Terkadang Saya Takut Meminjamkan Buku Pada Orang Lain

Gambar: Facebook

Dari dulu ada satu hal yang paling saya takutkan dari meminjamkan buku pada orang lain –terutama pada orang yang tidak pernah saya berikan pinjaman buku sebelumnya: saya takut buku tersebut rusak dan kembali ke tangan saya dalam keadaan mengenaskan.

Bahkan, sebisa mungkin saya menghindari meminjamkan buku yang ada tandatangannya. Sebab saya tak tahu mereka akan membacanya di mana; entah sambil makan, entah sambil minum kopi, entah sambil hujan-hujan gerimis di taman (yang bisa bikin buku lecek), entah sambil poop, dan sebagainya.

Saya bisa berang jika tahu buku yang saya jaga baik-baik, malah rusaknya di tangan orang. Lebih baik buku itu rusak di tangan saya sekalian kan, jika memang harus rusak, sebab sayalah pemiliknya. Tapi yang sering kejadian –dan menurut beberapa teman pembaca juga, malah orang lainlah yang sering membuat buku kita rusak. Bukan diri kita sendiri.

Andaikan, coba bayangkan saja, itu bukan buku. Anggaplah itu sesuatu yang kamu sayang. Karena sesuatu yang saya sayang mungkin berbeda dengan apa yang kamu dan kamu juga, sayangi. Anggap itu hewan peliharaan kesayanganmu. Seekor anjing lucu dengan mata puppy eyes yang kamu peluk setiap hari, kamu mandikan hingga wangi, kemudian saya meminjamnya beberapa hari dan saya bawa pulang ke rumah. Lalu saya kembalikan dalam keadaan lusuh seperti hendak mati. Bagaimana rasanya? Pengin nampar orang? Ya, itulah yang kadang dirasakan para penyuka buku jika kamu merusak bukunya.

Saya bukannya sok galak, atau diam-diam pelit, tapi memang begitulah rasanya jika ingin dikatakan secara jujur. Beli buku itu pakai uang tabungan yang kadang dikumpulkan beberapa waktu lamanya. Kami membaca dan menjaganya seperti kamu menjaga hewan peliharaanmu. Kami taruh di rak dengan rapi, dan enggan membiarkan satu senti halamannya lecek. Kemudian, kamu membawanya pulang dengan dalih meminjam, dan di tanganmu buku itu jadi seperti anjing tak terawat tadi.

Lebih baik, kamu beli sendiri ketimbang meminjam 🙂 Apalagi meminjam pada mereka yang memang suka buku. Sebab, bagi saya secara personal, jika tahu buku saya diperlakukan buruk, biasanya saya takkan meminjamkan apa-apa lagi pada orang tersebut. Saya lebih baik dikatain pelit ketimbang semua buku saya rusak. Membeli dan merawatnya juga butuh effort.

Dan barangkali karena sejak kecil saya diajari untuk tidak merusak buku. Ayah saya punya buku 3 rak di rumah, beberapa buku disusun berdasarkan nomor seperti di perpustakaan umum. Ketika saya mengambil salah satunya, saya harus mengembalikan buku tersebut persis di tempatnya semula. Tidak akan ada nomor yang kacau urutannya. Dan tidak da kertas yang terlipat halamannya. Ayah saya merawat buku seperti membesarkan anak. Dan saya rasa, saya terpengaruh olehnya. Di antara banyak benda di rumah kami, hanya rak buku yang tak boleh diacak-acak orang lain. Jika ibu saya merasa rak buku sudah terlalu sempit, beliau akan meminta pemiliknya langsung yang membereskan. Tak ada yang boleh dikeluarkan tanpa seizin pemiliknya. Saya dan ayah saya keras tentang masalah ini.

Sewaktu saya sekolah, ada yang mengatakan –begini kira-kira bunyinya,

“lho, bagus dong kalau bukunya lecek. Itu tandanya dibaca. Nggak disimpan begitu saja.”

Tapi jika sekarang saya mendengar kalimat itu lagi, akan saya jawab,

“bukan. Itu artinya kamu monster. Bukan penyuka atau pembaca buku!”

Sebab saya bisa membaca buku tanpa harus merusaknya.

Dan selalu saya lakukan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s