Ngobrol Tentang Thriller Lokal

Beberapa hari yang lalu ngobrol dengan seorang kawan yang merupakan penulis sekaligus penikmat buku tentang perkembangan genre thriller lokal. Sebenarnya, tujuan ngobrol-ngobrol cantik itu sekaligus dalam rangka ingin menulis sebuah artikel. Tapi ternyata Bang Brahm -kawan saya itu, menjawab lebih banyak daripada yang saya perkirakan. Jadi, selain membuat artikel, saya masih punya banyak bahan yang bisa diceritakan. Kemudian, saya teringat dengan tema posting bareng BBI bulan Mei ini: menuliskan apapun selain review, dalam rangka Hari Buku Nasional. 

Akhirnya, saya memutuskan untuk memposting hasil wawancara tersebut di blog ini. Semoga cukup bermanfaat bagi kamu yang membaca (atau bagi kamu yang secara tidak sengaja nyasar  di blog ini. Hahaha).

 

1. Kenapa memilih menekuni genre thriller di antara gempuran genre lain (terutama romance) di Indonesia?
Sejak kecil, bacaanku memang sejenis itu. Novelet-novelet Enid Blyton (Lima Sekawan), M. Master (Detektif Cilik), Alfred Hitchcock (Trio Detektif), Stefan Wolf (STOP), dll. Masuk usia remaja ketambahan komik Kung Fu Boy, Tinju Bintang Utara, City Hunter, dan komik-komiknya Tony Wong. Ketambahan lagi novel-novel Bram Stoker (Drakula), Anne Rice (Interview with the Vampire), Mary Shelley (Frankenstein), dsb. Sedikit banyak, semua bacaan itu membentuk seleraku hari ini. Walaupun dulu aku juga baca Donal Bebek, Asterix, Lucky Luke, serial Lupus, dll.

Pada akhirnya, aku memilih thriller dan berbagai variannya, karena lebih suka genre yang tak banyak ditulis orang. Meskipun risikonya juga tak banyak dibeli orang, hahahaha….

2. Suka duka jadi penulis genre thriller lokal?
Sukanya, karena ini sesuai passion-ku, aku mengerjakannya dengan nikmat. Puas. Bangga!

Dukanya? Paling-paling, ya itu tadi, kurang laku. Tapi biarlah. Mau gimana lagi. Masa aku harus nulis romance? Atau novel-novel motivasi macam Laskar Pelangi, Sepatu Dahlan, dsb.? Atau cerita-cerita vampir-serigala? Udah banting setir gitu ternyata nggak best seller juga, kan cilukba moment banget. Ruginya juga dobel!

Makanya, jadi diri sendiri saja. Nggak ada rasa iriku terhadap penulis yang karya-karyanya laris manis. Sebagai novelis, tugasku cuma bantu-bantu penjualan novel sebisaku, dan selalu berusaha agar karya hari ini lebih baik dari karya kemarin. Selebihnya, aku yakin rezeki nggak bakal tertukar. Dan rezeki nggak harus berupa uang.

thriller lokal

3. Bagaimana kira-kira kondisi pasar terhadap genre thriller belakangan ini? Apakah penjualannya stabil, meledak, atau malah lesu?
Itu para penerbit yang lebih mengerti dan pegang datanya. Yang jelas, nggak meledaklah. Cuma lumayan. Bersyukur saja. Lumayan ini tentu jangan dibanding-bandingkan dengan pasarnya Raditya Dika, Tere Liye, Andrea Hirata, Asma Nadia, Eka Kurniawan, Dewi Lestari, Christian Simamora, Tasaro GK, dll. Toh mereka juga ogah dibanding-bandingkan dengan Brahmanto Anindito, kan? Hihihi…

4. Menurut abang, kira-kira thriller seperti apa yang disukai pembaca Indonesia?
Aku nggak bisa meramal apa yang disukai pembaca Indonesia. Bola kristalku udah aku jual buat beli beras minggu lalu. Tapi yang best seller itu mungkin yang berbau konspirasi dan penuh simbol-simbol macam Rahasia Meede, Negara Kelima, atau Jacatra Secret. Itu kan yang heboh dan kelihatannya cetak ulang bolak-balik. Sayangnya, seleraku justru nggak ke situ. Apa mau dikata.

5. Sebutkan maksimal 2 penulis thriller paling keren menurut abang (boleh penulis lokal atau internasional)
Tetap Dan Brown dan Stephen King. Yang terbaru kubaca The Girl on the Train. Novel Paula Hawkins itu sedang banyak-banyaknya dipuji. Tapi, rasanya aku tetap lebih menikmati karya-karya Stephen King dan Dan Brown.
Gaya-gaya Dan Brown yang konspiratif dan mainan semiotik (orang Jawa bilang utak-atik gathuk alias cocoklogi) itu sebenarnya nggak terlalu kusuka. Tapi berhubung dia pelopor gaya seperti ini dan seni membualnya terlihat benar-benar matang, aku tetap seru aja bacanya.

