REVIEW: Manjali dan Cakrabirawa – Ayu Utami

Judul: Manjali dan Cakrabirawa
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit: Juni 2010 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. – (dapat  dari bookswap)
Jumlah halaman: 252 hal.
ISBN: 978-979-91-0260-7

*

Blurb:

Marja membual bahwa baginya yang penting cowok itu enak diajak ngomong dan perutnya sixpack.

Sumi, banci salon favoritnya, menjawab, “Ike juga mau, dong, cowok yang begitu. Kayak apa sih pacar baru kamu?”

Lalu Marja memperlihatkan foto Parang Jati yang bertelanjang dada. .

Sumi menjerit, “Aih! Cakrabirawa! Bikin ike jadi gerwani!”

Maksudnya, aih, cakep banget, bikin aku jadi geregetan…

Marja adalah gadis Jakarta. Kekasihnya menitipkan ia berlibur pada sahabatnya, Parang Jati. Mereka menjelajahi alam pedesaan Jawa serta candi-candi di sana, dan perlahan tapi pasti Marja jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Parang Jati membuka matanya akan rahasia yang terkubur di balik hutan: kisah cinta sedih dan hantu-hantu dalam sejarah negeri ini. Di antaranya, hantu Cakrabirawa.

*

Review:

Sudah agak lama mengincar buku ini, tapi malah dapatnya belakangan –setelah memiliki Bilangan Fu dan Lalita (hanya Maya yang belum kesampaian). Tapi, karena seorang teman bilang bahwa seri Bilangan Fu tak masalah dibaca sendiri-sendiri tanpa urutan, akhirnya saya memutuskan untuk membaca Manjali Cakrabirawa terlebih dulu karena paling tertarik dengan blurb-nya.

 

  1. First impression

Sejujurnya tidak merasa bahwa kavernya greget. Bahkan jika mau dibuat berbeda, harusnya kavernya bisa lebih menarik dari ini. Bukan masalah warnanya juga, sih, sebenarnya. Cuma gambarnya yang terlalu monoton untuk cerita sebagus ini.

  1. How did you experience the book?

Manjali dan Cakrabirawa mengajak pembaca untuk masuk ke dalam kepala Marja Manjali, gadis muda dari ibukota yang berada di antara Sandi Yuda –lelaki bebas sekaligus pemanjat tebing & Parang Jati –lelaki bermata malaikat yang jatuh ke bumi, pembenci militer, penyuka sejarah.

Kepergian Yuda bersama tim militer untuk memanjat tebing, meninggalkan Marja bersama Parang Jati yang kemudian membawanya keliling mendatangi candi-candi di pulau Jawa. Pencarian sebuah artefak membawa mereka ke Candi Calwanarang (Calon Arang), mengisi mimpi-mimpi buruk Marja dengan kisah penyerangan pasukan Cakrabirawa terhadap oknum-oknum PKI di tahun 65, dan hantu Banaspati yang gentayangan di malam hari.

Di sana juga, mereka mendapatkan lebih banyak lagi teka-teki (atau misteri?) yang harus dipecahkan. Menguak masa lalu, pembunuhan seorang prajurit Cakrabirawa yang beristrikan seorang Gerwani dan mencari jejak anak mereka yang terpisahkan dari ayah ibunya –seorang prajurit pasukan elit militer, yang didoktrin untuk membenci segala hal berbau PKI. Seorang anak yang barangkali merupakan sebagian kecil dari banyak korban sebuah rezim.

Seorang penyelamat yang tak diketahui sosoknya, menyelamatkan anak itu, menghembuskan dongeng-dongeng Cakrabirawa, membuatnya walau benci –tapi tetap terobsesi pada kisah Cakrabirawa, agar kelak bisa menemukan sejarah ayah ibunya pula.

Manjali dan Cakrabirawa menuturkan banyak hal, baik dari segi sejarah jawa kuna maupun sejarah modern. Dari relief candi Hindu-Buddha, hingga tragedi pembantaian 1965. Semuanya dituturkan lewat pemikiran polos seorang gadis 19 tahun, Marja Manjali. Tentu dibarengi dengan perspektif Parang Jati, lelaki bermata malaikat yang pelan-pelan mulai membuatnya jatuh hati.

  1. Characters

Marja  Manjali: Seorang gadis kota nan manja, baru berusia 19 tahun dan berpacaran dengan Sandi Yuda –si pemanjat tebing sekaligus lelaki yang hidup bebas. Suatu hari ia dititipkan Yuda pada Parang Jati –sahabatnya, karena Yuda akan pergi memanjat tebing bersama tim militer. Marja kemudian dibawa Jati memasuki hutan-hutan di Pulau Jawa, melihat candi dan sekelabat sejarah kelam negeri ini.

