Review: Kinanthi; Terlahir Kembali – Tasaro G.K.

Gambar: Goodreads

Judul: Kinanthi – Terlahir Kembali
Penulis: Tasaro G.K.
Penerbit:
Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2012
Harga: Rp – (baca di perpustakaan)
Jumlah halaman: 544 hal.
ISBN: 9786028811903

*

Blurb:

Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta;
Engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada di sekitarnya. Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh, dan terbelah ketika dia menjauh. Keindahan adalah ketika engkau merasa ia memerhatikanmu tanpa engkau tahu. Sewaktu kemenyerahan itu meringkusmu, mendengar namanya disebut pun menggigilkan akalmu. Engkau mulai tersenyum dan menangis tanpa mau disebut gila.
Berhati-hatilah….

*

Review:

Menemukan buku ini di Perpusda Cikini, dan karena sedang tidak ingin membaca buku lain, akhirnya iseng menyelesaikannya dalam beberapa jam. Sebenarnya beberapa kali melihat buku ini di toko buku tapi ragu membelinya. Kirain cerita percintaan anak remaja gitu, ternyata nggak. Kinanthi bercerita mengenai kisah seorang gadis kecil bernama Kinanthi yang hidup di desa daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Sejak kecil, Kinanthi berteman baik dengan Ajuj –anak lelaki yang tua satu-dua tahun di atas umurnya. Mereka sangat dekat dan akrab, sehingga Ajuj juga yang berdiri paling depan ketika Kinanthi diejek kawan-kawannya karena ayahnya seorang tukang judi dan santer beredar bahwa kakaknya pelacur di kota. Ajuj yang putra seorang rohis itu tak peduli siapa Kinanthi, yang ia tahu bahwa ia nyaman berteman dengan gadis itu.

Kisah mereka kemudian menjadi rumit karena pertentangan orangtua. Kedua ayah mereka memang sudah bermusuhan dari kecil, dan di sebuah desa atau dusun yang penghuninya tak terlalu banyak, otomatis seluruh warga saling mengenal dan kamu akan bertemu orang yang itu-itu lagi. Ayah Kinanthi lebih bijak dengan tidak melarang Ajuj main ke rumah gubuknya. Sementara ayah Ajuj yang lebih angkuh dan melarang keras anaknya main dengan putri seorang penjudi.

Continue reading

Perkembangan Literasi di Kota Kecil

Photo credit: dok. pribadi

Photo credit: dok. pribadi

Dua minggu yang lalu ketika saya main ke Malang, saya sempat mampir ke tempat yang namanya Kafe Pustaka. Kafe Pustaka ini berada di dalam kampus Universitas Negeri Malang, tepatnya di samping gedung Fakultas Ekonomi. Tempatnya tidak terlalu besar, tapi cukup lega, kok. Ada beberapa meja dan kursi di dalam ruangan, sisanya di outdoor. Sehari-harinya buka hingga jam 8 malam dan bisa ditebak, bahwa sebagian besar pengunjungnya adalah mahasiswa. Dari segi harga makanan dan minuman, kamu akan maklum dua kali. Harganya super murah, pertama mungkin karena ini lingkungan kampus, keduak adalah karena ini Malang –bukan Jakarta. Alih-alih memasang harga yang lumayan, mereka malah memasang harga yang menurut standar saya sangat murah dengan makanan-minuman-kondisi kafe seperti itu.

Oke, lanjut. Di sana saya melihat tiga rak buku pada pojok kafe. Saya tanyakan pada Kak Ayu –seorang kawan bloger Malang, yang mengajak saya singgah ke sana, “apa buku-buku itu dijual?”

“Hanya rak ketiga, dua lainnya boleh dipinjam.” Jawab Kak Ayu dengan yakin, sebab beliau sudah sering main ke Kafe Pustaka, bahkan beberapa kali mengadakan acara di sana. Iseng, saya membuka penutup lensa kamera dan mengambil beberapa gambar. Saya sedang melihat ke sekeliling dan mendapati beberapa mahasiswa asyik dengan diktat kuliah dan tugas mereka.