6. Apa bagian yang paling sulit dari menulis novel bergenre thriller?
Risetnya dan mengaitkan data dengan realitas.

7a. Seberapa jauh atau dalam riset Abang ketika mengerjakan novel thriller?
Sejauh yang berhubungan dengan alur saja. Kita bukannya mau berburu gelar doktor di sini, kan? Jadi kalau nggak ada hubungannya dengan tokoh, latar, atau konflik, nggak perlulah dicari tahu sampai detail.
b. Apa kadar kedalaman risetnya berbeda untuk tiap naskah?
Pada dasarnya, riset itu untuk menemukan jawaban atau menghilangkan keraguan terhadap bagian tertentu dari cerita. Tentu setiap naskah berbeda, menyesuaikan dengan apa jawaban yang ingin didapatkan untuk membangun cerita itu.
c. Riset novel mana yang paling sulit dan mengapa?
Pastinya novel terbaruku, Tiga Sandera Terakhir. Bayangkan, dunia militer, politik, sejarah Indonesia, dan tanah Papua. Bayangkan, kalau risetnya nyantai sambil ngopi-ngopi cantik dan Facebook-an. Bayangkan!

8. sebutkan maksimal 5 novel thriller lokal yang recommended.
Wah, ini agak sulit. Karena penulis thriller, apalagi yang murni, di Indonesia jarang terlihat. Aku pun di radar mereka barangkali juga nggak terlihat. Seringnya, novel-novel yang dibilang thriller itu lebih mengeksplor unsur misteri, kriminal, penguakan kasus (whodunit), atau horor sebagai elemen thrillnya. Seperti novel-novelku yang Rahasia Sunyi, Satin Merah, dan Pemuja Oksigen. Thriller campuran.

Tapi baru-baru ini, aku baca Sudut Mati (Tsugaeda) dan Spammer (Ronny Mailindra). Keduanya bikin mataku melek. Koin Terakhir-nya Yogie Nugraha boleh juga. Menurutku, karya mereka murni thriller. Si tokoh berpacu dengan waktu. Mengantisipasi kejahatan besar, menjauhi bahaya dari reader-knows-who, bukannya berkutat pada whodunit. Gaya penyampaian mereka juga lugas, kata-katanya sederhana, efisien, dan settingnya riil.

Terus terang, aku kurang update soal pertumbuhan novel thriller lokal. Jadi, aku malah minta bantuan, nih. Siapapun yang tahu novel thriller lokal, milik sendiri atau orang lain, tolong dong infokan ke aku lewat Twitter @brahmandito atau Google Plus +BrahmantoAnindito. Kuharap, novel itu:

  1. Murni thriller. Kalaupun ada unsur horor, detektif, misteri, atau petualangannya, sedikit saja.
  2. Sudah terbit melalui penerbit konvensional. Bukan apa-apa, kalau penerbit indie atau self publish takutnya tata bahasa dan tata alurnya masih keriting, sehingga yang baca juga keriting. Di sinilah terlihat jasa besar editor dan tim penerbitan. Meskipun selalu ada pengecualian.
  3. E-booknya sudah ada di Google Play Store. Biar aku bisa langsung beli, nggak perlu ubek-ubek toko buku atau perpustakaan yang juga belum tentu ada.

Buat apa? Apa hadiahnya? Hahaha, ini bukan sayembara dan aku nggak ngasih hadiah. Ini cuma demi perkembangan thriller Indonesia. Aku akan beli, baca, dan kalau suka, aku review di blogku (http://brahmanto.warungfiksi.net) biar, yaaah… lebih banyak yang tahu.

Kalau aku nggak suka? Aku hanya akan diam. Aku nggak bakal tulis review jelek atau membantai di GoodReads (wong aku nggak punya akunnya). Aku juga nggak bakal kasih bintang 1 atau 2 di Play Store. Tenang saja. Aku hanya akan diam dan move on ke karya thriller lainnya.

9. Penulis pemula/indie/muda yang menurut abang berpotensi (dalam hal ini khusus yang memang menulis genre thriller)?
Yaelaaah, ini pertanyaan lebih sulit lagi -__- Kok kayak UN aja ya, makin lama, bobot pertanyaan makin berat. (komentar saya: HAHAHAHA, dengan nada puas)

Aku percaya kok, ada banyak talenta-talenta muda, yang lebih hebat dari aku sekalipun. Cuma, aku kebetulan belum tahu. Aku kan nggak pernah nongkrong di Wattpad atau tempat-tempat potensial untuk memantau perkembangan penulis-penulis baru. Sekali lagi, kalau ada yang tahu novel dengan tiga kriteria di atas, kabar-kabar, ya….

10. Harapan abang untuk genre thriller lokal?
Gambaran sederhananya, lihat saja dunia pertelevisian luar. Banyak variasi, kan? Seger, kan? Mulai dari Sherlock Holmes, Game of Thrones, Walking Dead, superhero-superheroan DC, sampai musikal macam Glee. Pertelevisian di sini? Cenderung homogen dan ngikut mainstream saat itu.

