Sebuah Pengakuan Tentang BBI dan Ucapan Selamat Ulang Tahun

Sebenarnya saya belum menuliskan apa-apa seharian kemarin mengenai ulang tahun BBI, tapi akhirnya saya memutuskan menulis dan ikut menyuarakan apa yang saya rasa setelah membaca beberapa postingan member BBI –baik pengurus maupun member lainnya. Beberapa postingan saya pikir bagus dan cukup mewakili, salah satu yang paling saya sukai adalah postingan Kak Bzee dari Divisi Dana dan Usaha. Itu lho, divisi yang sering buat kalender sama mug kemudian sering nagihin utang abis tanggal gajian. *ditimpuk Kak Alvina*

Mengenai awal mula masuk BBI, saya tidak punya kisah manis seperti member lain. Sederhana saja, saya resmi menjadi member sekitar tahun 2013. Waktu itu saya anak perempuan yang patah hati karena banyak hal, dan kemudian seorang member BBI bernama Biru Cahya mengajak saya ngeblog buku. Waktu itu Biru sedang aktif-aktifnya, kemudian malah saya jadi polisi blog bukunya. Tukang bawel kalau beliau itu nggak kunjung update blog. Sungguh dunia yang lucu :))

Kembali ke topik. Karena sedang patah hati dan tidak bersemangat melakukan apa pun, akhirnya iseng saya mencoba buat blog buku dan mendaftarkannya ke BBI. Ternyata diterima. Sejak itu saya resmi menjadi anggota BBI. Sebelum di BBI, saya suka membaca tapi hampir tidak pernah menuliskan ulasan buku yang saya baca. Hanya sepatah dua patah kata di Goodreads. Tapi semenjak di BBI, saya bertemu banyak teman-teman baru yang seringnya bagus-bagus dalam menulis review buku dan itu cukup memotivasi juga.

Misalnya seperti Mbak Yuska, yang kemudian mengajak saya bergabung ke dalam kelompok baca yang lebih kecil bernama Reight Book Club. Di sana saya belajar menuliskan ulasan buku dengan lebih kritis, lebih mendalam. Dan saya seringkali puas karenanya. Saya bisa menuliskan unek-unek saya lebih lengkap. Ya, intinya BBI memberikan saya banyak pengalaman baru. 2013 sebetulnya adalah tahun terburuk dalam hidup saya, dan BBI kemudian menjadikannya lebih baik.

Dan dari mana enaknya postingan ini dimulai? Efek intronya kepanjangan. Well, mungkin ada baiknya postingan ini dipisah menjadi dua bagian; curhatan saya dari sisi member, dan curhatan saya dari sisi salah satu pengurus.

Sebagai member

Blogger Buku Indonesia merupakan salah satu komunitas yang besar –semua orang tahu itu. Tapi kembali lagi kepada satu hal: apa sebenarnya tujuan seseorang bergabung dengan BBI. Karena ingin serius dalam ngeblog buku, itu pasti. Walau menurut saya, yang tidak kalah penting adalah menjalin keakraban dengan sesama member dan tentu ingin tulisan kita tersebar dan dibaca orang.

Salah satu wadah yang dapat ‘diandalkan’ dalam hal ini adalah fitur RT postingan di official Twitter account BBI. Awal saya bergabung, Twitter BBI cukup aktif, bahkan sangat aktif. Postingan saya kerap kali di-RT. Tapi kelamaan durasinya semakin jarang, bahkan sekarang hanya muncul tiap kali ada event tertentu saja.

Mungkin sebagian orang akan ngedumbel, duh si mput nggak penting banget. Namanya aja komunitas blogger buku, ya harusnya di blog dong. Ngapain juga Twitter, nggak nyambung!

Ehem, gimana ya. Sebab sebagai bocahe generasi digital, menurut saya apa yang saya tuliskan di blog akan lebih besar peluangnya untuk dibaca orang lain jika saya menyebarkannya juga di media sosial –apa pun bentuknya, tidak hanya Twitter. Twitter kan hanya salah satu wadah, dan kebetulan saja akun Twitter BBI termasuk akun yang ramai pengikutnya. Jadi sayang banget kalau dianggurin, padahal member terutama member baru yang mungkin blognya juga masih fresh from oven bisa mendapatkan lebih banyak impression dan page views kalau seandainya Twitter BBI rajin RT postingan mereka untuk kemudian dibaca orang banyak.

Ya ibaratnya, kalau menurut pandangan saya (setelah memposisikan diri) dari sisi member jelata, apa sih keuntungan yang bisa saya dapatkan ketika menjadi anggota BBI? Apa teman saya bertambah? Apa pengalaman saya bertambah? Atau saya bisa mempromosikan postingan saya juga kepada member lain lewat Twitter BBI?

