kecil. Tak ada lagi keindahan seperti ketika aku dan adikku berlari kecil bersama kawan-kawan sepermainan. Tak ada lagi dangau tempat aku tertawa mesra bersama kekasih. Semua menghilang, hilang sudah. Tinggal tunggul-tunggul kecoklatan yang diguyur hujan dan terpanggang matahari silih berganti.

Happy Salma dalam kumpulan cerpen pertamanya: “Pulang”, sengaja menuliskan cerpen-cerpennya sebagai ajang aktualisasi diri. Namun, perlu dicatat, setidak-tidaknya, bagaimanapun juga sastra adalah alat aktualisasi diri pengarangnya.

Sebagai ajang aktualisasi diri, tentu saja kualitas cerpen-cerpen Happy Salma ini akan mencerminkan kualitas hidup (pun pemikiran) Happy Salma sendiri. Karenanya tampak, cerpen bagi Happy adalah proses pencarian diri dan mematangkan diri sebagai …(tentu ini juga terserah Happy Salma sendiri sebagai manusia yang punya hidup). Filsafat atau ilmu-ilmu humaniora bisa saja membantu dalam proses ini. Sebagai ajang aktualisasi diri, cerpen-cerpen Happy Salma pun tampak ringan dan gampang bahkan dalam memandang kehidupan itu sendiri. Sedikit gelisah, sedikit kerinduan, sedikit peduli, tanggung, tak ada keberanian, bahkan keragu-raguan yang ada, begitulah cerpen-cerpen Happy Salma. Karenanya cerpen-cerpen Happy Salma ini tak beranjak dari tema-tema lama: kekalahan, kepasrahan tapi ingin keluar dari situasi seperti ini walau tanpa perspektif yang jelas. Ujung-ujungnya justru membingungkan: apa sih maunya? Sementara ia punya peluang untuk mengungkapkan itu semua dengan baik dan berani setidaknya ada editor bahasa dan logika cerita yang siap setiap saat di samping hidupnya sendiri yang sudah menarik dan dahsyat untuk menjadi tumpuannya: artis dan selebritis

*

Review:

Waktu itu, sudah lama sekali, pernah membaca liputan koran Kompas Minggu mengenai Happy Salma yang katanya menulis dan baru saja menerbitkan bukunya. Sejak itu, saya berniat membaca buku beliau, sebab selama ini di mata saya Happy Salma adalah seorang aktris –belakangan juga pemain teater, tapi saya penasaran bagaimana seandainya jika beliau menulis. Kebetulan, seorang teman tahu bahwa saya mencari buku ini sudah lama sekali. Jadi, beruntungnya, buku ini saya dapatkan cuma-cuma dari hasil perburuan seorang teman di pasar buku bekas di Malang. Melewati jarak yang lumayan untuk tiba di Jakarta.

Pulang terdiri dari 8 cerita pendek. Tidak terlalu panjang dan tidak terlalu berbelit. Tema besarnya mungkin adalah hubungan ibu, anak, dan kepulangan seorang anak ke rumahnya. Hampir semua cerita pendek menggunakn benang merah yang sama walau twistnya berbeda-beda. Pulang sendiri, cerita pendek yang kemudian dijadikan judul cerpen, menurut saya biasa saja. Tidak ada kejutan yang menarik di dalamnya. Malahan, cerita berjudul Umi yang ada di urutan paling akhir buku yang memberikan sedikit kejutan.
Continue reading

Review: Sagra – Oka Rusmini

Judul: Sagra
Penulis: Oka Rusmini
Penerbit: Indonesia Tera
Tahun Terbit: Juli 2004 (Cetakan Kedua)
Harga: Rp 35.000,-
Jumlah halaman: 320 hal.
ISBN9799375436

*

Blurb:

Apakah hidup akan menyisakan sepotong kecil, seukuran kuku kelingking, sedikit saja, keinginanku yang bisa kutanam dan kusimpan sendiri?

Hyang Widhi, apakah sebagai perempuan aku terlalu loba, tamak, sehingga Kau pun tak mengizinkanku memiliki impian?

Apakah Kau laki-laki?

Sehingga tak pernah Kaupahami keinginan dan bahasa perempuan sepertiku?

*

Review:

Sebelum ini sebenarnya mencari Tarian Bumi, tapi kemudian menemukan Sagra terlebih dulu dan kepincut untuk membacanya karena cover yang menarik. Malah sebenarnya kurang suka baca kumcer, tapi ternyata yang ini lumayan juga.

Favorit saya adalah Sagra, sebuah cerpen yang dijadikan judul bukunya. Sebenarnya, hampir semua cerpen Oka Rusmini di buku ini bagus-bagus dan punya ciri khas tersendiri. Oka Rusmini seperti ingin menanamkan Bali begitu dalam di cerita-cerita yang beliau tulis; adatnya kental, nuansa budaya Bali-nya kuat, aura tradisinya masih oke. Sebagai awam -yang bukan orang Bali dan hampir tak tahu apa-apa tentang budaya Bali, saya rasa cerita-cerita dalam buku ini membantu saya untuk lebih banyak tahu.

Continue reading