Menelisik Surat-surat untuk Padmini, Sebuah Sisi Lain Kekuatan Perempuan

Photo Credit: Pexels

Tempo hari saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh seorang perempuan seniman Indonesia. Beliau pernah menjadi juri dan mentor acara musik, bahkan cukup terkenal bersama kelompok jazz-nya yang sudah berkarir puluhan tahun. Saya tidak bisa meragukan nyanyian beliau, dan Krakatau –band jazz tersebut, kalau kalian kenal, adalah sebuah kelompok yang hebat menurut saya. Di luar dugaan saya, Trie Utami atau yang dikenal juga dengan Mbak Iie ini pun menulis beberapa buku. Sebelum menemukan dunia Padmini, saya pernah membaca Cinta Setahun Penuh hasil meminjam di sebuah taman bacaan –dan hingga hari ini masih saya cari bukunya namun belum jua ditemukan.

Dunia Padmini sendiri saya temukan di sebuah Galeri Buku Bengkel Deklamasi milik pujangga sekaligus budayawan Jose Rizal Manua di kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Awalnya saya mengira bahwa buku ini adalah sebuah novel roman dewasa, sebab judulnya sangat perempuan dan tulisan/komentar endoser di sampul belakangnya pun berbunyi demikian. Saya pikir, dan yang pernah saya pahami selama ini adalah bahwa seringkali sisi lain perempuan ditonjolkan dalam sebuah karya sastra, mungkin dengan tujuan menyadarkan sesama perempuan bahwa mereka adalah sosok yang berarti, bagaimana pun keadaan mereka.

Tapi Dunia Padmini memiliki cara yang agak berbeda. Melalui buku ini, pembaca diajak masuk dan dijadikan sebagai Padmini –seorang perempuan, house wife, ibu dari dua anak, yang sering menerima sepucuk surat dari seorang sahabatnya. Di sini sang sahabat bertindak sebagai aku yang hingga akhir buku pun tidak diketahui siapa sosoknya. Saya bilang akhir buku, bukan akhir kisah ini, karena hingga bukunya selesai pun sepertinya kisahnya masih belum berakhir. Dunia Padmini dan surat-surat yang ada di dalamnya menceritakan berbagai lapisan kehidupan.

Aku seringkali membuka suratnya dengan ucapan salam, menanyakan keadaan Padmini dan keluarga, atau sekadar menceritakan kegiatannya siang tadi, kemudian akan selalu memberikan minimal satu buah ‘dongeng’ untuk Padmini. Perempuan. Semua kisahnya selalu tentang perempuan. Ada sisi lain dari kekuatan seorang manusia bernama perempuan yang bisa saya jumpai dalam surat-surat yang dibaca Padmini. Bahkan saya seringkali lupa bahwa Padmini itu sendiri pun tak ketahuan siapa. Seolah sayalah Padmini, sayalah yang menerima dan membaca, juga meresapi surat dari seorang kerabat jauh itu.

Di suatu waktu, ia bisa saja berkisah mengenai poligami, di waktu lain sang sahabat bisa menceritakan tentang anak-anak perempuan yang lahir dan seringkali kurang diinginkan keluarga, di kali yang lainnya ia akan berceloteh mengenai sikap kebanyakan lelaki yang menomorduakan bahkan menganggap perempuan serupa barang yang dijadikan aset dan harus disimpan baik-baik, serta mengikuti semua kemauan mereka (si lelaki). Tapi yang paling menarik adalah ketika membahas perselingkuhan. Di sini, aku amat pandai menempatkan dirinya, mengakui bahwa selingkuh memang tidak dibenarkan apa pun alasannya, walau mungkin tak sedikit pula yang melakukannya karena terpaksa dan memang menjadi lebih hidup setelahnya. Hal buruk, apa pun alasannya, memang tidak fair untuk dilakukan kepada orang lain. Walau kecil, selalu ada pembelaan dari para pelaku. Dan aku pada suratnya kali itu bertindak sebagai sosok penengah dengan baik, tidak memihak, serta tidak pula memburuk-burukkan.

Photo Credit: Tokopedia

Pada kali lain, saya sebenarnya juga kagum pada surat yang berkisah mengenai anak perempuan. Budaya patriarki di negara kita benar-benar sudah mengental dan mendarah daging, itu benar adanya. Sehingga seringkali dan amat banyak yang menginginkan anak pertama mereka berjenis kelamin lelaki. Jika anak yang lahir adalah perempuan, sebagian yang ikhlas akan ikhlas saja, sebagian tetap kecewa namun berlindung di balik kedok ah, tak apa, anak apa pun jenis kelaminnya harus disyukuri sebagai titipan Tuhan.

