Sebuah Pengakuan Tentang BBI dan Ucapan Selamat Ulang Tahun

Sebenarnya saya belum menuliskan apa-apa seharian kemarin mengenai ulang tahun BBI, tapi akhirnya saya memutuskan menulis dan ikut menyuarakan apa yang saya rasa setelah membaca beberapa postingan member BBI –baik pengurus maupun member lainnya. Beberapa postingan saya pikir bagus dan cukup mewakili, salah satu yang paling saya sukai adalah postingan Kak Bzee dari Divisi Dana dan Usaha. Itu lho, divisi yang sering buat kalender sama mug kemudian sering nagihin utang abis tanggal gajian. *ditimpuk Kak Alvina*

Mengenai awal mula masuk BBI, saya tidak punya kisah manis seperti member lain. Sederhana saja, saya resmi menjadi member sekitar tahun 2013. Waktu itu saya anak perempuan yang patah hati karena banyak hal, dan kemudian seorang member BBI bernama Biru Cahya mengajak saya ngeblog buku. Waktu itu Biru sedang aktif-aktifnya, kemudian malah saya jadi polisi blog bukunya. Tukang bawel kalau beliau itu nggak kunjung update blog. Sungguh dunia yang lucu :))

Kembali ke topik. Karena sedang patah hati dan tidak bersemangat melakukan apa pun, akhirnya iseng saya mencoba buat blog buku dan mendaftarkannya ke BBI. Ternyata diterima. Sejak itu saya resmi menjadi anggota BBI. Sebelum di BBI, saya suka membaca tapi hampir tidak pernah menuliskan ulasan buku yang saya baca. Hanya sepatah dua patah kata di Goodreads. Tapi semenjak di BBI, saya bertemu banyak teman-teman baru yang seringnya bagus-bagus dalam menulis review buku dan itu cukup memotivasi juga.

Continue reading

Ketemu dan Ngobrol Santai dengan Eriko Ono Sensei, Komikus Hai Miiko!

Hari Minggu kemarin (26/3), saya mampir ke Gramedia Matraman karena diundang pihak Penerbit M&C! ke acara Meet & Greet with Eriko Ono Sensei. Buat kamu yang besar di tahun 1990-an dan 2000-an awal, pasti nggak asing dengan penerbit satu ini. Dulu waktu zaman saya (berasa tua banget sekarang), baca komik termasuk salah satu rutinitas harian yang menyenangkan, di antara apa-apa yang bikin mumet kepala (sok mumet, padahal cuma ulangan dan ngerjain PR tiap hari). Selain Elex Media yang komiknya rata-rata komik cowok, ada juga M&C! yang menerbitkan komik-komik dan sama-sama sepayung dengan Kompas Gramedia.

Salah satu komik yang mulai terbit sejak tahun 2002 silam adalah Hai Miiko. Awalnya Miiko diterbitkan di Jepang oleh sebuah penerbit besar bernama Shogakukan, tapi kemudian diterbitkan oleh M&C! dan dijual di Indonesia. Sebenarnya cerita Miiko ini sederhana banget, tentang seorang anak kelas 5 SD bernama Miiko Yamada dalam kesehariannya bersama keluarga dan kawan sekolahnya. Miiko seringkali minder karena tubuhnya lebih pendek dari anak seumuran, dan tak jarang dikira siswi kelas 2 SD! Ono Sensei juga kerap kali mendapat inspirasi dari kesehariannya. Beliau selalu berusaha mendekatkan pemikirannya dengan pikiran anak-anak, untuk bisa membuat cerita Miiko. Bahkan salah satu cerita dari komik terbaru Miiko, terinspirasi dari anak beliau sendiri.

Di Indonesia khususnya, ternyata penggemar Miiko sudah banyak –dan tidak hanya dari kalangan perempuan. Laki-laki juga ada yang suka baca Miiko, dan ketika Ono Sensei diberitahukan tentang ini di lokasi kemarin, dia tersenyum lebar dan mengatakan bahwa tidak menyangka Miiko begitu memikat di Indonesia. Ia mengatakan bahwa ia sangat menyayangi para pembacanya di Indonesia dan berharap Miiko akan selalu berjaya di hati para pembaca Indonesia. Selain itu, konon katanya pembaca Miiko di luar Jepang itu yang paling banyak memang di Indonesia sini. Terbukti sih dari keriuhan acara Meet & Greet yang digelar 2 hari berturut-turut di 3 tempat di Jakarta kemarin. Aulanya penuh, dan peserta bersorak gembira ketika Ono Sensi muncul dari belakang panggung.

