Review: Imaji Terindah – Sitta Karina

Judul: Imaji Terindah
Penulis: Sitta Karina
Penerbit: Literati
Tahun Terbit: Desember 2016 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp 69.000,-
Jumlah halaman: 290 hal.
ISBN: 9786028740609

*

Blurb:

“Jangan jatuh cinta kalau nggak berani sakit hati.”

Tertantang  ucapan  putra rekan  bisnis  keluarganya pada sebuah jamuan  makan  malam, Chris Hanafiah memulai permainan untuk memastikan dirinya tidak seperti yang pemuda itu katakan.

Dan Kianti Srihadi—Aki—adalah  sosok  ceria  yang  tepat untuk proyek kecilnya ini.

Saat Chris yakin semua akan berjalan sesuai rencana,  kejutan  demi  kejutan, termasuk rahasia Aki, menyapanya. Membuat hari-hari Chris tak lagi sama hingga  menghadapkannya pada sesuatu yang paling  tidak  ia antisipasi selama ini, yakni perasaannya sendiri.

*

Review:

Honestly, ini pertama kalinya membaca seri Hanafiah-nya Sitta Karina, sebab sebelumnya baca Aerial –itu juga udah beberapa tahun yang lalu. Salah satu alasan saya nggak baca cerita-cerita bergenre teenlit lagi belakangan ini sebab kelamaan rasanya teenlit isn’t my cup of tea, really no. Mungkin juga efek sugesti dalam kepala bahwa teenlit identik dengan cerita menye-menye. Tapi hari ini, barusan saja, Sitta Karina mengubah persepsi dalam kepala saya. Well, sebelum lebih lanjut, selewat tentang Imaji Terindah dulu, ya.

Imaji Terindah berkisah mengenai tentang Chris Hanafiah –seorang putra keluarga Hanafiah Group yang terkenal dan kaya raya, pemilik sepertiga wilayah Indonesia. Chris dibesarkan dalam keluarga yang berada, serba mewah, berkelimpahan harta, dan tak pernah kesulitan mendapatkan apa pun termasuk perempuan di usianya yang masih remaja. Semua perempuan di sekolah ingin menjadi gadisnya, mereka memanggilnya Prince Christopher. Hingga suatu kali, ada seorang gadis Jepang bernama Kianti –yang sebenarnya dipanggil Aki oleh orang terdekatnya, muncul di sekolah. Kali pertama, Christ tertawan. Ia merasa sosok Aki menarik. Perempuan ini kemudian kerap dipanggilnya Hime —princess, yang kemudian sudah berkali-kali pula dimintanya menjadi pacar, tapi Aki selalu menolak. Aki ingin mereka bersahabat untuk alasan yang tidak pernah Christ ketahui.

Tapi dengan kemunculan Aki ini pula kemudian hidup Christ berubah drastis. Meski harus melewati pertengkaran dan perselisihan bahkan dengan sahabatnya sendiri, tapi Chris mendapatkan banyak hal baik bersama Aki. Seolah gadis itu mengajarinya menjadi anak remaja dengan hati yang lebih manusia –berbeda dengan lelaki-lelaki Hanafiah yang kerap berganti perempuan, dan tak pernah ambil pusing dengan itu. Chris menyayangi Aki, dan berniat untuk terus menemani gadis itu selamanya –terlebih setelah tahu bahwa Aki mengidap sebuah penyakit. Tapi, seseorang selalu muncul di antara mereka, namanya Kei –karib Aki dari Jepang. Kei jauh, tapi bahkan bisa dengan mudah membangun mimpi buruk dalam kepala Chris!

Percayalah, kelanjutannya lebih seru daripada yang bisa kalian duga. Terlebih jika kalian pembaca serial Hanafiah dalam kasta newbie macam saya. Hehe.

Bagian ini yang saya tunggu-tunggu, bagian di mana saya bisa mengomentari seisi novel ini tanpa membahas isi ceritanya. Untuk kategori sebuah novel remaja, saya bisa mengatakan bahwa Sitta Karina menulisnya dengan elegan. Bukan, bukan sebab klan Hanafiah ini adalah orang tajir melintir yang hartanya nggak habis-habis, tapi sungguh penulisannya, diksinya, rapi sekali. Jauh dari teenlit yang pernah saya baca atau jenis teenlit yang pernah beberapa kali memusingkan kepala saya. Sitta Karina sama sekali tidak menuliskan background seorang prince charming muda kaya raya dengan deskripsi yang norak dan berlebihan. Banyak istilah Jepang juga dalam buku ini, tapi bukan masalah, sih. Ada penjelasannya. Dan dari deskripsi mengenai mobil favorit klan Hanafiah, jenis dessert yang diperkenalkan Chris pada Aki, maupun hal lainnya yang tak kalah penting dalam membangun cerita ini, saya berani taruhan, risetnya beneran serius. Hahaha. Diksinya beneran rapi, editingnya juga. Rasanya seperti membaca novel dewasa dengan tokoh remaja. Semuanya mengalir, dan sesaat saya lupa bahwa saya sedang membaca kisah percintaan anak remaja.

Tapi –ada tapinya juga, sih. Saya merasa di beberapa bagian saya mendapati bahwa percakapan anak-anak itu terlalu ‘berat’ untuk usia mereka. Berat, maksudnya mereka sesekali terlihat menggunakan istilah-istilah yang saya rasa kurang lazim digunakan anak umur segitu –menyelipkannya di tengah-tengah bahasa gaul (dan sialnya lupa bagian mana, akan diedit jika menemukan halamannya nanti). Tapi entah ya kalau di sekolah elit, mungkin anak-anaknya memang sudah mengenal istilah tersebut dan terbiasa mengucapkannya dalam keseharian. Kalau menggunakan beragam bahasa asing, saya maklum, sebab banyak memang anak remaja yang bisa menguasai banyak bahasa karena latar belakangnya yang beragam –mungkin pernah sekolah di negara lain, memang diajari orangtua, dan sebagainya.

Sisanya saya tidak tahu harus mengomentari apalagi dari Imaji Terindah. Ini kali pertama saya merasa bahagia usai membaca sebuah cerita teenlit. Saya masuk lagi ke dalam masa-masa sekolah yang penuh keriaan masa muda, dan kemudian saya merasa ceritanya nggak menye-menye, deskripsinya tidak berlebihan dan menyebalkan, dan tentu plotnya yang masih rasional dan ending yang masuk akal.

4 dari 5 bintang untuk Sitta Karina dan Imaji Terindah.

Salah satu bacaan bagus saya minggu ini.

*

“Legend says, when you can’t sleep at night, it’s because you’re awake in someone else’s dream.”pg. 205

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s