Memandang Perempuan dari Mata Angela Carter dan Intan Paramaditha

Tempo hari, saya menghadiri sebuah diskusi di Post –toko buku yang lumayan ternama di daerah Pasar Santa, Kebayoran Baru itu. Kebetulan, hari itu tema diskusinya adalah kritik sastra. Sebagai penulis ulasan, saya pikir tak ada salahnya saya juga ikut serta. Pagi itu kami membahas sebuah cerita pendek berjudul The Snow Child yang ditulis Angela Carter, yang termasuk ke dalam buku The Bloody Chamber (pg. 91-92).

Cerita itu kurang lebih 500 kata saja, tidak banyak, dan dalam bahasa Inggris –bahasa aslinya. Kami diminta membaca cerita itu masing-masing, kira-kira dua hingga tiga kali sebelum berdiskusi. Hal pertama yang ditanyakan mentornya adalah apa memori, simbol, dan pola dalam cerita tersebut? Banyak dari kami menjawab dongeng Snow White, dan memang benar adanya. Tapi The Snow Child adalah versi lebih kelamnya. Saya tidak akan mencantumkan ceritanya di sini, sebab lebih baik dibaca dan diresapi sendiri oleh kalian.

Setelah selesai membahas The Snow Child selama dua jam lebih kurang, kami beralih pada satu cerita lokal, cerita pendek berjudul Goyang Penasaran karya Intan Paramaditha. Cerpen ini ada di dalam buku Kumpulan Budak Setan yang ditulis Intan bersama Eka Kurniawan, sebagai tribut kepada Abdullah Harahap.

Hal yang ingin saya bandingkan di sini adalah bagaimana cara Angela Carter dan Intan Paramaditha menggambarkan seorang perempuan sebagai tokoh cerita mereka. Dalam The Snow Child, anak perempuan sang bangsawan adalah seorang yang digambarkan cantik, suci, dan tak bernoda. Ini terbukti dari line berbunyi, “I wish I had a girl as white as snow. I wish I had a girl as red as blood. I wish I had a girl as black as that bird’s feather.” Dan kemudian beliau mendapatkan seorang anak perempuan berkulit putih, berbibir merah, dan berambut hitam tengah telanjang. Anak itu kemudian dibawa pulang, walau Nyonya Bangsawan tak menyukainya –di sini aura The Snow White terasa, sebab Snow White juga punya ibu tiri yang tidak menyukainya, bedanya ini mungkin lebih ke ibu angkat.

Anak perempuan itu dijaga sedemikian rupa, hingga suatu hari bangsawan berkata padanya, “pick me one, I can’t deny you that.” Ketika mereka sedang di hadapan bunga-bunga. Sebuah mawar lalu dipilih, gadis itu tertusuk duri, berteriak, dan jatuh. Dikisahkan, ia kemudian mati dan sang bangsawan memperkosanya setelah mati. Hal ini menjadi pertanyaan besar, mengapa ia diperkosa justru setelah mati. Kami berdebat lagi, hingga muncul dugaan bahwa karena anak itu seorang yang immaculate, sehingga ia suci justru sebelum ia ‘berdarah’. Ketika ia berdarah –walau bukan hasil hubungan badan, maka ia tidak lagi dianggap suci, dan sang bangsawan merasa tidak mengapa memperkosanya.

“Mungkin begitulah pria zaman dulu memandang perempuan,” sahut sebuah suara, “mungkin titel suci itu adalah sebelum ia ‘berdarah’, yang berarti juga sebelum haid.”

“Jadi, perempuan dewasa sebenarnya dianggap tidak suci lagi?” Sebuah pertanyaan datang.

Mentor kami tertawa, “mungkin juga itu sebabnya banyak lelaki yang menyukai JKT48.” Dan seketika saja ruangan kecil itu penuh gema tawa.

Dalam The Snow Child, perempuan digambarkan sebagai apa yang diinginkan lelaki. Lelaki seolah menjadi tuhan dalam cerita ini –dalam hal ini si bangsawan. Walau ia mempunyai istri, sepertinya sang istri tidak berkuasa seperti dirinya. Buktinya, ia bisa meminta dan menginginkan seorang anak gadis cantik (barangkali) setelah istrinya menjadi tua dan tidak lagi menarik untuknya. Kemudian, setelah ia merasa anak gadisnya tak lagi suci, ia bisa memperkosanya. Nilai patriarki cukup kuat dalam The Snow Child. Tapi walau begitu, dua perempuan dalam cerita ini pun ternyata digambarkan ‘berbeda kelas’. Sebab, si anak gadis langsung mati usai terkena duri dari mawar beracun itu, sedangkan sang nyonya bangsawan hanya melemparkan bunga itu sambil berteriak, “it bites!” tapi ia tidak mati seperti halnya sang anak. Hal ini menggambarkan status sosial yang berbeda, bahwa sebagai sesama perempuan, sang nyonya berada di tingkatan yang lebih tinggi (walau tak mungkin setara atau di atas suaminya), sehingga tidak musnah semudah itu.

Sedangkan di dalam Goyang Penasaran karya Intan Paramaditha, menurut saya perempuan digambarkan lebih kuat dan berpengaruh. Salimah, seorang pedangdut yang masa mudanya pernah menjadi murid Pak Haji Ahmad, menyimpan kemarahan sendiri kepada mantan guru ngajinya itu atas sebuah kejadian yang telah lalu. Cerita berlanjut, Salimah dipandang sebagai perempuan perusak sebab dianggap membuat lelaki sekampung menjadi mesum karena membayangkan tubuhnya ketika berjoget di panggung dangdut. Salimah dalam hal ini diam dan menerima saja bahwa ia diusir dari kampung tersebut, tapi ia tak pernah menjadi perempuan kalah. Ia kembali lagi untuk menjadi mimpi buruk mereka, menuntaskan dendamnya. Dan meski mati, ia tetap menang. Menurut saya, Salimah tetap pemenang. Ia mati dengan kemenangan, berbeda dengan gadis suci di The Snow Child yang hidup dan mati dalam kendali ayah angkatnya –sang bangsawan.

Bila bulan terlihat ganjil, seperti perempuan yang bangkit dari kubur, kau akan tahu Salimah tak pernah pergi. Di malam itu ia berkelebat, hadir dengan cara ia ingin diingat. Tidak dengan tubuh biru lebam seperti kala ia mati, melainkan dengan baju hitam ketat yang menonjolkan pinggul aduhainya. (pg. 58)

Dari bagian itu, saya menyimpulkan bahwa Salimah bahkan masih ingin tampak menggoda meski telah meninggal, ia tak ingin diingat dalam kondisi mengenaskan, maka ia gentayangan dalam kondisi aduhai. Ia adalah Salimah yang menang, sebab musuhnya telah mati, dan meski orang sekampung membunuhnya, ia tetap menghantui mereka di malam-malam kala bulan terlihat ganjil. Intan Paramaditha menggambarkan perempuan yang tangguh baik dalam segala kesalahan maupun kebenaran sikapnya di mata orang banyak. Perempuan yang diciptakan untuk menang, walau sekasar apa pun orang berusaha melenyapkannya. Dalam Goyang Penasaran, perempuan tidak digambarkan sebagai keinginan lelaki, seperti anak salju dalam karya Angela Carter. Salimah adalah perempuan yang hidup di atas keinginannya sendiri, hingga kematiannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s