Continue reading

Perkembangan Literasi di Kota Kecil

Photo credit: dok. pribadi

Photo credit: dok. pribadi

Dua minggu yang lalu ketika saya main ke Malang, saya sempat mampir ke tempat yang namanya Kafe Pustaka. Kafe Pustaka ini berada di dalam kampus Universitas Negeri Malang, tepatnya di samping gedung Fakultas Ekonomi. Tempatnya tidak terlalu besar, tapi cukup lega, kok. Ada beberapa meja dan kursi di dalam ruangan, sisanya di outdoor. Sehari-harinya buka hingga jam 8 malam dan bisa ditebak, bahwa sebagian besar pengunjungnya adalah mahasiswa. Dari segi harga makanan dan minuman, kamu akan maklum dua kali. Harganya super murah, pertama mungkin karena ini lingkungan kampus, keduak adalah karena ini Malang –bukan Jakarta. Alih-alih memasang harga yang lumayan, mereka malah memasang harga yang menurut standar saya sangat murah dengan makanan-minuman-kondisi kafe seperti itu.

Oke, lanjut. Di sana saya melihat tiga rak buku pada pojok kafe. Saya tanyakan pada Kak Ayu –seorang kawan bloger Malang, yang mengajak saya singgah ke sana, “apa buku-buku itu dijual?”

“Hanya rak ketiga, dua lainnya boleh dipinjam.” Jawab Kak Ayu dengan yakin, sebab beliau sudah sering main ke Kafe Pustaka, bahkan beberapa kali mengadakan acara di sana. Iseng, saya membuka penutup lensa kamera dan mengambil beberapa gambar. Saya sedang melihat ke sekeliling dan mendapati beberapa mahasiswa asyik dengan diktat kuliah dan tugas mereka.

Akhirnya terlintas di benak saya untuk bertanya, bagaimana kabar perkembangan literasi di kota seperti Malang?

Kak Ayu diam sebentar, kemudian tertawa kecil. Tidak ada perkembangan yang cukup pesat, katanya.  Kemudian dari  sanalah obrolan kami berlanjut. Dari sana pula saya tahu bahwa malang punya komunitas lokal di antaranya Klub Buku Malang, Blogger Malang, dan Pelangi Sastra Malang. Saya tanyakan lagi, apakah Malang seaktif Surabaya dalam hal literasi? Sebab dari yang saya tahu, anak bloger buku di Surabaya sering mengadakan meet up dan melakukan hal-hal kecil seperti tukar kado, dan sebagainya. Kak Ayu menggeleng pelan, dan ternyata di Malang sendiri nyaris tidak ada kegiatan. Menurut Kak Ayu, anak-anak Klub Buku Malang sepertinya sudah sibuk dengan kehidupan pribadi mereka, sehingga sudah tidak pernah lagi ikut mengurus kegiatan komunitas. Serba salahnya, ketika diadakan acara pun, tidak terlalu banyak audiens yang hadir.

Ini benar-benar sesuatu yang serba salah, saya sadar itu. Selain pengurusnya yang kurang, minat audiens untuk hadir pun kurang. Yang pasti, tingkat minat warganya untuk hadir di acara literasi tidak setinggi di Jakarta atau Bandung –di mana seringkali seat habis sebelum hari H. Kemudian saya berpikir lagi, apa yang salah dari semua ini? Dan bukan tidak mungkin di puluhan kota kecil lain, terjadi hal yang serupa. Tidak ada semangat untuk membaca dan berkomunitas. Meski memang, berkumpul dan berkomunitas adalah hak seseorang –bukan kewajiban. Tapi sebagai anak komunitas saya selalu merasa ini sayang banget.

Tapi Malang masih punya satu harapan, kata Kak Ayu lagi, yaitu Pelangi Sastra Malang. Biasanya komunitas ini lebih banyak membahas perkembangan sastra dan agak sedikit lebih berat bahasannya ketimbang Klub Buku Malang. Mungkin audiens-nya tidak sebanyak yang bisa saya bayangkan, tapi kegiatan mereka tidak stuck di tengah jalan, dan tetap ada hingga saat ini. Bisa dibilang, base camp-nya adalah Kafe Pustaka sendiri, sebab salah satu penggiatnya adalah pemilik Kafe Pustaka.

Photo Credit: BBC UK

Photo Credit: BBC UK

Kemudian saya jadi semangat lagi. Saya ingat berita yang saya baca di BBC mengenai Emma Watson, si cantik yang kini jadi duta PBB itu. Ia menyembunyikan buku Maya Angelou di stasiun kereta London dan mengirimkan pesan cinta, bahwa kepada siapa pun yang menemukan, boleh membaca buku tersebut atau meneruskannya kepada yang lain. Saya pikir ini gaya baru untuk meningkatkan minat baca orang-orang. Hanya saja, yang menjadi pertimbangan lainnya, apakah cara ini sudah efektif jika dilakukan di Indonesia –terlebih di kota-kota kecil?