Padahal, benar adanya lagi, bahkan Tuhan saja mereka imajinasikan sebagai sebuah sosok yang amat maskulin. Mungkin hanya segelintir orang yang pernah membayangkan apa jadinya jika tuhan ternyata adalah perempuan. Meski hal ini tak akan ada habisnya jika dibahas. Sebabnya, ada pula yang meyakini bahwa tuhan adalah zat atau sosok yang tak mampu diterka pikiran manusia, tak berjenis kelamin, dan lain sebagainya. Ah, rasanya jika kita bahas ini, tentu akan bersaingan pikiran dengan pendebat-pendebat di forum agama atau tanggapan para komentator sok tahu di media sosial.

Dari sekian banyak etnis dan golongan di Indonesia, ada berapa sih yang tidak patriarki? Barangkali salah satunya adalah suku Minang, yang menganut matrilineal atau menganut garis keturunan ibu. Perempuan amat berharga di sana, namun rata-rata suku lain masih memegang teguh sikap patriarki. Perempuan dianggap harus berbakti bahkan menyembah suaminya bila perlu, katanya lagi karena itu memang kewajiban agama pula. Entah, dalam hal ini saya tak ingin berkomentar sebab agama pun buatan manusia, bukan? Kita adalah manusia-manusia kesepian, menciptakan agama, untuk kemudian memuja tuhan yang kita bilang tak boleh disanggah kebesarannya. Kemudian di dalam agama itu ada peraturan bahwa perempuan kuasa dan derajatnya lebih rendah daripada kaum lelaki, dan kita menekan perempuan dengan ajaran/ayat tertentu serta berlindung di balik itu kata agama, perintahnya Tuhan, lho! Memang mau kamu langgar?

Lelaki sering tidak senang bila ada perempuan yang lebih dominan daripada dirinya sendiri, dan hal ini banyak terjadi di dalam kisah-kisah yang ada di Dunia Padmini. Aku, sahabat Padmini, memiliki banyak sekali kisah yang bisa ia bagikan –baik tentang orang lain maupun tentang dirinya sendiri. Hal-hal ini yang saya kira bisa menjadi pelajaran berharga dan bisa dibaca perempuan dari kalangan mana pun. Agar para perempuan sadar dan tahu, bahwa menghormati/menghargai suami pun ada batas-batasnya. Agar mereka tetap menjadi perempuan, seseorang yang sejajar dan mendampingi, bukan di bawah dan diabaikan.

Saya tak bisa bilang bahwa buku ini sangat feminis. Saya sendiri adalah perempuan yang masih belum tiba di tahap membicarakan sesuatu yang sangat perempuan, adalah sama artinya dengan menjadi seorang feminis. Sepertinya memang belum. Dalam pandangan saya, sebagai perempuan tentu saya tetap membela kaum saya sesama perempuan dengan catatan selama yang saya benarkan itu adalah sebuah kebenaran, bukan sebuah kesalahan yang dicari-cari pembenarannya. Saya pernah ikut kelas feminisme dan mendiskusikan teori feminis dengan beberapa kawan, namun saya belum di tahap memaksa menyebut diri saya feminis, sehingga saya pikir saya benar-benar tidak bisa menentukan apakah buku ini sangat feminis atau tidak. Bagi saya, menulis dan membela perempuan belum butuh pengakuan sebagai feminis. Lain hal, jika orang lain menilai saya feminis. Terserah pada kehendak mereka.

Dunia Padmini berkonsep surat, sangat sederhana dan lekat dengan keseharian, namun memberikan banyak pandangan baru bagi saya sebagai perempuan. Menelisik Dunia Padmini sebagai karya sastra, mungkin merupakan hal biasa. Siapa sih yang tidak pernah menulis cerita dalam bentuk surat? Siapa sih yang tidak pernah mengangkat fiksi mengenai perempuan? Banyak yang sudah pernah melakukannya terlebih dulu. Namun, menelisik Padmini lebih dalam, masuk ke dalam pandangan dan teropong seorang perempuan, dalam peranannya sebagai ibu, istri, dan teman hidup, barangkali bisa membuat surat-surat aku menjadi lebih bermakna.

 

Advertisements

4 thoughts on “Menelisik Surat-surat untuk Padmini, Sebuah Sisi Lain Kekuatan Perempuan

  1. Hmmm menelisik dunia wanita memang gampang2 sulit. benar kata lagunya Ada Band : karena wanita ingin dimengerti, kalau sebaliknya ya entahlah karena wanita inginnya dimengerti #mbulet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s