REVIEW: Amba – Laksmi Pamuntjak

Judul: Amba
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Juni 2015 (Cetakan Kelima Edisi Revisi)
Harga: Rp 98.000,-
Jumlah halaman: 578 hal.
ISBN: 9789792299847

*

Blurb:

Tahun 2006: Amba pergi ke Pulau Buru. Ia mencari orang yang dikasihinya, yang memberinya seorang anak di luar nikah. Laki-laki itu Bhisma, dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur, yang hilang karena ditangkap pemerintah Orde Baru dan dibuang ke Pulau Buru. Ketika kamp tahanan politik itu dibubarkan dan para tapol dipulangkan, Bhisma tetap tak kembali.

Novel berlatar sejarah ini mengisahkan cinta dan hidup Amba, anak seorang guru di sebuah kota kecil Jawa Tengah. “Aku dibesarkan di Kadipura. Aku tumbuh dalam keluarga pembaca kitab-kitab tua.” Tapi ia meninggalkan kotanya. Di Kediri ia bertemu Bhisma. Percintaan mereka terputus dengan tiba-tiba di sekitar Peristiwa G30S di Yogyakarta. Dalam sebuah serbuan, Bhisma hilang selama-lamanya. Baru di Pulau Buru, Amba tahu kenapa Bhisma tak kembali.

*

Review:

Seperti yang pernah saya tuliskan di salah satu media sosial pribadi saya, bahwa buku yang sialan adalah buku yang membuat saya tak tahu lagi harus menuliskan ulasannya mulai dari mana dan dengan kalimat pembuka yang seperti apa. Amba adalah salah satu dari buku sialan di antara beberapa buku sialan lainnya yang pernah saya baca. Awalnya, saya belum tertarik membaca Amba meski tertarik dengan blurb-nya. Ketebalan buku ini membuat saya kurang yakin bisa menyelesaikannya dalam waktu cepat –tapi ternyata saya hanya butuh waktu 14 hari untuk membacanya. Tidak terlalu lama, walau tidak juga terlalu cepat.

Amba berkisah tentang seorang perempuan asal Kadipura bernama Amba Kinanti. Pada masa kanak dan masa remajanya, Amba bukan gadis yang cantik. Dalam hal cantik, ia kalah pada kedua adik kembarnya: Ambika dan Ambalika. Pun, dalam kitab-kitab tua kesayangan ayahnya, Amba hanya sepotong bagian sedih dari kisah wayang. Seorang perempuan yang sudah punya pasangan bernama Salwa dan kemudian diculik seorang lelaki lain bernama Bhisma tapi kemudian keduanya tidak memilih dia. Amba tak ingin jadi seperti itu, ia tak ingin menjadi menyedihkan. Jadi karena sadar dirinya tak cantik, ia kemudian menjadi anak yang cukup pandai. Suatu kali, ayah ibunya ‘membawa’ kabar bahwa mereka baru saja bertemu lelaki muda yang menarik di Jogja. Tak lama,  Amba tahu bahwasanya orangtuanya berharap ia berjodoh dengan si lelaki –yang ternyata adalah Salwa. Di titik itu Amba ingin menertawakan hidup, ia berharap seorang bernama Bhisma muncul dan menculiknya pergi, karena sepertinya jiwanya tidak sealiran dengan Salwa.

Seolah mengabulkan keinginan Amba, nasib kemudian membawanya pada Bhisma Rashad, seorang dokter muda yang bekerja di tempat yang sama dengan Amba di Kediri: sebuah rumah sakit kecil. Di sana mereka menjalin cinta hingga akhirnya berlanjut ke Jogja. Peristiwa 1965 yang meledak pula di Yogyakarta (selain ibukota Jakarta), memisahkan mereka. Bhisma yang banyak berkawan dengan orang-orang CGMI, LEKRA, dan orang partai kiri kemudian diciduk pula bersama dengan kawan-kawannya dan dipenjarakan ke Salemba –berlanjut ke Nusakambangan dan akhirnya dibuang ke Pulau Buru; sebuah pulau tempat tahanan politik (tapol) ditahan. Buru barangkali identik dengan Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan yang juga eks tapol. Di sana pula Bhisma menghabiskan hidupnya semenjak tahun 1971 hingga meninggal di 1999.

