Sebuah Pengakuan Tentang BBI dan Ucapan Selamat Ulang Tahun

Sebenarnya saya belum menuliskan apa-apa seharian kemarin mengenai ulang tahun BBI, tapi akhirnya saya memutuskan menulis dan ikut menyuarakan apa yang saya rasa setelah membaca beberapa postingan member BBI –baik pengurus maupun member lainnya. Beberapa postingan saya pikir bagus dan cukup mewakili, salah satu yang paling saya sukai adalah postingan Kak Bzee dari Divisi Dana dan Usaha. Itu lho, divisi yang sering buat kalender sama mug kemudian sering nagihin utang abis tanggal gajian. *ditimpuk Kak Alvina*

Mengenai awal mula masuk BBI, saya tidak punya kisah manis seperti member lain. Sederhana saja, saya resmi menjadi member sekitar tahun 2013. Waktu itu saya anak perempuan yang patah hati karena banyak hal, dan kemudian seorang member BBI bernama Biru Cahya mengajak saya ngeblog buku. Waktu itu Biru sedang aktif-aktifnya, kemudian malah saya jadi polisi blog bukunya. Tukang bawel kalau beliau itu nggak kunjung update blog. Sungguh dunia yang lucu :))

Kembali ke topik. Karena sedang patah hati dan tidak bersemangat melakukan apa pun, akhirnya iseng saya mencoba buat blog buku dan mendaftarkannya ke BBI. Ternyata diterima. Sejak itu saya resmi menjadi anggota BBI. Sebelum di BBI, saya suka membaca tapi hampir tidak pernah menuliskan ulasan buku yang saya baca. Hanya sepatah dua patah kata di Goodreads. Tapi semenjak di BBI, saya bertemu banyak teman-teman baru yang seringnya bagus-bagus dalam menulis review buku dan itu cukup memotivasi juga.

Continue reading

Advertisements

Review: Lalita – Ayu Utami

Photo Credit: Dunia Buku

Judul: Lalita
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: Penerbit KPG
Tahun Terbit: September 2012 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp 50.000,-
Jumlah halaman: 256 hal.
ISBN: 9789799104939

*

Blurb:

Lalita menerima sejilid kertas tua berisi bagan-bagan mandala, dan sejak itu setiap hari pengetahuannya tentang sang kakek bertambah. Setiap kali pengetahuan itu bertambah banyak, setiap kali pula sang kakek bertambah muda dalam penglihatannya. Pada suatu titik ia bisa sepenuhnya melihat seorang remaja berumur tiga belas tahun, yang berdiri lurus kaku dan kepala sedikit miring seolah melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

Apa hubungan semua itu dengan Candi Borobudur? itu akan menjadi petualangan Yuda, Marja, dan Parang Jati.

*

Review:

Agak lama jarak dari membaca Manjali dan Cakrabirawa sampai dengan membaca Lalita ini, sih. Ya, adalah beberapa bulan. Jadi setelah sejenak lupa dengan Sandi Yuda – Marja Manjali – Parang Jati, akhirnya ‘diingatkan’ dan ditarik lagi ke dalam kisah hidup ketiganya. Buku ini sejatinya masih kelanjutan dari Manjali dan Cakrabirawa. Jadi karena perseteruan Yuda dan Jati -serta kepergian Jati ke Jawa Timur dengan membawa serta Marja, hubungan mereka pun merenggang.

Sandi Yuda sendirian. Tapi kemudian ia bertemu seorang wanita 40-an bernama Lalita Vistara, seorang kurator dan pemilik galeri, perempuan kaya raya yang identik dengan warna Indigo. Perempuan itu misterius, namun awalnya Yuda tak tertarik. Tapi kemudian karena sebuah insiden di mana Yuda menyelamatkan hidupnya, Lalita pun mengundang Yuda masuk ke dalam kehidupannya yang kelam, menyusuri jejak masa lalu keluarganya yang keturunan Drakula.

Continue reading