Aku pribadi nggak mengharap novel thriller lokal tiba-tiba banyak pembacanya. Karena dengan kultur homogenisasi dan mainstreamisasi kita tadi, perubahan tren itu hanya akan membuat genre thriller menjadi pasaran. Yakin, deh!

Harapanku hanya supaya supply (penulis-penerbit) dan demand (pembaca) masing-masing genre bisa lebih berimbang. Itu saja.

*

Demikianlah adanya. Sebagai pembaca yang kadang menulis genre yang sama, saya harus mengakui bahwa saya setuju dengan beberapa pendapat beliau. Tapi setidaknya di Indonesia, thriller masih diterima walau sedikit. Alangkah lebih sedikitnya lagi produk fantasi lokal yang beredar, sebab sampai detik ini saya tahu bahwa penerbit kita belum berani menerbitkan naskah fantasi karya penulis lokal. Masih banyak sekali pertimbangannya, dan pada akhirnya penerbit besar memilih tidak mengambil risiko. Entah apa sebabnya, barangkali gengsi atau perspektif pembaca bahwa fantasi luar pasti lebih keren termasuk salah satu di antaranya. Sedangkan thriller masih cukup mendapat seuprit tempat di rak-rak toko buku, dan setidaknya itu sudah lebih beruntung.

🙂

Advertisements

10 thoughts on “Ngobrol Tentang Thriller Lokal

  1. Loh kamu belum baca Tiga Sandera Terakhir, Vin? Nih kupinjemin deh. Aku punya itu buku yang ada di foto tapi yang kebaca baru Rahasia Meede *prinsip penimbun* eh tapi yg Satin Merah belum punya ding.

    Dan ini gimana bisa Mput bisa wawancara penulisnya? Aihh keren. tapi, rata-rata thriller yg ditulis penulis lokal lumayan bagus kok, apalagi yg ES Ito itu keren banget. Nggak kalah sama Dan Brown tp ini settingnya Indonesia.

  2. bener juga sih, rasanya aku masih jarang baca buku thriller Indonesia. Satu2nya yang sudah kubaca itu malah bukunya Bram, Metropolis hehehe.. Seru juga sebenernya dan bisa dapet pengetahuan berbeda tentang dunia polisi di Indonesia. Pernah juga baca Negeri Para Bedebah nya tere Liye, yang sebenernya masih ada unsur thriller nya. Cuman saja baca buku itu malah dapet feelnya kayak baca buku Indonesia yang berusaha tampil seperti buku luar hehehe

  3. Nah, aku udah pernah baca buku bang Bram ini, yang Rahasia Sunyi. Tapi maaf sebelumnya, rasanya kurang mengena thrillernya 😦 (malah jatuhnya jadi horor, dan aku ga suka ._. )

    Eniwei Mput, penerbit kita yang belum berani menerbitkan fantasy lokal memangnya penerbit apa? Mizan sudah banyak lho, dengan lini Fantasteennya. Apalagi dulu masa – masa Vandaria saga juga kan GPU pernah nerbitin bukunya. Cuma memang akhir – akhir ini saja kurang terdengar kabar fantasy lokal.

    • Eniwei Mput, penerbit kita yang belum berani menerbitkan fantasy lokal memangnya penerbit apa?

      — nggak seramai itu sih kalau menurutku. dan kesempatannya (untuk mengirimkan naskah ini) juga belum sebesar genre lain. Kalau ditanya yang belum pernah berani menerbitkan fantasi ya banyak kok. bahkan aku liat di penerimaan naskah/perlombaan nulis, fantasi kerap dijadikan pengecualian untuk dikirimkan. Kalau GPU dan mizan berani menerbitkan, mungkin krn efek bahwa mereka memang penerbit yang udah besar dan stabil. Jadi kalaupun fantasi lokal ini endingnya gak memuaskan, ya mereka nggak roboh-roboh amat. Kalau yang middle atau yang masih baru biasanya gak mau ambil risiko dengan fantasi.

      Btw, mizan fantasi khusus fantasi lokal semuakah? Aku tahu mizan fantasi ini, sih, tapi gak perhatikan seberapa banyak lokal dan seberapa banyak luar. Sebab nggak memperhatikan sejauh itu. Hahaha.

  4. Dan, setelah dipikir-pikir, banyak juga buku-buku thriller lokal yang sudah kubaca. “Koin Terakhir”, buku-buku Tsugaeda “Rencana Besar” dan “Sudut Mati”, “Tiga Sandera Terakhir” karya Abang-nya Mput yang jadi tamu di artikel ini, sampai “Katarsis”–buku thriller yang baru kubaca. “Satin Merah” dalam antrian membaca. Lalu ada juga “Misteri Patung Garam” yang sepertinya menarik dan termasuk genre thriller juga.

    (Sorry ya, komentar dua kali.)

    Regards.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s