Review: 7 Divisi – Ayu Welirang

Gambar: Goodreads

Judul: 7 Divisi
Penulis: Ayu Welirang
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: Maret 2014 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp – (baca di apps iJakarta)
Jumlah halaman: 203 hal.
ISBN: 9786022514367

*

Blurb:

7 hari. 7 pribadi. 7 alasan. 7 kemampuan: 7 Divisi …

Surat-surat perekrutan misterius menghampiri tujuh anak manusia dengan latar belakang berbeda. Surat tersebut datang kepada mereka masing-masing dengan cara yang tak sama. Gitta, Ichan, Tom, Ambar, Dom, Bima, dan Salman. Tujuh orang ini tak pernah menyangka akan dipertemukan dalam suatu ekspedisi besar, dengan divisi sesuai kemampuan mereka masing-masing.

Pertemuan yang mengubah segalanya. Mengubah ritme hidup, mengembalikan masa lalu, dan menghilangkan yang lain. Berbagai kejadian menegangkan dan misteri-misteri mulai bermunculan ketika mereka mencoba menaklukkan sebuah gunung keramat. Rupanya, ada seorang lelaki misterius di balik ekspedisi besar itu. Dan ketika mereka menyadari sesuatu sedang terjadi, mereka sudah terlambat.

Ketika tim ekspedisi ini mulai solid, satu per satu dari mereka mulai disesaki tragedi. Mereka terpaksa dihadapkan pada pilihan pelik; kehilangan satu orang… atau satu tim sekaligus.

Dapatkah mereka menuntaskan ekspedisi ini? Dan akankah mereka tetap kembali utuh saat pulang?

*

Review:

Salah satu yang menarik dari 7 Divisi adalah mengenai tema besarnya; petualangan penuh misteri, unsur magis, dan sejarah/budaya. Dikisahkan, 7 orang pecinta alam diundang untuk melakukan ekspedisi oleh Rudolf, seorang blasteran Belanda-Jawa yang terobsesi ingin memiliki sebuah artefak kuno. Di gunung Arcawana, artefak itu dilindungi oleh Gusti, seorang tetua desa Babad Bali yang tak kasatmata. Ada yang bisa melihat desa tersebut, dan ada juga yang tidak. Ada yang bilang bahwa Babad Bali bisa dicapai dengan bersepeda saja, tapi ada juga yang sama sekali tak pernah melihatnya. Desa itu seperti diselimuti sesuatu yang berusaha melindunginya dari masyarakat luar.

Ichan, Gitta, Ambar, Dom, Tom, Bima, dan Salman kemudian memutuskan menerima tawaran ekspedisi bernilai besar tersebut. Awalnya, mereka hanya menginginkan petualangan, tanpa tahu bahwa sebenarnya mereka hanya dimanfaatkan untuk mendapatkan artefak magis yang dinilai bisa membuat seseorang mencapai moksa. Di tahap ini saya tak berani komentar banyak sebab menyangkut sebuah kepercayaan juga. Nggak begitu paham mengenai moksa juga sebenarnya.

Perjalanan pun dimulai. Mereka harus melewati hutan penuh kabut, tebing tinggi, jurang yang dalam, serta beberapa hal ganjil seperti senyuman seorang perempuan Bali di permukaan air danau, atau seperti misteri suara ayam hutan yang sering mengusik pendengaran Ambar.

Penokohannya tak bisa dibilang kuat sih menurut saya. Hanya beberapa tokoh yang sepertinya menonjol. Dua di antaranya mungkin Gusti dan Ichan. Gitta sendiri yang mungkin merupakan tokoh utama perempuan, buat saya digambarkan mendekati sempurna, kecuali kenyataan dia hampir DO dari kampus. Sesungguhnya, saya tidak suka tokoh yang kelewat sempurna –walau, ya, saya tahu kok bahwa memanusiakan sebuah tokoh itu tingkat kesulitannya lumayan :p

Dan seperti yang bisa ditebak, kemudian ada kisah cinta berliku dalam petualangan ini. Ichan dan Tom sama-sama menaruh hati pada Gitta. Sedangkan Ambar menyukai Ichan. Dan Dom menyukai Ambar. Tentu kemudian bisa ditebak juga konflik dan bumbu percintaannya. Yhak, Tom suka cemburu melihat Gitta dan Ichan. Dom sering gusar melihat Ambar cemburu pada Ichan-Gitta. Dan endingnya pasti Tom yang mengalah atau kalah. Sudah tertebak dari awal, tapi tak mengapa.

Tapi terlepas dari itu, kisah petualangan mereka tak kalah seru. Justru di dalam hutan itulah yang seru, lebih seru ketimbang ketika ada scene milik Rudolf dan cecunguknya. Mungkin 7 Divisi ingin memberikan pelajaran berharga bahwa keseimbangan alam adalah hal yang cukup penting untuk dijaga. Sebab banyak orang yang datang ke gunung karena penasaran atau karena mengincar sesuatu, tapi tidak memperhitungkan risiko atas perbuatan mereka.

Novelnya juga ditulis dengan gaya yang asyik walau beberapa bagian masih ada kesalahan penulisan nama. Misal, seharusnya Gusti, malah ditulis Rudolf. Dan walau di beberapa bagian lain, terkesan dipaksakan. Seperti misalnya Tom yang mendapatkan flyer mengenain tawaran ekspedisi The big Wall itu secara kebetulan: di jalan, naik motor, dan sedang kesal usai ribut dengan Ichan.

Kalau saya ada di jalanan yang sumpek dan sedang emosi, jarang sekali rasanya memperhatikan flyer secara detail apalagi memikirkannya terlalu jauh. Tapi Tom melakukan ini. Hanya karena ‘pertemuan pertama’ dengan flyer tersebut, ia langsung memutuskan untuk ikut, bagaimana pun caranya. Dan saya tak paham, apakah suruhan Rudolf ini memang sangat penuh perhitungan atau gimana, tapi gimana kalau sebelum Tom lewat di jalan tersebut, ada orang lain yang punya terlalu banyak waktu lowong kemudian membaca flyer tersebut dan apply untuk ikut ekspedisi juga? Padahal Tom yang memang diincar oleh mereka.

Endingnya pun sepertinya ingin ‘meledakkan’ sebuah twist, tapi saya rasa itu tak sepenuhnya meledak. Bahkan terkesan agak datar dan biasa saja. Oke, saya memang kaget ketika tahu bahwa (sensor nama tokoh) masih hidup. Tapi gimana, ya. Kesannya endingnya masih separuh jalan, sebab pakai tipe ending gantung, tapi juga tidak padat penceritaannya. Saya menyudahi membaca buku ini dengan perasaan, “eh, udahan aja nih?”

Barangkali salah satunya karena saya tak menyenangi ledakan twist yang tidak total.

Well, ternyata buku ini akhirnya selesai juga.

Sejarah ini tak bisa ditutupi begitu saja. Pun ia tak bisa dipindahkan menjadi sejarah baru; sejarah palsu hanya dengan pengabdian benda usang di dalam museum. Sejarah adalah bagaimana sebuah wilayah terbentuk dan tertempa.Hal. 176

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s