Perkembangan Literasi di Kota Kecil

Photo credit: dok. pribadi

Photo credit: dok. pribadi

Dua minggu yang lalu ketika saya main ke Malang, saya sempat mampir ke tempat yang namanya Kafe Pustaka. Kafe Pustaka ini berada di dalam kampus Universitas Negeri Malang, tepatnya di samping gedung Fakultas Ekonomi. Tempatnya tidak terlalu besar, tapi cukup lega, kok. Ada beberapa meja dan kursi di dalam ruangan, sisanya di outdoor. Sehari-harinya buka hingga jam 8 malam dan bisa ditebak, bahwa sebagian besar pengunjungnya adalah mahasiswa. Dari segi harga makanan dan minuman, kamu akan maklum dua kali. Harganya super murah, pertama mungkin karena ini lingkungan kampus, keduak adalah karena ini Malang –bukan Jakarta. Alih-alih memasang harga yang lumayan, mereka malah memasang harga yang menurut standar saya sangat murah dengan makanan-minuman-kondisi kafe seperti itu.

Oke, lanjut. Di sana saya melihat tiga rak buku pada pojok kafe. Saya tanyakan pada Kak Ayu –seorang kawan bloger Malang, yang mengajak saya singgah ke sana, “apa buku-buku itu dijual?”

“Hanya rak ketiga, dua lainnya boleh dipinjam.” Jawab Kak Ayu dengan yakin, sebab beliau sudah sering main ke Kafe Pustaka, bahkan beberapa kali mengadakan acara di sana. Iseng, saya membuka penutup lensa kamera dan mengambil beberapa gambar. Saya sedang melihat ke sekeliling dan mendapati beberapa mahasiswa asyik dengan diktat kuliah dan tugas mereka.

Akhirnya terlintas di benak saya untuk bertanya, bagaimana kabar perkembangan literasi di kota seperti Malang?

Kak Ayu diam sebentar, kemudian tertawa kecil. Tidak ada perkembangan yang cukup pesat, katanya.  Kemudian dari  sanalah obrolan kami berlanjut. Dari sana pula saya tahu bahwa malang punya komunitas lokal di antaranya Klub Buku Malang, Blogger Malang, dan Pelangi Sastra Malang. Saya tanyakan lagi, apakah Malang seaktif Surabaya dalam hal literasi? Sebab dari yang saya tahu, anak bloger buku di Surabaya sering mengadakan meet up dan melakukan hal-hal kecil seperti tukar kado, dan sebagainya. Kak Ayu menggeleng pelan, dan ternyata di Malang sendiri nyaris tidak ada kegiatan. Menurut Kak Ayu, anak-anak Klub Buku Malang sepertinya sudah sibuk dengan kehidupan pribadi mereka, sehingga sudah tidak pernah lagi ikut mengurus kegiatan komunitas. Serba salahnya, ketika diadakan acara pun, tidak terlalu banyak audiens yang hadir.

Ini benar-benar sesuatu yang serba salah, saya sadar itu. Selain pengurusnya yang kurang, minat audiens untuk hadir pun kurang. Yang pasti, tingkat minat warganya untuk hadir di acara literasi tidak setinggi di Jakarta atau Bandung –di mana seringkali seat habis sebelum hari H. Kemudian saya berpikir lagi, apa yang salah dari semua ini? Dan bukan tidak mungkin di puluhan kota kecil lain, terjadi hal yang serupa. Tidak ada semangat untuk membaca dan berkomunitas. Meski memang, berkumpul dan berkomunitas adalah hak seseorang –bukan kewajiban. Tapi sebagai anak komunitas saya selalu merasa ini sayang banget.

Tapi Malang masih punya satu harapan, kata Kak Ayu lagi, yaitu Pelangi Sastra Malang. Biasanya komunitas ini lebih banyak membahas perkembangan sastra dan agak sedikit lebih berat bahasannya ketimbang Klub Buku Malang. Mungkin audiens-nya tidak sebanyak yang bisa saya bayangkan, tapi kegiatan mereka tidak stuck di tengah jalan, dan tetap ada hingga saat ini. Bisa dibilang, base camp-nya adalah Kafe Pustaka sendiri, sebab salah satu penggiatnya adalah pemilik Kafe Pustaka.

