Review: Sagra – Oka Rusmini

Judul: Sagra
Penulis: Oka Rusmini
Penerbit: Indonesia Tera
Tahun Terbit: Juli 2004 (Cetakan Kedua)
Harga: Rp 35.000,-
Jumlah halaman: 320 hal.
ISBN9799375436

*

Blurb:

Apakah hidup akan menyisakan sepotong kecil, seukuran kuku kelingking, sedikit saja, keinginanku yang bisa kutanam dan kusimpan sendiri?

Hyang Widhi, apakah sebagai perempuan aku terlalu loba, tamak, sehingga Kau pun tak mengizinkanku memiliki impian?

Apakah Kau laki-laki?

Sehingga tak pernah Kaupahami keinginan dan bahasa perempuan sepertiku?

*

Review:

Sebelum ini sebenarnya mencari Tarian Bumi, tapi kemudian menemukan Sagra terlebih dulu dan kepincut untuk membacanya karena cover yang menarik. Malah sebenarnya kurang suka baca kumcer, tapi ternyata yang ini lumayan juga.

Favorit saya adalah Sagra, sebuah cerpen yang dijadikan judul bukunya. Sebenarnya, hampir semua cerpen Oka Rusmini di buku ini bagus-bagus dan punya ciri khas tersendiri. Oka Rusmini seperti ingin menanamkan Bali begitu dalam di cerita-cerita yang beliau tulis; adatnya kental, nuansa budaya Bali-nya kuat, aura tradisinya masih oke. Sebagai awam -yang bukan orang Bali dan hampir tak tahu apa-apa tentang budaya Bali, saya rasa cerita-cerita dalam buku ini membantu saya untuk lebih banyak tahu.

Benang merah cerita-cerita pendek dalam Sagra adalah perempuan Bali dan kasta. Seperti yang kita semua ketahui bahwa di Bali kehidupan seseorang ditentukan oleh latar belakang kasta. Dari mana ia berasal? Seorang perempuan Sudra –kasta terendah dalam masyarakat Bali bisa saja menikah dengan lelaki Brahmana –kasta tertinggi, tapi ada kemungkinan bahwa keluarga Brahmana tersebut mencabut seluruh haknya sebagai perempuan, bahkan bukan tidak mungkin pula anak perempuannya takkan menyandang nama Ida Ayu. Padahal, anak perempuan bangsawan sepatutnya diberi nama Ida Ayu –atau biasa disebut juga Dayu, dan anak lelakinya patut menyandang nama Ida Bagus di depan nama mereka.

Dalam Sagra, Oka Rusmini menceritakan kegelisahan-kegelisahan para perempuan -dari Sudra hingga Brahmana. Cerpen Sagra sendiri khususnya, buat saya paling menarik di antara yang lain sebab tingkat kerumitannya oke punya. Seorang perempuan Brahmana yang mencintai lelaki sudra, tapi kemudian rela menikah dengan lelaki Brahmana untuk menutupi hubungannya. Lelaki Brahmananya mencintai perempuan sudra yang kemudian menikah dengan kekasih sudranya. Dan seperti itulah mereka merahasiakan percintaan segi empat itu bertahun-tahun. Hingga setelah si lelaki dan perempuan sudra meninggal, perempuan Brahmana itu membawa serta anak mereka ke griya –kediaman Brahmana, dan sudah memutuskan bahwa kelak jika ia mati, anak sudra yang sejatinya memiliki darah bangsawan itu akan mewarisi sebagian hartanya. Begitulah cinta yang dilakoni perempuan Bali, cinta yang mungkin harus mereka tutup-tutupi seumur hidup dan mereka bawa mati pada akhirnya, demi menjaga kasta dan pandangan orang terhadap keluarga besar.

Sagra, anak itu, merasa heran mengapa ia harus ikut pada keluarga Ida Ayu Pidada –si perempuan Brahmana, yang sehari-hari dipanggilnya Ratu, tanpa tahu bahwa sebenarnya ayahnya adalah seorang brahmana, suami Ida Ayu Pidada sendiri. Ia ikut keluarga itu dan menyayangi Yoga, cucu Pidada. Anak itu memanggilnya Meme dan mencintai Sagra lebih dari ibunya sendiri. Semuanya menjadi semakin rumit ketiga adik perempuan Yoga ditemukan meninggal di bak mandi dan tak lama Ida Ayu Cemeti –ibu Yoga, juga mati bunuh diri minum racun serangga. Sagra tidak habis pikir dengan keputusan Pidada untuk mengangkatnya menjadi bagian dari keluarga. Rahasia cinta itu sepertinya disembunyikan dan akan dibawa mati oleh Dayu Pidada.

Membaca cerita lainnya juga membuat saya menjadi lebih paham bagaimana kehidupan masyarakat Bali. Dan sebenarnya masih penasaran banget sama Tarian Bumi. Oka Rusmini mungkin salah satu penulis yang ceritanya Bali banget, melebihi Bali dalam kisah-kisah yang ditulis Ni Komang Ariani, salah satu penulis yang juga saya sukai novelnya. Hanya saja, Oka Rusmini menuliskan Bali dengan cara yang lebih tajam, lebih mendalam, dan lebih kuat.

Sagra tumbuh menjadi perempuan yang amat cantik, karena sesungguhnya dia bukan perempuan Sudra, perempuan kebanyakan. Dia seorang Ida Ayu, bangsawan, Jegog! Semua ini harus kita tanggung berdua. Aku mendidiknya sebagai perempuan Sudra, bekerja dan terus bekerja, tetapi roh anak itu bukan roh Sudra. Dia tetap menjelma jadi perempuan bangsawan.

Advertisements

2 thoughts on “Review: Sagra – Oka Rusmini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s