Unek-unek lainnya, menurut saya BBI kadang terlalu banyak aturan mengikat. Beberapa teman saya sempat urung untuk mendaftarkan diri ke BBI sebab harus membuat blog buku selain blog pribadi yang sudah ada. Ini berkaitan dengan syarat utama bergabung di BBI, sih. Tidak semua orang sanggup mengurus blog lebih dari satu dan kerap merasa sayang membuat blog kedua –sebab takutnya terbangkalai begitu saja selang beberapa bulan.

Beberapa peraturan lama sudah diperbaharui oleh Divisi Membership, termasuk tenggat tidak aktif ngeblog. Saya tahu itu, juga tahu bahwa segalanya butuh pertimbangan, dan semoga saja ke depannya bisa lebih baik lagi dan sama-sama mendamaikan hati baik bagi pengurus maupun member dan calon member.

Sebagai pengurus

Saya mengenal beberapa kawan yang kemudian menjadi kawan dekat dari BBI. Salah satunya adalah Zelie yang kemudian mengajak saya gabung di kepengurusan BBI sebagai anggota Divisi Event. Awalnya saya setuju bergabung sebab saya ingin menjadi bagian dari orang-orang yang menciptakan kegiatan-kegiatan seru bagi orang lain. Rasanya akan senang sekali bisa menjadi salah satu panitia tiap kali ada event dari BBI (kecuali IRF, sebab tiap tahun saya memang menyatakan tidak ikut dalam kepanitiaan. Lebih suka jadi pengunjung. Hehe).

Tapi semakin lama saya juga sadar bahwa kinerja salah satu divisi baru bisa stabil jika didukung dengan seimbang oleh divisi lainnya. Dalam kepengurusan BBI hingga hari ini, rasanya memang sudah banyak kakak pengurus yang mulai sibuk dengan kehidupan masing-masing, sebagiannya mungkin sudah mulai merasa lelah. Benar kata Kak Bzee, pengurus lama mungkin menggeggam dan memeluk BBI terlalu erat, hingga tak ada celah bagi member-member baru untuk menjadi pengurus. Beberapa kali ada wacana ingin regenerasi tapi sampai hari ini belum ada progress-nya.

Dan member baru pun mungkin bukan tak ingin bergabung, tapi karena kapasitas kedekatan mereka dengan BBI tidak selekat member lama yang sudah bertahun-tahun menjadi pengurus.

Pun, saya setuju dengan usul Nina bahwa barangkali BBI harus regenerasi besar-besaran. Bagaimana pun, yang muda kadang memiliki ide lebih warna-warni. Bukan maksud saya mengecilkan sebelah pihak yang lain ataupun pengurus yang ada –atau pun teman divisi saya sendiri. Tapi saya memang berpikir bahwa isi kepala anak muda masih meletup-letup, banyak ide gila yang mungkin bisa diterapkan dalam kegiatan internal BBI. Regenerasi secara singkat bertujuan untuk mengganti suasana di dalam kepengurusan agar lebih fresh sih, in my opinion.

Terus, sebagai pengurus juga kadang saya penasaran, apa tujuan orang bergabung dengan BBI? Sejujurnya ada kok yang mengatakan karena ingin tulisannya dibaca lebih banyak orang, dan bagi mereka di-RT Twitter BBI itu sangat penting. Atau hanya karena ingin mendapatkan buntelan buku gratis? Tetapi, ada juga kawan saya yang berencana gabung hanya karena tergoda oleh ‘nomor tahanan’ –sesuatu yang khas dari Blogger Buku Indonesia. Katanya, kok kelihatan keren kalau di deskripsi profil media sosial ada nomor BBI-nya. Kesannya ekslusif.

Kemudian, harus saya akui juga bahwa BBI itu sendiri memang dianggap lebih ekslusif dalam dunia literasi. Saya merasa, bergabung sebagai pengurus BBI kadang memberikan saya kemudahan. Ketika saya harus nego dengan sebuah pihak untuk acara literasi, kadang saya merasa pihak luar lebih respek ketika tahu bahwa saya member bahkan pengurus internal BBI. Titel sebagai pengurus BBI sepertinya juga merupakan salah satu hal keren dalam hidup ini. Hihi.

Bergandengan dengan komunitas lain yang sejenis

Hal ini sudah saya pikirkan sejak tahun lalu. Mungkin memang BBI harus menggandeng komunitas lain ketika ada kegiatan literasi di Jakarta, maupun di beberapa kota lain selama ada member yang tak keberatan untuk mengurusinya.