Ia tak pernah kembali, walau para tapol gelombang terakhir telah dibebaskan. Untuk satu dua alasan, Bhisma memilih tinggal di Buru bersama eks tapol lain yang memilih jadi penduduk tetap. Orang-orang melihatnya sebagai seorang pendiam yang sakti. Ketika para tentara ingin meyiksanya, Bhisma seperti tak merasakan sedikitpun rasa sakit di tubuh. Orang mengenalnya sebagai Resi dari Waeapo, yang menikah dengan seorang putri kepala suku di sana.

Amba datang tahun 2006, dalam usia 62 tahun sebab seorang asing mengiriminya e-mail dan mengatakan Bhisma telah meninggal. Kabar itu datang sesaat setelah suami sahnya –Adalhard Eilers meninggal karena sakit. Merasa anaknya sudah dewasa dan tak ada lagi yang menahan dirinya, Amba memutuskan datang ke Buru bersama Zulfikar Hamsa, seorang eks tapol yang pernah dekat dengan Bhisma di sana. Perjalanan panjang dimulai dan mempertemukan Amba dengan Samuel Lawerissa –lelaki asli Buru yang terombang-ambing ke Belanda di masa kecilnya dan akhirnya dikembalikan orangtuanya ke kampung halaman mereka.

Di sana kepingan panjang terangkai menjadi satu cerita utuh; masa muda Amba dan Bhisma, CGMI dan partai kiri para tahun 1965, kawan-kawan Bhisma, cinta Bhisma untuk Amba, pelarian Amba, Salwa dan cintanya yang sedemikian rupa, hingga pernikahan Amba dengan Adalhard Eilers karena ia telah mengandung anak Bhisma –sementara lelaki itu menghilang dan dipenjara. Bagian ini membuat saya merinding, bahwa ada lelaki seperti Adalhard Eilers yang sudi menikahi Amba dalam keadaan hamil untuk menyelamatkan masa depannya. Ia mencintai Amba dan Srikandi Eilers –anak Bhisma yang lahir setelah mereka menikah, hingga akhir hayatnya. Walau Amba tampak dingin dan tak pernah mencintainya. Ibu malah menjadi dinding pemisah antara Bapak dan dunia, ujar Siri atau Srikandi, suatu kali, saking marahnya pada sikap sang ibu. Setelah Adalhard meninggal, Srikandi sibuk dengan hidupnya dan berusaha menenggelamkan rasa sedih sebab terlalu cinta pada ayah tirinya tersebut.

Bagian lain yang membuat saya merinding  adalah kenyataan bahwa Bhisma tak pernah melupakan Amba barang sejenak. Di Buru, ia juga terus menulis surat untuk Amba dan menguburkannya di suatu tempat, berharap suatu hari surat-surat itu tiba di tangan Amba. Ia menikah lagi dengan anak kepala suku di Waeapo tapi tak pernah menyentuhnya sebab hatinya masih tertinggal pada Amba. Anak kepala suku itu, pun sama halnya dengan Adalhard Eilers, memiliki seseorang yang mereka inginkan tapi tak mendapatkan hatinya secara utuh.

Setelah kematiannya, Bhisma dimakamkan di Buru. Jejaknya hilang dan hanya tertinggal di Waeapo tempat ia dinobatkan sebagai seorang resi. Tak ada lagi orang-orang di kamp penahanan yang ingat ke mana Bhisma terakhir pergi. Pencarian inilah yang kemudian menjadi seru dan membawa Amba ke berbagai petualangan, ke berbagai pilihan hidup.

Membaca Amba buat saya adalah paket lengkap; penokohan yang kuat, diksi yang bagus, penceritaan yang mengalir, konten sejarah yang tak dangkal. Seorang kawan bilang, diksi dalam novel Amba agak sedikit melenakan dan kelamaan akan membuatmu mengantuk ketika membacanya. Mendayu-dayu memang, tapi Laksmi Pamuntjak piawai menceritakan banyak hal secara detail dan saya selalu suka bagian ini. Kalau bisa saya tulis ulang, mungkin Amba takkan setebal ini. Beliau bisa menjelaskan sesuatu hal dengan rinci dan jelas, sehingga hampir tak pernah ada pertanyaan yang menggantung setiap kali membaca bagian-bagian ceritanya.

