Review: Lost – Rizal Affif & Nia Janiar

whatsapp-image-2017-02-14-at-7-19-42-pm

Judul: Lost (Pencarian di Bulan Agustus)
Penulis: Rizal Affif & Nia Janiar
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: Oktober 2015 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp – (baca di iJak)
Jumlah halaman: 136 hal.
ISBN: 9786023752096

*

Blurb:

30 Agustus diperingati sebagai hari internasional orang-orang yang dihilangkan paksa

Adrian, sang fotografer, hanyalah pengagum rahasia. Aruna, sang ibu rumah tangga, tak pernah pergi jauh dari rumah.

Namun, saat orang yang mereka cintai hilang begitu saja dari kehidupan mereka, mereka menolak tinggal diam.

Keputusan membawa mereka meninggalkan dunia nyaman mereka, menantang bahaya, menjelajah ruang dan kenangan masa silam.

DEMI SEBUAH JAWABAN

*

Review:

Memberikan 4 bintang pada buku ini semata-mata karena cerita keduanya, bukan cerita pertama. Buku ini terdiri dari 2 novela (novel pendek) yang masing-masing berjumlah 100-an halaman. Pada cerita pertama yang berjudul Mencari Jawaban, kisah berpusat pada Adrian –seorang fotografer yang kehilangan pujaan hatinya di Semeru. Cerita pertama ini agak biasa, sebab penggalian karakter Adrian tidak terlalu dalam dan tidak ada kesan yang terlalu berarti buat saya. Sebagian besar novela hanya berisi kegalauan hati Adrian pasca hilangnya si perempuan -yang pergi mendaki Semeru bersama suaminya.

Sebentar, suami?

Iya. Untuk selengkapnya agar tidak spoiler, silakan dibaca sendiri. Tidak banyak hal yang bisa saya ceritakan dari kisah Adrian –karena kalau saya dipaksa cerita banyak, maka bukan tidak mungkin saya akan terlalu spoiler. Well, sebab tidak ada elemen yang saya sukai. Tidak diksi, tidak juga plot, tidak juga yang lain. Seandainya novela ini berdiri sendiri menjadi novel, bahkan bintang saya jelas akan berubah jumlah. (well, kecuali paragraf pertama bagian prolog, sih).

untitled

Tapi tenang, masih ada cerita kedua, judulnya Meniti Cakra. Kisah ini tokoh sentralnya bernama Aruna –seorang ibu rumah tangga sekaligus istri dari Cakra Adi, seorang wartawan idealis yang cerdas dan sigap mengungkap fakta. Dan di tiap kumpulan novela, pasti harus ada benang merah agar tidak aneh-aneh banget, kan? Nah, diceritakan bahwa sepasang suami istri ini tinggal di seberang kos-kosan yang disewa Adrian. Adrian merasa sepenanggungan dengan Aruna dan sempat berkenalan untuk mengucapkan kalimat-kalimat simpati, tapi ya, lagi-lagi bukan bagian favorit saya. Justru perjuangan Aruna menemukan suaminya-lah yang menjadi bagian favorit saya.

Duh, saya suka cerita yang kedua! Dan saya menyayangkan mengapa cerita ini hanya menjadi novela. Andai digarap lebih lanjut dan dijadikan novel utuh, saya yakin ia bahkan mampu berdiri sendiri dengan cukup tegak. Pembaca akan dibawa pada rasa kehilangan Aruna, kemudian mau tak mau harus ‘menemani’ Aruna dalam pencariannya ke Bandung untuk menemukan Cakra Adi sang suami tercinta yang sudah hilang kurang lebih 3 hari. Petualangan perempuan ini menarik. Penulis menyajikan sesuatu yang tak biasa, di mana Aruna harus bertempur langsung dengan orang-orang jahat yang ‘berkepentingan’ dalam kasus hilangnya Cakra Adi, meski kondisinya sedang hamil muda.

Nah, makanya saya bilang, seharusnya novela ini bisa dikembangkan menjadi novel utuh agar ceritanya lebih mendalam dan tidak dangkal. Plotnya menarik sekali, sebenarnya, dan endingnya pun masih menggantung. Agak sayang rasanya membiarkan cerita seperti ini berakhir begitu saja. Cakra Adi yang digambarkan sebagai sosok menarik pun tak banyak mengambil peran dalam cerita. Lain halnya jika novela ini menjadi novel utuh, bukan? Tentu pembaca bisa mengenal siapa Cakra Adi lebih jauh, dan perjualan Aruna bisa dibuat lebih berliku-liku dan mendebarkan.

Untuk diksi, sebenarnya penulis menggunakan kata-kata yang biasa saja. Tapi plotnya ini, lho, plotnya! Saya gemas ketika Aruna sudah menginjakkan kaki ke Bandung. Pada bagian itu saya sadar, petualangannya sudah dimulai. Tokoh Aruna pun sebenarnya tak bisa dibilang mendalam penceritaannya, tapi setidaknya masih jauh lebih baik jika dibanding dengan kisah Adrian yang terkesan datar-datar saja dari awal hingga akhir. Ya, mungkin karena saya bukan penggemar diksi menye-menye juga, sih. Saya lebih suka kesedihan yang digambarkan dengan lebih tangguh. Dan saya cukup menemukan itu pada novela kedua ini.

Novel yang cukup menarik untuk dibaca sekali duduk 😀 Not bad.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s