Akhirnya terlintas di benak saya untuk bertanya, bagaimana kabar perkembangan literasi di kota seperti Malang?

Kak Ayu diam sebentar, kemudian tertawa kecil. Tidak ada perkembangan yang cukup pesat, katanya.  Kemudian dari  sanalah obrolan kami berlanjut. Dari sana pula saya tahu bahwa malang punya komunitas lokal di antaranya Klub Buku Malang, Blogger Malang, dan Pelangi Sastra Malang. Saya tanyakan lagi, apakah Malang seaktif Surabaya dalam hal literasi? Sebab dari yang saya tahu, anak bloger buku di Surabaya sering mengadakan meet up dan melakukan hal-hal kecil seperti tukar kado, dan sebagainya. Kak Ayu menggeleng pelan, dan ternyata di Malang sendiri nyaris tidak ada kegiatan. Menurut Kak Ayu, anak-anak Klub Buku Malang sepertinya sudah sibuk dengan kehidupan pribadi mereka, sehingga sudah tidak pernah lagi ikut mengurus kegiatan komunitas. Serba salahnya, ketika diadakan acara pun, tidak terlalu banyak audiens yang hadir.

Ini benar-benar sesuatu yang serba salah, saya sadar itu. Selain pengurusnya yang kurang, minat audiens untuk hadir pun kurang. Yang pasti, tingkat minat warganya untuk hadir di acara literasi tidak setinggi di Jakarta atau Bandung –di mana seringkali seat habis sebelum hari H. Kemudian saya berpikir lagi, apa yang salah dari semua ini? Dan bukan tidak mungkin di puluhan kota kecil lain, terjadi hal yang serupa. Tidak ada semangat untuk membaca dan berkomunitas. Meski memang, berkumpul dan berkomunitas adalah hak seseorang –bukan kewajiban. Tapi sebagai anak komunitas saya selalu merasa ini sayang banget.

Tapi Malang masih punya satu harapan, kata Kak Ayu lagi, yaitu Pelangi Sastra Malang. Biasanya komunitas ini lebih banyak membahas perkembangan sastra dan agak sedikit lebih berat bahasannya ketimbang Klub Buku Malang. Mungkin audiens-nya tidak sebanyak yang bisa saya bayangkan, tapi kegiatan mereka tidak stuck di tengah jalan, dan tetap ada hingga saat ini. Bisa dibilang, base camp-nya adalah Kafe Pustaka sendiri, sebab salah satu penggiatnya adalah pemilik Kafe Pustaka.

Photo Credit: BBC UK

Photo Credit: BBC UK

Kemudian saya jadi semangat lagi. Saya ingat berita yang saya baca di BBC mengenai Emma Watson, si cantik yang kini jadi duta PBB itu. Ia menyembunyikan buku Maya Angelou di stasiun kereta London dan mengirimkan pesan cinta, bahwa kepada siapa pun yang menemukan, boleh membaca buku tersebut atau meneruskannya kepada yang lain. Saya pikir ini gaya baru untuk meningkatkan minat baca orang-orang. Hanya saja, yang menjadi pertimbangan lainnya, apakah cara ini sudah efektif jika dilakukan di Indonesia –terlebih di kota-kota kecil?

Sebenarnya di luar negeri sudah banyak sekali cara-cara unik untuk meningkatkan minat baca. Salah satu hal keren lainnya adalah dengan mendirikan perpustakaan mini serupa kotak pos di depan pagar rumah. Siapa saja yang ingin meminjam, boleh mengambil sendiri bukunya, kemudian mengembalikan lagi setelah selesai dibaca. Pernah saya dan kawan-kawan saya sesama bloger membahas ini, kemudian salah satunya nyeletuk, “wah, Mput, kalau di Indonesia jangan begitu, bahaya! Bisa-bisa hilang sama kotak-kotaknya!” Kami terbahak, tapi mungkin itu benar adanya. Masyarakat kita belum bisa sepenuhnya mengambil dan meletakkan sesuatu dengan jujur sesuai porsinya, sesuai hak mereka. Sayang banget semua ide bagus harus kandas oleh alasan-alasan sederhana.

