Review: Cinta Tak Pernah Tepat Waktu – Puthut EA

Gambar: Goodreads

Judul: Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
Penulis: Puthut EA
Penerbit: EA Books
Tahun Terbit: Mei 2005 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. – (dengar di Listeno)
Versi: Audiobook
Jumlah halaman: 319 hal.
ISBN: 978-979-91-0260-7

*

Blurb:

Adalah sebuah novel. Novel ini berkisah tentang pergolakan pemikiran, goncangan batin, pencarian cinta, dan upaya untuk menyembuhkan diri dari penyakit yang diderita oleh sang tokoh utama. Ia terus pergi dan melangkah, berharap semua luka yang dideritanya dapat kering oleh jarak yang tertempuh dan sembuh karena waktu. Di perjalanan itu, sang tokoh menemukan dan merenungkan banyak hal.

Sebuah kisah yang mengajak anda untuk membumi, bahwa hidup acapkali bukanlah soal apa yang Anda inginkan, melainkan apa yang Anda miliki.

Sebuah novel yang memaklumkan bahwa pada akhirnya hidup ini sangat berharga, dan lebih karena itu layak untuk dijalani.

*

Review:

Baru saja menyelesaikan Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Dan sekaligus menjadi buku pertama Puthut EA yang saya baca (oke, atau saya dengarkan, karena via audiobook). Sebelumnya, saya tidak tahu bagaimana gaya bercerita beliau. Jika ditilik dari bab-bab awalnya saja, mungkin orang-orang akan mengira bahwa ini adalah kumpulan cerita. Saya pun demikian awalnya, walau ternyata ini adalah sebuah novel.

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu bercerita tentang seorang pemuda yang digambarkan sebagai ‘aku’. Cerita yang sederhana sebenarnya, diksinya pun biasa saja, tapi entah kenapa saya merasa ceritanya cukup mengalir, sehingga tidak perlu banyak tenaga ekstra untuk mencerna makna-makna dalam ceritanya. Saya pun kerap mendengarkan satu atau dua bab sebelum tidur malam.

Kisah dalam buku ini berputar pada seorang pemuda –si tokoh Aku, yang uring-uringan dengan tuntutan ibunya untuk segera menikah, padahal ia belum ingin. Bahkan ketika pulang ke kampung halamannya, ia mendapati ibunya sudah akrab dengan seorang perempuan muda yang ia curigai akan dijodohkan dengannya seperti kejadian yang sudah-sudah.

Ada pula kisah tentang perkenalan ‘aku’ dengan perempuan-perempuan lainnya, baik yang sangat berkesan baginya maupun yang selewat saja. Bahkan ada pula yang sempat berpacaran dengannya tapi kandas di tengah jalan karena ia belum bisa berdamai dengan salah satu kisah di masa lalu. Tapi bab favorit saya adalah Percakapan di Taman dan bab tentang Kania, seorang perempuan pemilik kedai kopi Rahasia. Terlebih, di bab Kania pula si tokoh aku bercerita mengenai teman-teman yang dijumpainya pada saat acara launching bukunya sendiri.

Saya merasa sebagian (atau mungkin semua) isi buku ini adalah kisah nyata. Sebab Puthut EA sendiri hadir sebagai tokoh pendukung di bab Kania. Kala itu, Puthut EA ingin membuat sebuah novel tentang tokoh ‘aku’. Semua yang hadir di kafe menertawainya, salah satunya Eka Kurniawan, yang berkata akan menyerahkan laptopnya jika Puthut berhasil menyelesaikan novel dalam waktu sebulan. Saya sih curiganya, novel yang akhirnya selesai itu yang kemudian diterbitkan dengan judul Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Walau sampai akhir cerita saya tak pernah tahu siapa sebenarnya sosok tokoh ‘aku’ itu. Jika saya benar, berarti saya adalah penebak yang pintar. Tapi jika saya salah, berarti Puthut EA adalah pencerita yang baik, sebab berhasil membuat saya berpikir itu adalah kisah nyata.

Pada akhirnya, saya paham mengapa buku ini diberi judul Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Barangkali karena memang kisah cinta si tokoh ‘aku’ tak pernah tepat waktu sesuai keinginannya. Selalu ada halangan yang menghadang. Selalu ada peristiwa yang mengangetkan.

“Jangan pernah menghancurkan harapan seseorang. Sebab mungkin itulah satu-satunya hal penting yang mereka miliki.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s