Sebuah kolaborasi bisa menjadi kunci untuk peluang yang lebih besar nantinya. Bagaimana pun saya juga percaya hal ini akan memberikan efek yang bagus untuk BBI, meski entah kapan bisa dieksekusi.

Selamat ulang tahun untuk BBI 🙂

Meski sekian banyak intrik dan dilema yang terjadi di dalam pengurus, saya rasa saya tetap mencintai BBI, berharap BBI bisa menjadi semakin sukses di ulang tahunnya yang ke-6 ini, dan tentu semakin jaya ke depannya.

Tetap solid untuk BBI secara keseluruhan –member dan pengurus. Sebab BBI tidak bisa berdiri secara timpang. Selain pengurus tiap divisinya, BBI pasti juga membutuhkan member untuk menjaga segala yang telah dibangun dari nol sejak 6 tahun lalu. Demikian.

Advertisements

8 thoughts on “Sebuah Pengakuan Tentang BBI dan Ucapan Selamat Ulang Tahun

  1. Wah, ada namaku disebut2. Soal aturan, aku pribadi setuju untuk tetap ketat, soalnya kalau sekali dilonggarkan, bisa2 ga terkontrol. Yang tadinya janji 80:20 untuk buku misalnya, tiba2 suatu saat jadi 50:50 dengan nonbuku kan jadi ga seimbang. Ada komunitas blogger klasik yg aku ikuti juga gitu, mensyaratkan target tertentu, kalau mau di bawah target itu ya ga usah gabung, tapi boleh kok ikut2 diskusi dan partisipasi event tertentu. Nah, mungkin salah satu yg berat dari regenerasi di situ, takut aturan awal yg dianggap pokok justru dilonggarkan karena kepentingan di luar BBI.
    Maaf ya jadi meracau di sini.. Semangat ya, Mput, entah gimana semoga BBI selalu berkembang lebih baik.

    • Iya. Karena ada banyak kepala jadi ada banyak pendapat. Kalau menurut awam yang bukan member, sebenernya aturan internal kita dinilai terlalu ketat. Katanya begitu, sih. Tapi untuk blog aja, kan. Sedangkan di grup kita masih bebas. Aku bahkan join grup komunitas yang aturannya militer. Hahaha. Ya ampun jadi curhat. Bye.

  2. Halo, Mput 🙂 Salam kenal ya, aku Ratih, generasi tua juga 😀.

    Habis baca postinganmu jadi mikir, ternyata anggota dan pengurus punya kegelisahan yg hampir sama ya. Soal admin Twitter yg udah jarang aktif nge-RT juga jadi sorotanku. Kalo soal regenerasi pengurus, wah aku ga ikutan deh. Hehehe. Tapi emang Bzee gelisah bener soal ini.

  3. Ide untuk regenerasi sdh muncul di tahun kedua kepengurusan. Hanya saja waktu itu, ketika diadakan rekrutmen, yg mendaftar sedikit. Dari sedikit itu yg berkomitmen untuk tetap aktif di kepengurusan lebih sedikit lagi. Ini sempat saya rasakan di Divisi Riset. Hingga akhirnya ide regenerasi itu menguap.

    Saya setuju pergantian pengurus perlu dan mendesak untuk diadakan. Mungkin Mput, sebagai salah satu pengurus, bisa mengusulkan di forum pengurus.

    • Ahaha, sudah dibicarakan kemarin mbak, sepertinya sebagian besarnya juga berpikiran sama. Kita lihat saja nanti ke depannya 🙂 apa pun keputusannya semoga membawa BBI ke arah yang lebih baik. Hehe.

  4. Mput termasuk pengurus yang bergabung dalam perekrutan pengurus baru kan? Liatlah pengurus yang bergabung bareng mput waktu itu, berapa yang masih aktif di kepengurusan?

    Mungkin ini sih yang bikin pengurus lama jadi males bikin perekrutan lagi (mungkin lhoo). Aku malah tahu salah satu ketua divisi yang ampe trauma untuk rekrut pengurus baru di divisinya karena tiap dia rekrut, sang rekrutan baru cuma aktif beberapa bulan lalu ngilang tanpa jejak 😂

    Tapi ucapanmu benar sih. Regenerasi itu sangat perlu. Mestinya satu kegagalan gak bikin kita kapok ya.
    Yuk…kita bikin regenerasi dan reformasi. Revolusi kalo perlu. (halah)

    • Sejujurnya aku gak hapal semua sih, siapa aja yang keterima bareng aku. Hahaha. *dicubit* Komen mbakdew penutupnya udah kayak lagi kampanye. Sekian dan pilih Dewi, demi kemajuan Bekasi~ *disambit*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s