Seorang kawan juga sudah mencoba cara Emma Watson di kotanya, namun tidak ada perkembangan yang baik. Rata-rata buku yang disebar tidak ada kabar lagi, tak tahu ke mana rimbanya. Entah diteruskan atau tidak kepada orang lain setelah selesai dibaca, entah dibaca atau diloakin, juga tidak ada yang tahu.

Sebenarnya, setelah berkaca dari perkembangan literasi di kota kecil, saya tergelitik ingin memulai sesuatu di sana. Entah apa, saya juga belum tahu. Tapi saya orangnya selalu begitu, selalu ingin memulai sesuatu untuk menggerakan literasi yang mandek dan kayaknya sayang jika dibiarkan begitu saja. Tapi apa daya, saat ini saya bukan warga kota mereka, hahaha. Dan setelah beberapa hari, tentu saya akhirnya pulang ke kota saya sendiri. Kembali pada keramaian, kepada antusiasme acara literasi, kepada keseharian.

Kadang-kadang saya merasa senang berada di kota besar walau menurut saya ramainya sangat overload. Ada sisi positifnya: acara literasi ramai dilakukan di mana-mana, banyak yang datang, dan selalu seru. Saya berharap, nantinya ini bisa merata di seluruh kota –di luar Jakarta dan Bandung, tentunya. Semoga saja. 🙂

Desember: Main ke #IRF2016, Buat Fanpage Blog, dan Bergabung dengan BookTube Indonesia

Di awal Desember yang ceria namun sedikit mendung dan sering hujan ini, saya menemukan bahwa progress membaca saya di Goodreads tidak terlalu baik. Hingga hari ini, baru 39 buku yang saya baca, dari total 60 buku yang saya rencanakan di bulan Januari lalu. Saya lihat, beberapa teman juga merasakan hal yang sama, merasa tidak membaca sebanyak tahun lalu. Agak bahaya, sih. Soalnya bloger buku seharusnya membaca justru lebih banyak ketimbang yang bukan. Tapi bloger buku juga manusia; bisa malas dan kehabisan waktu, hahaha. So, update terbaru untuk bulan Desember ini akhirnya hanya dua:

  1. Main ke Festival Pembaca Indonesia atau Indonesia Readers Festival, atau yang dikenal juga sebagai #IRF2016, dan
  2. Akhirnya punya kesempatan untuk bergabung dengan BookTube Indonesia!

Awalnya, saya tidak ingin ke IRF berturut-turut selama dua hari, sebab saya pikir sehari saja cukup dan workshop yang saya ikuti adanya di hari Sabtu saja. Hari pertama saya membawa 15 buku untuk ditukarkan di meja bookswap, dan hari pertama ini memang menggiurkan sekali. Buku-buku di meja swap sedang bagus-bagusnya. Membuat saya tidak menyesal mengangkat 15 buku jauh-jauh ke Museum Nasional. Saya banyak mendapatkan buku-buku Bahasa Inggris, terutama penulis India. Kalau tidak salah ada tiga buku dari penulis India. Sisanya penulis Amerika Latin, dan tentu ada penulis lokal, bahkan kumpulan tulisan mengenai LGBT yang ditulis dari hasil kolaborasi penulis-penulis terkenal di Indonesia.

Continue reading

Menelisik Surat-surat untuk Padmini, Sebuah Sisi Lain Kekuatan Perempuan

Photo Credit: Pexels

Tempo hari saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh seorang perempuan seniman Indonesia. Beliau pernah menjadi juri dan mentor acara musik, bahkan cukup terkenal bersama kelompok jazz-nya yang sudah berkarir puluhan tahun. Saya tidak bisa meragukan nyanyian beliau, dan Krakatau –band jazz tersebut, kalau kalian kenal, adalah sebuah kelompok yang hebat menurut saya. Di luar dugaan saya, Trie Utami atau yang dikenal juga dengan Mbak Iie ini pun menulis beberapa buku. Sebelum menemukan dunia Padmini, saya pernah membaca Cinta Setahun Penuh hasil meminjam di sebuah taman bacaan –dan hingga hari ini masih saya cari bukunya namun belum jua ditemukan.

