Ngobrolin Ritus Khayali bersama Bacaisme, Malam Puisi Jakarta, Ganding Pustaka, dan Post Santa!

Semenjak Bacaisme dibentuk, belum pernah kami membuat acara offline yang berhubungan dengan buku. Bacaisme sendiri adalah sebuah kelompok baca, terdiri dari beberapa anak muda yang suka membaca dan bahas buku. Selama sebelum ada nama Bacaisme, kami hanya membahas buku-buku yang kami baca via grup Whatsapp. Akhirnya pada hari Sabtu, 15 Oktober 2016 kemarin, saya dan tim Bacaisme memutuskan untuk bekerja sama dengan Post Santa, Malam Puisi Jakarta, serta Penerbit Ganding Pustaka.

Acara itu pada dasarnya hanya sebuah obrolan ringan mengenai buku dari seorang kawan anggota Malam Puisi Jakarta yang baru saja diterbitkan. Buku puisi bertajuk Ritus Khayali itu kami bahas dalam waktu kurang lebih satu setengah jam. Bukan waktu yang lama-lama banget, tapi cukup padat untuk mengulas dan menceritakan behind the scene dari buku ini. Lucunya, Bang Edoy –penulisnya, mencatat semua puisinya di ponsel. Bahkan ponsel tersebut pernah hilang, tapi akhirnya (dan entah kenapa) dikembalikan oleh pencurinya melalui pos. Sejak itu, beliau berpikir bahwa akan sangat keterlaluan jika puisi-puisi itu tak diterbitkan –sedangkan dengan cara-cara yang unik, puisi itu selalu kembali kepada si empunya.

Bersama kami sore itu, selain teman-teman Malam Puisi Jakarta dan tamu-tamu Post Santa, hadir juga Rendy Jean Satria –seorang penyair muda, yang banyak berkisah mengenai puisi dan bagaimana asal-usulnya Ritus Khayali diterima dari tangan Bang Edoy. Selain itu, ada juga Raedu Basha dari Ganding Pustaka. Satu per satu mereka membacakan puisi-puisi yang ada di Ritus Khayali. Semakin lama acara semakin berlangsung seru, bahkan ketika akan selesai, teman-teman Malam Puisi Jakarta (dan ada juga Malam Puisi Depok) tak mau kalah dan ingin maju untuk baca puisi pula.

Ritus Khayali sendiri adalah sebuah kumpulan puisi yang dikumpulkan penulisnya selama rentang 2015 hingga 2016. Prosesnya cukup panjang, sebab usut punya usut, ternyata puisi-puisi itu bukan dilampirkan di e-mail, tetapi di-copy paste ke badan e-mail, yang berarti harus disusun lagi agar menjadi satu kesatuan utuh yang rapi dan enak dibaca, sebelum akhirnya berubah menjadi buku yang kemudian bisa dinikmati banyak orang.

Sungguh acara yang cukup menyenangkan untuk kategori perdana. Saya tidak pernah membayangkan bahwa acara pertama ini akan berlangsung ramai. Saya berkata pada pihak Post Santa sore itu, saya benar-benar takjub dengan rasa antusias penonton. Saya memang bukan anak puisi dan kurang mengerti puisi, tapi saya senang bahwa mereka –para penyair muda itu, berkenan ikut hadir di pesta kami, mendendangkan puisi dengan semangat, membuat orang-orang yang lewat menoleh dan ingin tahu apa yang terjadi di Post saat itu.

Sebagai pribadi sekaligus sebagai salah satu orang yang berharap banyak pada kelompok Bacaisme, saya berharap bahwa perayaan Ritus Khayali bukanlah yang terakhir. Semoga acara pertama ini menjadi pintu bagi acara-acara keren lainnya. Bacaisme memang baru saja mencoba melebarkan sayapnya di tengah-tengah kelompok baca lain yang mungkin sudah eksis terlebih dahulu, dan sudah punya segudang program keren. Tapi kami selalu ingin menghadirkan sesuatu yang beda, sekaligus punya misi untuk menularkan semangat baca kepada anak-anak muda seumuran kami.

Bagi kamu yang tertarik pada Ritus Khayali, bisa membeli dan membacanya sendiri. Sampaikan pada kami jika kamu sudah selesai membacanya, dengan senang hati teman-teman Bacaisme bersedia diajak ngobrol lagi. Atau mungkin kamu ingin membagikan ulasanmu kepada kami? Tweet dan share tak ada salahnya!

*

Pada akhirnya, terima kasih kepada Post Santa yang sudah dengan senang dan sabar hati menerima kami untuk berpesta puisi di tempatnya, untuk teman-teman Malam Puisi yang juga tak kalah semangat, pembicara, dan tentunya kru Bacaisme yang tiada duanya, rusuh kayak minion lupa dikasih pisang.  Hahaha 😛

Kru!

Advertisements

4 thoughts on “Ngobrolin Ritus Khayali bersama Bacaisme, Malam Puisi Jakarta, Ganding Pustaka, dan Post Santa!

  1. Pingback: Delapan Catatan atas “Ritus Khayali” Buku Sajak Sulung Astrajingga Asmasubrata* – Mata Puisi ಠ Hasan Aspahani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s