Photo Credit: BBC UK

Photo Credit: BBC UK

Kemudian saya jadi semangat lagi. Saya ingat berita yang saya baca di BBC mengenai Emma Watson, si cantik yang kini jadi duta PBB itu. Ia menyembunyikan buku Maya Angelou di stasiun kereta London dan mengirimkan pesan cinta, bahwa kepada siapa pun yang menemukan, boleh membaca buku tersebut atau meneruskannya kepada yang lain. Saya pikir ini gaya baru untuk meningkatkan minat baca orang-orang. Hanya saja, yang menjadi pertimbangan lainnya, apakah cara ini sudah efektif jika dilakukan di Indonesia –terlebih di kota-kota kecil?

Sebenarnya di luar negeri sudah banyak sekali cara-cara unik untuk meningkatkan minat baca. Salah satu hal keren lainnya adalah dengan mendirikan perpustakaan mini serupa kotak pos di depan pagar rumah. Siapa saja yang ingin meminjam, boleh mengambil sendiri bukunya, kemudian mengembalikan lagi setelah selesai dibaca. Pernah saya dan kawan-kawan saya sesama bloger membahas ini, kemudian salah satunya nyeletuk, “wah, Mput, kalau di Indonesia jangan begitu, bahaya! Bisa-bisa hilang sama kotak-kotaknya!” Kami terbahak, tapi mungkin itu benar adanya. Masyarakat kita belum bisa sepenuhnya mengambil dan meletakkan sesuatu dengan jujur sesuai porsinya, sesuai hak mereka. Sayang banget semua ide bagus harus kandas oleh alasan-alasan sederhana.

Seorang kawan juga sudah mencoba cara Emma Watson di kotanya, namun tidak ada perkembangan yang baik. Rata-rata buku yang disebar tidak ada kabar lagi, tak tahu ke mana rimbanya. Entah diteruskan atau tidak kepada orang lain setelah selesai dibaca, entah dibaca atau diloakin, juga tidak ada yang tahu.

Sebenarnya, setelah berkaca dari perkembangan literasi di kota kecil, saya tergelitik ingin memulai sesuatu di sana. Entah apa, saya juga belum tahu. Tapi saya orangnya selalu begitu, selalu ingin memulai sesuatu untuk menggerakan literasi yang mandek dan kayaknya sayang jika dibiarkan begitu saja. Tapi apa daya, saat ini saya bukan warga kota mereka, hahaha. Dan setelah beberapa hari, tentu saya akhirnya pulang ke kota saya sendiri. Kembali pada keramaian, kepada antusiasme acara literasi, kepada keseharian.

Kadang-kadang saya merasa senang berada di kota besar walau menurut saya ramainya sangat overload. Ada sisi positifnya: acara literasi ramai dilakukan di mana-mana, banyak yang datang, dan selalu seru. Saya berharap, nantinya ini bisa merata di seluruh kota –di luar Jakarta dan Bandung, tentunya. Semoga saja. 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Perkembangan Literasi di Kota Kecil

  1. Pingback: #JawaTimurTrip 1: Menutup 2016 Dengan Keluyuran Ke Malang – Surabaya – kopilovie

    • Iya, sayang banget ya 😦 Padahal ide-idenya keren, lho.
      Kadang nggak paham lagi, kalau di kota kecil itu yang salah apanya. Entah karena hasrat berkomunitasnya memang kurang, atau audiensnya nyaris nggak ada. Sepertinya malah ini berhubungan satu sama lain 😀 haha. Semoga ke depannya bisa lebih siap deha masyarakat kita dengan hal-hal seperti ini.

  2. Manager gue katanya rutin ke rumah sakit, khususnya ruang tunggu bagian dokter anak gitu, terus naro beberapa buku anak2 di sana. Lumayan, biasanya anak2 baca buku dan ditaro lagi (mungkin krn ngira bukunya dr rumah sakit)..

    • Hooh, bisa sih. Banyak cara sebenernya bisa digunakan untuk menambah minat baca orang, tapi ya belum sebanyak itu yang terealisasi. Temen gue pernah ada yang suka ninggalin buku di tempat umum, ya semacam emma watson juga tp satu-satu buku doang. Dan dia cuma nulis pesan tolong dijaga bukunya, tp ga ada kewajiban update atau nerusin ke orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s