REVIEW: Kilah – Vinca Callista

Judul: Kilah
Penulis: Vinca Callista
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: September 2015 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. – (dapat dari teman)
Jumlah halaman: 208 hal.
ISBN: 9786023751952

*

Blurb:

Karly Astaseni sangat mencintai buku, dan belum pernah bertualang ke mana pun selain lewat membaca tulisan dalam buku-bukunya. Iago Dalin, seorang pelancong seumur hidup, lalu datang dan menyela di antara hubungan Karly dengan tunangannya. Bagi Karly, Iago muncul bersama harapan tentang hidup berpindah-pindah yang jadi fantasinya. Aruna, si kasir toko buku banyak membantu dalam hubungan rahasia mereka yang mencekam.

Rangkaian usaha menuju kematian menjadikan desain kehidupan mereka sempurna. Seorang desainer interior, si gadis keong, dan aku, pun memegang andil di dalamnya. Bersama satu orang lagi yang lengannya dibatik sang ibu dengan lilin panas. Mereka terlibat dalam perayaan fantasi besar-besaran, dan berakhir terjebak dalam permainan psikologi yang membuat gila.

*

Review:

Saya mendapatkan buku ini dari seorang kawan. Awalnya ingin memilih Seruak, tapi sepertinya terlalu tebal untuk dibaca sekarang –dan masih punya tumpukan/janji baca bareng lainnya. Akhirnya setelah melihat-lihat Goodreads, saya tertarik pada Kilah. Sebenarnya sederhana, yang membuat saya tertarik adalah kalimat tentang toko buku yang ada di blurb. Berarti kisah ini ada hubungannya dengan toko buku. Blurb-nya pun sangat meyakinkan, walau sebenarnya tak begitu banyak tokoh, tapi di blurb digambarkan tokoh ada begitu banyak –dan sebagiannya misterius.

Kilah berawal dari  kehidupan Karly –seorang pemilik toko buku, anak orang kaya tapi baik dan ceria. Di tokonya, bekerja seorang perempuan pendiam bernama Aruna. Gadis itu adalah satu-satunya pegawai di sana, jarang bicara dan jarang bercerita. Padahal Karly ingin sekali menjadi temannya. Kehidupan Aruna pun misterius. Karly tidak tahu banyak tentang Aruna kecuali bahwa gadis itu hampir tak pernah makan siang, padahal Karly merasa sudah memberinya gaji yang cukup.

Suatu kali, Iago, seorang traveler datang ke toko buku Astaseni milik Karly.  Dari sanalah kisah bermula. Seluruh fantasi-fantasi di alam bawah sadar, keinginan untuk memiliki, rasa iri dan cemburu, bercampur menjadi satu. Karly yang tidak tahu apa-apa pun terseret ke dalam kisah mereka –sebab Iago jatuh cinta padanya, bukan dalam fantasi, tapi dalam kehidupan nyata, padahal Karly sudah bertunangan dengan Radit.

Daripada spoiler, lebih baik saya mengomentari beberapa bagian penulisan saja. Sebenarnya untuk ukuran buku terbitan Grasindo di mana saya sempat bernaung, saya agak heran kenapa masih ada editan yang terlewatkan oleh editor –padahal buku ini tipis. Hanya masalah kecil, seperti ‘orangtua’ yang penulisannya ‘orang tua’ atau seperti ketidakharmonisan kalimat. Seingat saya hal-hal kecil seperti ini biasanya selalu berhasil diatasi di sana sebelum naik cetak. Tapi sudahlah. Mari kita bahas plot.

Di bagian cover ada tulisan  ‘a psychothiller novel’ dan saya bahagia membacanya. Saya membayangkan petualangan besar di dalamnya; tentang apa saja –mungkin psikopat sakit jiwa, mungkin kepribadian ganda, mungkin skrizofenia, dan sebagainya. Tapi ternyata ceritanya cukup ringan dan twist-nya pun tak berbelit seperti harapan saya. Dengan mudah twist itu bisa tertebak di pertengahan cerita. Sebenarnya ini lebih mendekati skrizofenia atau bisa memiliki kisah di alam bawah sadar manusia.

Tapi, di Kilah, beberapa hal yang tak semestinya malah dituliskan di bagian depan dan tengah –padahal kata kunci tersebut bisa mengiring pembaca untuk menebak twist yang sudah disiapkan di akhir cerita. Awalnya dengan kata kunci ‘mint’ saya bingung siapa tokoh aku yang memiliki fantasi jahat tersebut; Aruna atau Karly. Sebab kecurigaan saya mengacu pada Aruna, tapi di kehidupan nyata malah Karly yang suka mint. Tapi kemudian dengan mudah saya menebak Aruna, sebab dikisahkan orangtua Karly masih ada, masih hidup, dan bahkan sepertinya masih segar bugar. Karly datang dari keluarga yang bahagia, dan tidak mungkin dalam fantasinya hidup cerita kelam. Bahkan untuk melihat hal buruk saja ia barangkali tak pernah –sebab gadis itu selalu dijaga baik-baik oleh tunangannya, Radit.

Kemudian untuk tokoh Radit, walau ia hanya tokoh pendukung, tapi sepertinya bisa dibuat lebih kuat. Kecurigaannya pada hubungan Karly dan Iago baru terlintas di akhir dan membuatnya memutuskan menyusul Karly ke Kalimantan. Padahal akan lebih seru dan menegangkan kalau ia bisa curiga dari awal, kemudian menjadi kisah thriller kecil yang menakutkan untuk pembaca. Bagaimana jika ada yang menebak Raditlah psikopatnya? *hyak*

Dan sebenarnya sosok Karly pun digambarkan agak sedikit aneh. Awalnya ia berkeras ikut Iago ke Kalimantan –tepatnya termakan bujukan Iago. Tapi katanya ia melakukan itu karena ia sayang pada Iago, tapi belum bisa memilih antara lelaki itu atau Radit. Tapi setelah semua kejadian buruk selesai, dan Radit menyelamatkannya, Karly kembali begitu saja pada Radit bahkan sepertinya tanpa berpikir. Hanya agar hidupnya aman, mungkin itulah yang ada dalam pikiran Karly –kontras dengan ucapan sayang dan pelukannya untuk Iago sesaat sebelum kejadian nahas itu menimpa mereka. Terkesan terburu-buru, serba terburu-buru. Ia terlalu terburu-buru jatuh cinta pada Iago dan melepaskan lelaki itu pun dengan sama cepatnya.

Sementara menurut saya, sosok Aruna yang paling kuat di sini. Ia digambarkan dengan cukup baik. Cover buku ini pun cukup memikat. Di saat novel thriller lain mengusung hitam atau merah atau putih, Kilah hadir dengan warna kuning dan ilustrasi yang ciamik. Dan dengan demikian saya pikir saya akan memberikan 3/5 bintang untuk Kilah dan Vinca.

Jatuh cinta itu seperti sedang memperhatikan proses perubahan warna langit; tidak terasa saking kita menikmati keindahannya, tapi tahu-tahu sudah berubah gelap. – hal. 101

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s