Dunia Padmini sendiri saya temukan di sebuah Galeri Buku Bengkel Deklamasi milik pujangga sekaligus budayawan Jose Rizal Manua di kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Awalnya saya mengira bahwa buku ini adalah sebuah novel roman dewasa, sebab judulnya sangat perempuan dan tulisan/komentar endoser di sampul belakangnya pun berbunyi demikian. Saya pikir, dan yang pernah saya pahami selama ini adalah bahwa seringkali sisi lain perempuan ditonjolkan dalam sebuah karya sastra, mungkin dengan tujuan menyadarkan sesama perempuan bahwa mereka adalah sosok yang berarti, bagaimana pun keadaan mereka.

Tapi Dunia Padmini memiliki cara yang agak berbeda. Melalui buku ini, pembaca diajak masuk dan dijadikan sebagai Padmini –seorang perempuan, house wife, ibu dari dua anak, yang sering menerima sepucuk surat dari seorang sahabatnya. Di sini sang sahabat bertindak sebagai aku yang hingga akhir buku pun tidak diketahui siapa sosoknya. Saya bilang akhir buku, bukan akhir kisah ini, karena hingga bukunya selesai pun sepertinya kisahnya masih belum berakhir. Dunia Padmini dan surat-surat yang ada di dalamnya menceritakan berbagai lapisan kehidupan.

Continue reading

Review: The Power in You – Ollie

Judul: The Power in You, sadari potensi diri untuk gapai prestasi
Penulis: Ollie
Penerbit:
Gagasmedia
Tahun Terbit: 2014(cetakan pertama)
Harga: Rp – (beli dari teman, preloved)
Jumlah halaman: 285 hal.
ISBN: 9789797807375

*

Review:

Saya termasuk orang yang jarang dan tidak terlalu suka baca buku self development atau pengembangan diri. Jauh sebelum saya membaca buku Mbak Ollie yang ini, saya merasa tidak cocok dengan buku kumpulan tips, motivasi, yang hanya diungkapkan. Atau mungkin melihat dari sisi hidup orang lain; mencontohkan apa yang sudah dicapai J.K. Rowling misalnya. Ya, memang beliau membuat pencapaian bagus dan luar biasa, but it’s her. Bukan si penulis, apalagi saya. Oleh karena itu, saya lebih suka sebuah aksi yang dikemas menjadi cerita, bukan sebuah rangkuman contoh.

Beberapa minggu sebelum membeli buku ini, saya bertemu Mbak Ollie dan ngobrol cukup lama. Waktu itu kebetulan, kami memang harus ketemu karena meeting, tapi setelah selesai masih ngobrol hingga beberapa jam. Di sana, saya mengenal sosok Mbak Ollie lebih dekat, kemudian ketika saya membaca The Power in You setelahnya, saya tahu bahwa buku ini bukan teori.

“Gue selalu berusaha agar apa yang gue tuliskan itu sudah pernah gue terapkan ke diri gue sendiri,” kata Mbak Ollie hari itu.

Continue reading

Ngobrolin Ritus Khayali bersama Bacaisme, Malam Puisi Jakarta, Ganding Pustaka, dan Post Santa!

Semenjak Bacaisme dibentuk, belum pernah kami membuat acara offline yang berhubungan dengan buku. Bacaisme sendiri adalah sebuah kelompok baca, terdiri dari beberapa anak muda yang suka membaca dan bahas buku. Selama sebelum ada nama Bacaisme, kami hanya membahas buku-buku yang kami baca via grup Whatsapp. Akhirnya pada hari Sabtu, 15 Oktober 2016 kemarin, saya dan tim Bacaisme memutuskan untuk bekerja sama dengan Post Santa, Malam Puisi Jakarta, serta Penerbit Ganding Pustaka.