Sebenarnya di luar negeri sudah banyak sekali cara-cara unik untuk meningkatkan minat baca. Salah satu hal keren lainnya adalah dengan mendirikan perpustakaan mini serupa kotak pos di depan pagar rumah. Siapa saja yang ingin meminjam, boleh mengambil sendiri bukunya, kemudian mengembalikan lagi setelah selesai dibaca. Pernah saya dan kawan-kawan saya sesama bloger membahas ini, kemudian salah satunya nyeletuk, “wah, Mput, kalau di Indonesia jangan begitu, bahaya! Bisa-bisa hilang sama kotak-kotaknya!” Kami terbahak, tapi mungkin itu benar adanya. Masyarakat kita belum bisa sepenuhnya mengambil dan meletakkan sesuatu dengan jujur sesuai porsinya, sesuai hak mereka. Sayang banget semua ide bagus harus kandas oleh alasan-alasan sederhana.

Seorang kawan juga sudah mencoba cara Emma Watson di kotanya, namun tidak ada perkembangan yang baik. Rata-rata buku yang disebar tidak ada kabar lagi, tak tahu ke mana rimbanya. Entah diteruskan atau tidak kepada orang lain setelah selesai dibaca, entah dibaca atau diloakin, juga tidak ada yang tahu.

Sebenarnya, setelah berkaca dari perkembangan literasi di kota kecil, saya tergelitik ingin memulai sesuatu di sana. Entah apa, saya juga belum tahu. Tapi saya orangnya selalu begitu, selalu ingin memulai sesuatu untuk menggerakan literasi yang mandek dan kayaknya sayang jika dibiarkan begitu saja. Tapi apa daya, saat ini saya bukan warga kota mereka, hahaha. Dan setelah beberapa hari, tentu saya akhirnya pulang ke kota saya sendiri. Kembali pada keramaian, kepada antusiasme acara literasi, kepada keseharian.

Kadang-kadang saya merasa senang berada di kota besar walau menurut saya ramainya sangat overload. Ada sisi positifnya: acara literasi ramai dilakukan di mana-mana, banyak yang datang, dan selalu seru. Saya berharap, nantinya ini bisa merata di seluruh kota –di luar Jakarta dan Bandung, tentunya. Semoga saja. 🙂

Desember: Main ke #IRF2016, Buat Fanpage Blog, dan Bergabung dengan BookTube Indonesia

Di awal Desember yang ceria namun sedikit mendung dan sering hujan ini, saya menemukan bahwa progress membaca saya di Goodreads tidak terlalu baik. Hingga hari ini, baru 39 buku yang saya baca, dari total 60 buku yang saya rencanakan di bulan Januari lalu. Saya lihat, beberapa teman juga merasakan hal yang sama, merasa tidak membaca sebanyak tahun lalu. Agak bahaya, sih. Soalnya bloger buku seharusnya membaca justru lebih banyak ketimbang yang bukan. Tapi bloger buku juga manusia; bisa malas dan kehabisan waktu, hahaha. So, update terbaru untuk bulan Desember ini akhirnya hanya dua:

  1. Main ke Festival Pembaca Indonesia atau Indonesia Readers Festival, atau yang dikenal juga sebagai #IRF2016, dan
  2. Akhirnya punya kesempatan untuk bergabung dengan BookTube Indonesia!

Awalnya, saya tidak ingin ke IRF berturut-turut selama dua hari, sebab saya pikir sehari saja cukup dan workshop yang saya ikuti adanya di hari Sabtu saja. Hari pertama saya membawa 15 buku untuk ditukarkan di meja bookswap, dan hari pertama ini memang menggiurkan sekali. Buku-buku di meja swap sedang bagus-bagusnya. Membuat saya tidak menyesal mengangkat 15 buku jauh-jauh ke Museum Nasional. Saya banyak mendapatkan buku-buku Bahasa Inggris, terutama penulis India. Kalau tidak salah ada tiga buku dari penulis India. Sisanya penulis Amerika Latin, dan tentu ada penulis lokal, bahkan kumpulan tulisan mengenai LGBT yang ditulis dari hasil kolaborasi penulis-penulis terkenal di Indonesia.

Continue reading

Ngobrolin Ritus Khayali bersama Bacaisme, Malam Puisi Jakarta, Ganding Pustaka, dan Post Santa!

Semenjak Bacaisme dibentuk, belum pernah kami membuat acara offline yang berhubungan dengan buku. Bacaisme sendiri adalah sebuah kelompok baca, terdiri dari beberapa anak muda yang suka membaca dan bahas buku. Selama sebelum ada nama Bacaisme, kami hanya membahas buku-buku yang kami baca via grup Whatsapp. Akhirnya pada hari Sabtu, 15 Oktober 2016 kemarin, saya dan tim Bacaisme memutuskan untuk bekerja sama dengan Post Santa, Malam Puisi Jakarta, serta Penerbit Ganding Pustaka.

