Review: Cybergirl Runaway – Bella Zoditama

Judul: Cybergirl Runaway, Pelarian Sedih Sang Putri Senja
Penulis: Bella Zoditama
Penerbit: 
De Teens
Tahun Terbit: Oktober 2016 (cetakan pertama)
Harga: Rp 47.000,-
Jumlah halaman: 223 hal.
ISBN: 9786022553267

*

Blurb:

Orang-orang lebih mengenalnya sebagai Putri Senja,

padahal dia hanyalah seorang siswa berseragam putih abu-abu biasa.

Agi, seperti putri pengusaha kaya umumnya, memiliki hampir segalanya. Kecuali, perhatian kedua orang tuanya. Selama ini, Agi menurut di rumah dan memilih memberontak di sekolah. Hingga suatu ketika sebuah ide tercetus di kepalanya: kabur dari rumah.

Ya. Dia hanya akan pergi sebentar untuk melihat bagaimana reaksi orang tuanya jika tahu dia pergi.

Pasti akan seru. Tidak mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk, kan?

Maka, Agi pun pergi. Awalnya, semua baik-baik saja. Hingga ketika lapar, dia menyadari satu hal: dia salah bawa dompet. Uang dan ATM-nya berada di dompet yang lain, di rumah.

Aduh, bagaimana ini?

*

Review:

Sebenarnya sudah sekian lama memutuskan untuk tidak lagi baca teenlit, dan sejenisnya. Rasanya masa-masa teenlit sudah lewat. Tapi bulan Oktober ini ada yang istimewa, seorang kawan saya baru saja mendapat bukti terbit novelnya setelah 3 tahun (ttd MoU dan naskahnya kemudian didiamkan) tanpa kejelasan. Iya, novel tersebut akhirnya terbit juga dan baru saja beredar di toko-toko buku. Cybergirl Runaway judulnya, sebuah novel remaja yang berkisah mengenai Sellaginella June Soeandriya, atau Agi, seorang anak bungsu dari pengusaha telekomunikasi yang cukup ternama. Agi yang kurang kasih sayang dari kedua orangtuanya kemudian memutuskan untuk kabur dari rumah, ingin tahu apakah ia masih akan dicari atau tidak sama sekali. Saya pikir, pelarian Agi inilah yang kemudian menjadi tema besar dari cerita, tapi ternyata tidak. Saya pikir lagi, ya memang akan menarik jika menceritakan mengenai pelarian seorang remaja yang kelupaan membawa dompet dan kartu ATM-nya, bagaimana hidupnya akan berlanjut. Tapi ternyata semua itu tak cukup sulit bagi Agi.

Agi sepertinya punya tingkat keberuntungan yang tinggi. Sebab ketika ia pingsan, ada saja yang menolongnya, bahkan memberikan tempat bermalam dengan kehidupan cukup layak. Jadi, saya di sini juga sekalian hendak mempertanyakan bagaimana mungkin buku ini diberi tagline ‘Pelarian Sedih Sang Putri Senja’? Pelarian Sedih. Sedih! Sedih artinya tidak bahagia, sama sekali tidak beruntung, tapi yang ada di dalam buku ini jauh berkebalikan dengan tagline. Sepemahaman saya, tagline dibuat untuk mendukung judul, yang tentu harus berhubungan dengan isi buku.

Sedangkan di halaman 61, ada kutipan yang jelas menggambarkan bahwa pelarian Agi tidak sesedih tagline bukunya.

Agi merasa begitu dekat dengan keluarga barunya ini. Dia seperti menemukan napas hidupnya yang baru serta belajar tentang segala hal dari kehidupan keluarga Ridho yang sangat sederhana namun kaya akan nilai-nilai kehidupan.

Terus di mana sedihnya?

Pun di halaman 64, ada sedikit kutipan lain yang mendukung kutipan di halaman 61 barusan.