Tokoh Amba juga digambarkan sebagai tokoh yang kuat; perempuan yang pemberani, walau kadang ragu-ragu, tapi akhirnya bisa memilih sendiri jalan hidupnya. Bersama Adalhard Eilers ia mendobrak cerita wayang yang selama ini menghantui hidupnya. Bahwa ia dipilih, setidaknya oleh Adalhard pada akhirnya dan menikah dengan lelaki itu.

Sedangkan tokoh lain walau hanya numpang lewat, cukup menarik untuk disimak. Mungkin seperti Paramita Rashad –kakak perempuan Bhisma, Srikandi Eilers –putri Amba dan Adalhard (atau secara biologis, Bhisma), Samuel Lawerissa –lelaki asing yang bertemu Amba dalam perjalanan ke Buru dan kemudian membantunya menemukan makam Bhisma, Mukaburung –putri kepala suku yang menjadi istri Bhisma sesaat sebelum ia meninggal, dan tak lupa si kembar Ambika dan Ambalika –dua perempuan cantik yang berharap ada pangeran berkuda putih datang untuk menikahi mereka karena kecantikannya.

Laksmi Pamuntjak menuliskan pergolakan politik 1965 dalam balut kisah cinta dua anak manusia dengan apik, merangkainya menjadi sebuah pencarian panjang yang bermuara hanya pada satu jawaban. Pada akhirnya Amba mendapatkan jawaban itu, tentang cinta Bhisma padanya. Dan pada saat itu, seluruh pertanyaan Amba selama 41 tahun mendapatkan jawaban dengan sendirinya.

*

Quotes:

  1. Di Pulau Buru, laut seperti seorang ibu: dalam dan menunggu. Embun menyebar seperti kaca yang buyar, dan siang menerangi ladang yang diam. Kemudian malam akan mengungkap apa yang hilang oleh silau. – hal. 17
  2. Kesetiaan selalu dikhianati, atau ia menanti selamanya untuk sesuatu yang tak pernah dimiliki. – hal. 35
  3. Ia harus mendidik dirinya untuk menjaga jarak dengan orang lain, dan juga untuk menjaga jarak dengan kata-kata yang sewaktu-waktu bisa berkhianat. – hal. 65
  4. Sejarah adalah lelucon yang penuh akal bulus. – hal. 74
  5. Ia tak mengerti mengapa Tuhan menyebabkan banyak hal penting menjadi tak jelas –tak jelas siapa yang benar, siapa yang salah. Atau mungkin benar atau salah bukan perkara penting. Mungkin yang penting bagaimana pintar berbeda. – hal. 114
  6. “Jika aku pergi, kunjungilah aku setiap Kamis; bacakan sepucuk surat ke dalam mimpiku.” – hal. 178
  7. Orang dewasa senang memberi petuah tentang dunia yang berbahaya. Mereka melakukannya bukan karena mereka kenal dunia, tapi karena mereka ketakutan. – hal. 186
  8. “…yang tertindas akan selalu melawan, dan meskipun tak jarang hancur dan dibantai, akhirnya dunia akan berubah untuk kemenangan mereka.” – hal. 266
  9. Lalu, sebagaimana bayi, kami ditimang-timang dalam ilusi tentang nasib. Tapi pada hari keenam, hari terakhir perjalanan, semuanya berbalik. Senapan mulai berayun dan laut marah. – hal. 373
  10. Ia tahu sejarah sering kali biadab, maka ia tahu diri. Ia telah melatih dirinya diam seribu basa ketika orang meengatakan mereka “membenci komunis” tanpa benar-benar mengerti apa yang mereka benci, tapi tahu bahwa dengan mengatakan itu segala kelam dan cemas di udara seakan tertebas. – hal. 388
  11. “Dan di Buru semua penantian selesai. Di Buru kami hidup untuk mati.” – hal. 428
  12. “Saya pernah menyangka ada pengorbanan diri yang harus dijalani supaya kebencian tidak menang. Tetapi bahkan di hati para pejuang yang berani, seperti yang saya temui selama dalam tahanan, kebencian tidak pergi, juga di antara “kawan”. – Bhisma Rashad – hal. 554
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s