Acara itu pada dasarnya hanya sebuah obrolan ringan mengenai buku dari seorang kawan anggota Malam Puisi Jakarta yang baru saja diterbitkan. Buku puisi bertajuk Ritus Khayali itu kami bahas dalam waktu kurang lebih satu setengah jam. Bukan waktu yang lama-lama banget, tapi cukup padat untuk mengulas dan menceritakan behind the scene dari buku ini. Lucunya, Bang Edoy –penulisnya, mencatat semua puisinya di ponsel. Bahkan ponsel tersebut pernah hilang, tapi akhirnya (dan entah kenapa) dikembalikan oleh pencurinya melalui pos. Sejak itu, beliau berpikir bahwa akan sangat keterlaluan jika puisi-puisi itu tak diterbitkan –sedangkan dengan cara-cara yang unik, puisi itu selalu kembali kepada si empunya.

Continue reading

Baca Bareng #Bacaisme September 2016

Ikutan? 🙂

Bacaisme

books-education-school-literature-48126 (1) Jangan lupa sertakan banner baca bareng dalam review yang kamu posting, ya

Setelah lama nggak kedengaran, sebab admin-adminnya sibuk entah ke mana, Bacaisme kali ini datang lagi! Yeay. Seperti biasa, akan ada tema baca bareng untuk bulan September. Baca bareng kali ini bertema…

Kasih tak sampai

Menohok. Apa yang kalian bayangkan jika mendengar tiga kata singkat itu? Siti Nurbaya? Romeo and Juliet? Atau Di Bawah Lindungan Ka’bah? Atau kisah roman-roman sejenis lainnya. Tapi sebenarnya di dalam sebuah cerita, biasanya pasti ada tokoh yang kisah kasihnya tak kesampaian, kok. Misalnya tokoh utama A dan tokoh utama B saling jatuh cinta, kemudian tokoh antagonis C mencoba memisahkan mereka. Pada akhirnya A dan B bersatu, tentu bisa dikatakan bahwa cinta C pada B tak kesampaian. Nah, bulan ini Bacaisme mengajak kalian menilik dan mengulik tokoh-tokoh yang kisah kasihnya tak kesampaian -entah oleh sebab apa. Siap baca bareng? Berikut ketentuannya!

View original post 295 more words

Memandang Perempuan dari Mata Angela Carter dan Intan Paramaditha

Tempo hari, saya menghadiri sebuah diskusi di Post –toko buku yang lumayan ternama di daerah Pasar Santa, Kebayoran Baru itu. Kebetulan, hari itu tema diskusinya adalah kritik sastra. Sebagai penulis ulasan, saya pikir tak ada salahnya saya juga ikut serta. Pagi itu kami membahas sebuah cerita pendek berjudul The Snow Child yang ditulis Angela Carter, yang termasuk ke dalam buku The Bloody Chamber (pg. 91-92).

Cerita itu kurang lebih 500 kata saja, tidak banyak, dan dalam bahasa Inggris –bahasa aslinya. Kami diminta membaca cerita itu masing-masing, kira-kira dua hingga tiga kali sebelum berdiskusi. Hal pertama yang ditanyakan mentornya adalah apa memori, simbol, dan pola dalam cerita tersebut? Banyak dari kami menjawab dongeng Snow White, dan memang benar adanya. Tapi The Snow Child adalah versi lebih kelamnya. Saya tidak akan mencantumkan ceritanya di sini, sebab lebih baik dibaca dan diresapi sendiri oleh kalian.

Setelah selesai membahas The Snow Child selama dua jam lebih kurang, kami beralih pada satu cerita lokal, cerita pendek berjudul Goyang Penasaran karya Intan Paramaditha. Cerpen ini ada di dalam buku Kumpulan Budak Setan yang ditulis Intan bersama Eka Kurniawan, sebagai tribut kepada Abdullah Harahap.

Hal yang ingin saya bandingkan di sini adalah bagaimana cara Angela Carter dan Intan Paramaditha menggambarkan seorang perempuan sebagai tokoh cerita mereka. Dalam The Snow Child, anak perempuan sang bangsawan adalah seorang yang digambarkan cantik, suci, dan tak bernoda. Ini terbukti dari line berbunyi, “I wish I had a girl as white as snow. I wish I had a girl as red as blood. I wish I had a girl as black as that bird’s feather.” Dan kemudian beliau mendapatkan seorang anak perempuan berkulit putih, berbibir merah, dan berambut hitam tengah telanjang. Anak itu kemudian dibawa pulang, walau Nyonya Bangsawan tak menyukainya –di sini aura The Snow White terasa, sebab Snow White juga punya ibu tiri yang tidak menyukainya, bedanya ini mungkin lebih ke ibu angkat.

Continue reading