Acara itu pada dasarnya hanya sebuah obrolan ringan mengenai buku dari seorang kawan anggota Malam Puisi Jakarta yang baru saja diterbitkan. Buku puisi bertajuk Ritus Khayali itu kami bahas dalam waktu kurang lebih satu setengah jam. Bukan waktu yang lama-lama banget, tapi cukup padat untuk mengulas dan menceritakan behind the scene dari buku ini. Lucunya, Bang Edoy –penulisnya, mencatat semua puisinya di ponsel. Bahkan ponsel tersebut pernah hilang, tapi akhirnya (dan entah kenapa) dikembalikan oleh pencurinya melalui pos. Sejak itu, beliau berpikir bahwa akan sangat keterlaluan jika puisi-puisi itu tak diterbitkan –sedangkan dengan cara-cara yang unik, puisi itu selalu kembali kepada si empunya.

Continue reading

Review: Cybergirl Runaway – Bella Zoditama

Judul: Cybergirl Runaway, Pelarian Sedih Sang Putri Senja
Penulis: Bella Zoditama
Penerbit: 
De Teens
Tahun Terbit: Oktober 2016 (cetakan pertama)
Harga: Rp 47.000,-
Jumlah halaman: 223 hal.
ISBN: 9786022553267

*

Blurb:

Orang-orang lebih mengenalnya sebagai Putri Senja,

padahal dia hanyalah seorang siswa berseragam putih abu-abu biasa.

Agi, seperti putri pengusaha kaya umumnya, memiliki hampir segalanya. Kecuali, perhatian kedua orang tuanya. Selama ini, Agi menurut di rumah dan memilih memberontak di sekolah. Hingga suatu ketika sebuah ide tercetus di kepalanya: kabur dari rumah.

Ya. Dia hanya akan pergi sebentar untuk melihat bagaimana reaksi orang tuanya jika tahu dia pergi.

Pasti akan seru. Tidak mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk, kan?

Maka, Agi pun pergi. Awalnya, semua baik-baik saja. Hingga ketika lapar, dia menyadari satu hal: dia salah bawa dompet. Uang dan ATM-nya berada di dompet yang lain, di rumah.

Aduh, bagaimana ini?

*

Review:

Sebenarnya sudah sekian lama memutuskan untuk tidak lagi baca teenlit, dan sejenisnya. Rasanya masa-masa teenlit sudah lewat. Tapi bulan Oktober ini ada yang istimewa, seorang kawan saya baru saja mendapat bukti terbit novelnya setelah 3 tahun (ttd MoU dan naskahnya kemudian didiamkan) tanpa kejelasan. Iya, novel tersebut akhirnya terbit juga dan baru saja beredar di toko-toko buku. Cybergirl Runaway judulnya, sebuah novel remaja yang berkisah mengenai Sellaginella June Soeandriya, atau Agi, seorang anak bungsu dari pengusaha telekomunikasi yang cukup ternama. Agi yang kurang kasih sayang dari kedua orangtuanya kemudian memutuskan untuk kabur dari rumah, ingin tahu apakah ia masih akan dicari atau tidak sama sekali. Saya pikir, pelarian Agi inilah yang kemudian menjadi tema besar dari cerita, tapi ternyata tidak. Saya pikir lagi, ya memang akan menarik jika menceritakan mengenai pelarian seorang remaja yang kelupaan membawa dompet dan kartu ATM-nya, bagaimana hidupnya akan berlanjut. Tapi ternyata semua itu tak cukup sulit bagi Agi.

Agi sepertinya punya tingkat keberuntungan yang tinggi. Sebab ketika ia pingsan, ada saja yang menolongnya, bahkan memberikan tempat bermalam dengan kehidupan cukup layak. Jadi, saya di sini juga sekalian hendak mempertanyakan bagaimana mungkin buku ini diberi tagline ‘Pelarian Sedih Sang Putri Senja’? Pelarian Sedih. Sedih! Sedih artinya tidak bahagia, sama sekali tidak beruntung, tapi yang ada di dalam buku ini jauh berkebalikan dengan tagline. Sepemahaman saya, tagline dibuat untuk mendukung judul, yang tentu harus berhubungan dengan isi buku.

Continue reading