Pukul dua belas siang, mereka selesai mengajar di Rumah Corat-Coret, pulang ke rumah dan makan siang. Agi senang sekali bisa mengajari anak-anak kecil dengan ilmu yang dimilikinya. Memang lebih baik mempraktikkan ilmunya secara langsung daripada hanya sekadar teori dan omong kosong.

Terus di mana sedihnya?

Mungkin juga sebagian dari pembaca ada yang mengira bahwa sedihnya terletak di bagian awal, ketika Agi memutuskan kabur dari rumah. Tapi yang berhasil saya tangkap, ketika akan dan memutuskan kabur dari rumah, perasaan Agi itu bingung. Ia antara iya dan tidak, untuk kabur dari rumah. Ada perasaan takut, tapi ada perasaan tertantang –apakah Papa dan Mamanya akan mencari ketika mengetahui ia hilang.

Itu baru sedikit dari banyak poin yang kemarin saya catat ketika membaca buku ini. Penulisnya sendiri mengatakan bahwa judul dan tagline di luar kendali dirinya, yang berarti tidak ada pembahasan mengenai keduanya sebelum buku terbit, jadi saya tahu bahwa saya tidak bisa ‘menyalahkan’ kawan saya itu atas tagline yang menurut saya apa banget ini.

Dan poin berikutnya adalah ketika Agi pergi dari rumah. Marcel berkeras Agi tidak punya teman bernama Rei –yang namanya digunakan Agi saat pamit kepada asisten rumah tangga, berbohong bahwa ia akan menginap di rumah Rei. Orangtua Agi seketika percaya pada Marcel kemudian mulai panik dan mencari. Pada bagian ini tidak banyak masalah, sih. Hanya sedikit merasa nganu. Memang sih, Marcel adalah sahabat Agi, tapi saya rasa tidak semua orang yang dikenal Agi juga pastilah dikenal Marcel. Entah, mungkin karena ini sikonnya pada kehidupan seorang remaja, jadi semua orang yang dikenalnya harus diketahui orang terdekatnya. Tapi dari sudut pandang saya sebagai pembaca iseng, ingin sekali rasanya ada bagian yang mengatakan bahwa Rei benar adanya. Hahaha.

Di halaman 73, ada bagian orangtua Agi yang mengetahui bahwa Agi menuliskan banyak hal di web pribadinya. Tapi kata hari sang ayah sungguh membingungkan saya. Singkat saja:

Anakku Putri Senja?

Putri Senja memang alter ego Agi di dunia maya, digambarkan sebagai seorang selebtweet yang amat digemari dan digandrungi dedek-dedek gemes yang hobi curhat dan punya segunung masalah, sebab Putri Senja adalah seorang perempuan panutan yang seringkali bersikap bijak baik dalam blog pribadi maupun media sosialnya –terutama Twitter. Tapi orangtua adalah orang yang berbeda generasi dengan remaja. Jadi, bagaimana logikanya, ayah Agi yang super sibuk dan hampir tak punya waktu selain mengurusi kerajaan bisnis itu kemudian merasa kaget –seolah tahu, dan wow, anak gue itu sebenarnya Putri Senja?

Kalau itu ayah saya, dan saya adalah Putri Senja, paling-paling beliau hanya akan bilang, apaan tuh Putri Senja? Eh tapi anak gue hilang nih ceritanya, mending gue lapor polisi dulu.

Ya.

Demikianlah.

Pada halaman 97, Agi mendapati kamarnya berantakan  dan barang bergeser beberapa inchi dari tempatnya. Untuk anak yang sudah kabur seminggu dari rumah, memiliki kesenangan lain di luaran, dan kembali ke rumah dalam keadaan masih sebal, rasanya mengingat berapa inchi sebuah benda bergeser dari tempat terakhir ia melihatnya, agak mustahil, ya. Mungkin dia tahu itu bergeser, tapi tidak dalam ukuran inchi atau senti. Eh, sekali lagi, ini hanya logika (sok tahu) saya, sih. 😀

Pada halaman 106, ada adegan bahwa ibu Ridho menghubungi Agi, padahal dari awal Agi tidak membawa ponsel dan sepertinya juga tidak meninggalkan nomor ponsel sama sekali, jadi misteri ilahinya, dari mana ibu Ridho mengetahui nomor ponsel pribadi Agi?