Parang Jati: Lelaki bermata malaikat yang jatuh ke bumi. Berbanding terbalik dengan Sandi Yuda, Parang Jati digambarkan lebih kalem dan tidak banyak bicara, tetapi ketika mengadu argumennya dengan orang lain, ia adalah lelaki yang cerdas.

Sandi Yuda: Lelaki yang lebih urakan dari Parang Jati, lebih liar dan tidak pernah sekalem sahabatnya. Ia berbohong pada Parang Jati tentang kepergiannya, bahwa ia ingin mengejar banyak dosen agar bisa lulus tepat waktu, padahal pergi bersama militer –yang amat dibenci Parang Jati.

Musa Wanara: Teman yang ditemui Yuda di militer. Seorang perwira elit yang didoktrin untuk membenci segala hal mengenai pembantaian 65; pasukan Cakrabirawa, Gerwani, PKI.

Jacques Cherer: Seorang arkeolog Perancis yang merupakan kenalan Parang Jati dan ayahnya. Jacques diajak serta dalam perjalanan mereka, dan lelaki tua ini yang paling peka terhadap sikap Marja & Parang Jati.

Haji Samadiman: Sosok misterius yang hanya disebut namanya, dan tentu hanya tinggal nama, tapi rupanya berjasa cukup besar di masa lalu.

Suhubudi: Ayah angkat Parang Jati, pemilik padepokan yang mereka tinggali selama menggali artefak dan meneliti candi.

 

Perjalanan itu akhirnya lebih mendewasakan Marja si anak manja. Kebiasaannya bertanya mulai berkurang, berganti dengan kebiasaan menganalisis sesuatu. Perkembangan yang cukup bagus untuk si tokoh 😛

  1. Plot

Buat saya yang memang menyukai sejarah dan cerita soal candi-candi, tentu buku ini menjadi menarik. Tapi untuk yang tidak menyukai sejarah, mungkin pula buku ini akan terasa membosankan. Alurnya juga stabil, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Hanya saja, saya merasa Yuda dan Musa Wanara terlalu cepat ketahuan. Di bagian itu cerita rasanya menjadi cepat sendiri.

  1. POV

Kebanyakan isi novel diceritakan dari  sudut pandang Marja, tapi dengan POV 3.

  1. Main Idea/Theme

Mengenai seorang gadis yang berlibur bersama sahabat kekasihnya, kemudian jatuh cinta. Dan tentang pencarian serta penemuan mereka akan sejarah kelam di antara candi-candi Jawa Tengah dan Jawa Timur, sejarah pembantaian PKI dan Gerwani di tahun 1965, sejarah kelam Daha semasa Calwanarang (Calon Arang) dan Airlangga, serta sejarah Cakrabirawa, dan hantu Banaspati yang gentayangan malam hari.

  1. Quotes
  • Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, apakah kita tetap percaya bahwa itu tidak bermakna? – Jacques kepada Marja dan Parang Jati, hal. 19
  • Jika itu terjadi, seorang ilmuwan akan mencari pola-pola. Dan orang beriman akan mencari rencana Tuhan. – Parang Jati kepada Jacques, hal. 19
  • Kita mungkin tidak punya kemampuan untuk mengampuni. Yang bisa kita lakukan adalah berdamai. Berdamai dengan sisi lain manusia yang tak kita mengerti itu. Setiap kita punya sisi gelap, Marja. – Parang Jati, hal. 206
  • Jika pun kita berhasil memecahkan teka-teki, maka ada yang tetap merupakan misteri. Yaitu, bagaimana data-data itu bisa mendatangi kita secara kebetulan. – hal. 217
  • Barangkali itulah ritual yang dijalankan Parang Jati. Ritual momen-momen sunyi. Saat-saat tanpa kata. Saat-saat tanpa bahasa, barangkali. Sebab bahasa memang membantu kita mengerti dunia dengan sebuah cara, tapi pada saat yang sama membuat kita berjarak dari dunia. Momen sunyi barangkali membuat kita mengalami kembali dunia tanpa jarak. Sebuah cara lain mengerti dunia. – hal. 218

 

  1. Ending

Cukup memuaskan. Tapi memang sih masih sedikit menggantung, sebab ada lanjutan di buku berikutnya.

  1. Questions

Mengapa berpikiran membuat fiksi sejarah bercampur cerita magis seperti ini? 😛

  1. Benefits

Menambah wawasan barangkali.

*

Ditulis untuk baca bareng #ReightBookClub Mei 2016: tema romance

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s