Setibanya di halaman 124 dan 125, Agi menerima pesan dari penggemar-penggemar Putri Senja. Di sana ia membalas pesan tersebut dengan sangat bijak, sangat berbanding terbalik dengan jiwa Agi yang kekanakan dan manja di dunia nyata. Pertanyaannya hanya satu, bagaimana bisa ? Tapi memang sih, kadang kan kita lebih mampu menjadi dewasa bagi orang lain ketimbang bagi diri kita sendiri. Dan mungkin Agi yang baru 16 tahun ini juga demikian adanya. (ya udah sih, Mbak Mput bawel banget. Kalian memang suci, Agi penuh dosa)

Tapi dibanding segalanya yang sudah saya sebutkan di atas, menurut saya hal paling fatal dari sebuah cerita adalah ketika di halaman yang satu, sesuatu ditulis berbanding terbalik dengan di halaman lainnya –padahal masih merujuk hal sejenis. Di halaman 135, dikatakan bahwa Haris Wicaksono tewas tergantung di halaman belakang rumahnya. Sedangkan di halaman 150, orang yang sama dikatakan tewas bunuh diri di kantornya. Jadi, yang benar itu Bapak Haris Wicaksono tewasnya di belakang rumahnya, atau di kantornya?

Kemudian, mari kita beranjak ke halaman 154, Ayah Agi adalah seorang pengusaha terkenal, sehingga apa pun yang terjadi padanya mungkin disorot media. Tapi dunia pengusaha saya yakin berbeda dengan dunia artis FTV. Masa iya, ayah Agi kena kasus karena masalah bisnis, tapi yang diekspos media adalah masalah anak sulungnya yang pernah tewas 10 tahun lalu? Itu sama saja seperti –misalnya saya jurnalis majalah T*mpo, tapi saya bahas masalah anaknya pejabat A yang pernah tewas tawuran pas SMP (dan terjadi 10 tahun lalu). Padahal poin utama adalah bapaknya kena kasus korupsi di tahun 2016 ini. Ndak nyambung, yoben.

Yang terakhir sekaligus sebagai penutup ulasan bawel dan penuh pertanyaan ini, adalah kutipan. Ya, semua buku pasti punya setidaknya satu dua bagian menarik untuk dikutip.

  • “Nggak apa-apa, Mbak Agi. Emang permintaan pasar sekarang lagi kayak gini, kok. Orang dikenal dulu di dunia maya, baru dia bisa ‘mulus’ menjadi penulis. Apalagi dengan melihat sosok Putri Senja yang begitu fenomenal, pasti buku ini akan laris di pasaran.” – hal.  214 (hal ini sekaligus membenarkan bahwa selebtweet akan lebih mulus jalannya menuju punya buku sendiri. Bahkan dalam buku pun keadaannya demikian, ya. Hahaha)
  • Memang benar kata orang bijak, bahwa kita jangan melihat sesuatu dari satu sudut pandang saja. Kita harus melihat lebih luas. Seperti juga kata Paul Theroux, “perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku.” – hal. 98

Dan, yang benar-benar terakhir dari ulasan ini adalah ucapan selamat untuk Bella Zoditama, atas terbitnya novel perdana yang meski diakui penulisnya sebagai karya yang belum sempurna, tapi semoga membuka sekaligus menjadi jalan untuk novel-novel berikutnya. 🙂 Novelnya sangat ringan dan cocok dibaca waktu sedang santai di hari Minggu –seperti saya kemarin 😛

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s