#WorldBookDay – Antara Membaca dan Menulis Review

Hari ini 23 April 2016 adalah perayaan Hari Buku Sedunia, yang bahasa internesyenelnya World Book Day. Tadi di Twitter, saya sudah cuap-cuap sedikit mengenai pemilihan genre bacaan. Agak mubazir kalau nggak dishare di sini, tapi agak banjir kalau dicopas mentah-mentah dari sana. Jadi Chirpstory sepertinya lebih efektif. Silakan klik tautan di atas.

Ya terus ngapain buat postingan ini lagi, Mput?

Sederhana saja, sebab isinya beda. Walau temanya masih dalam rangka Hari Buku Sedunia yang amat cihuy ini. Jika tadi saya bicara tentang genre bacaan dan pamer rak buku unyu di sudut kamar, sekarang lagi pengin bicara soal minat baca dan menulis ulasan buku di kalangan pembaca Indonesia.

Beberapa waktu lalu, saya dan beberapa teman saya sesama pembaca dan penulis (penulis review, penulis buku, penulis Tweet, penulis di dinding kamar, penulis apa sajalah mereka itu, saya tidak ingat satu per satu) setuju untuk membuat sebuah kelompok membaca. Bacaisme namanya. Kemudian, untuk baca bareng bulan ini hingga awal Mei, kami memilih topik buku-buku Eka Kurniawan –iya, Mas nyentrik yang bukunya seketika heboh karena Man Booker Prize 2016 kemarin itu. Buku-buku Mas Eka sebenarnya nggak berat, tapi juga nggak bisa dibilang ringan-ringan amat. Kebetulan saja, kami semua sedang tertarik padanya, jadi kami memutuskan mengelompok dan membuat kegiatan ini.

Tapi, rasanya kurang afdol kalau kami jalan sendiri. Oleh karena itu kami membuka kegiatan ini agar bisa dimasuki semua orang –bahkan pembaca buku Mas Eka Kurniawan yang lain, walau kami tak saling kenal. Singkatnya, kami melemparkan tawaran itu di sosial media kami masing-masing, memberitahukan pada teman-teman di komunitas buku, penulis, pembaca.

Lebih singkatnya lagi, ada beberapa yang menanyakan hal serupa:

Hanya membacakah? Atau membaca dan ngetweet mengenai buku itu, seperti yang dilakukan Blogger Buku Indonesia bulan lalu. Atau WAJIB menulis ulasan bukunya?

Saya sih sebenarnya tak mengapa jika kamu-kamu yang ikut membaca merasa keberatan menuliskan ulasannya (walau tidak wajib juga menulisnya di blog, sebab kamu bisa menggunakan; kompasiana, Goodreads, Medium, Tumblr, Notes Facebook, atau media yang sedang ngehits belakangan ini –Steller), tapi secara personal, sering saya berpikir, apa gunanya baca kalau tidak ‘diabadikan’ dalam ulasan?

Ini hanya suara berisik dalam kepala saya. Sebab, semakin lama akan semakin banyak buku yang dibaca tentunya, dan saya tak akan bisa mengingat cerita/kekurangan/kelebihan/keunikan buku-buku itu satu per satu. Karena itulah saya menulis review. Tapi kalau ketika membaca, lalu memberi bintang dan ya sudah, 5 tahun lagi ketika saya mengecek Goodreads, saya takkan ingat mengapa saya memberi buku itu bintang sekian.

Sebagian kecil alasan saya menulis ulasan adalah itu. Tapi sepertinya, memang kegiatan menulis ulasan ini adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan jika tidak memaksa diri. Terutama jika minat membaca dan menulis kita tak setinggi itu. Saya tidak ingin mengatakan bahwa minat menulis anak muda negeri ini cetek, sebab saya tidak tahu. Tapi untuk minat baca, bisa dipastikan cetek –bahasa kejamnya, sih. Ayolah, kita semua tahu dan sadar akan hal itu, kok, sebenarnya. Beberapa waktu lalu, saya membaca di Koran Tempo tentang survey minat baca di 61 negara (yang saya lupa spesifik judulnya tentang apa), dan Indonesia berada di posisi 60, which mean negara dengan urutan kedua terendah. Saya takkan berkoar-koar mengenai apa yang harus kita lakukan dengan hal ini, sebab saya tak secerdas itu. Biar para ahli pikir yang mempertimbangkannya. Saya akan memulainya dari menilik hal-hal kecil: ya misalnya seperti ulasan buku ini.

Sebagian besar dari kita masih agak malas mendokumentasikan sesuatu –walau alasannya kadang bukan karena tak punya waktu. Ya, malas aja. Tidak ada alasan lain. Padahal kalau tidak dicatat/ditulis, entah kita masih akan bisa mengingatnya atau tidak di kemudian hari.

Alasan lain menulis review? Mungkin biar blog ini ada isinya, jadi nggak dapat surat cinta dari divisi membership BBI. 😛 Oh, mungkin karena saya adalah pelupa yang baik, bukan pengingat yang baik, tapi saya pengenang yang baik pula. Bahkan untuk menuliskan ulasan buku, selama membaca buku tersebut, saya akan mencatat di mana saja mengenai pemikiran saya pada halaman sekian, pada tokoh anu, pada scene onoh, atau kutipan yang itu. Sungguh, saya pelupa yang baik. Padahal membaca buku hanya butuh beberapa hari, tapi jika tidak dituliskan saat itu juga, printilannya akan segera saya lupakan, berganti dengan bahan pikiran hari esoknya. Maka saya menulis, agar saya bisa terus mengingat ketika ingin mengenangnya sekali lagi–bukan sekadar punya dokumentasinya.

Oke, sudah sepanjang apa tulisan ini? 😛

Lalu, apa alasanmu menulis review?

Atau barangkali saya bisa bertanya dari posisi saya sebagai anggota Blogger Buku Indonesia: apa alasanmu menulis review dan kemudian bergabung dengan BBI?

Hahaha.

Selamat Hari Buku Sedunia, sekali lagi.

Advertisements

6 thoughts on “#WorldBookDay – Antara Membaca dan Menulis Review

  1. Saya baru tahu ada blogger buku indonesia :-). Sepertinya sangat positif dan menunjang semangat juang membaca … hehe. Jujur, saya belum pernah bikin review buku yang saya baca. Sebab, saya tipenya mudah lupa. Jadi lalau baca sehalaman, setelah masuk halaman berikutnya, saya sudah lupa dgn halaman yg sebelumnya. Hanya hati saja yg masih menyimpan kesan dan rasa.

  2. Alasan mereview adalah karena gampang lupa akut. Lupa isinya, lupa temanya, lupa ratingnya, entahlah haha. Padahal kadang dirating bagus ternyata tetap suka lupa. Untunglah ngereview, mput. Jadi bisa buka archieve :p Sama gampang nemu quotes jadinya haha kalo pake review

  3. Hahaha, minta disemprit inih :))

    Sebelum kenal Goodreads, biasanya memang tidak mereview buku yang habis dibaca. Bahkan setelah punya akun pun, pas awal2 hanya ngerate saja. Tidak ada reviewnya. Bisa dibilang mulai mereview juga “kebetulan” sih, dan lama – lama jadi kebiasaan.

    Alasanku ngereview juga sama sih kayak Mput, biar ga lupa, biar ada dokumentasinya. Tapi yang penting, biar bisa move on ke buku selanjutnya, karena sudah jadi kebiasaan, maka jika abis baca terus tidak review itu rasanya ada yang kurang.

    • Ada sih memang beberapa buku yang nggak aku review karena alasan tertentu, jadi cuma rate aja. Mungkin karena merasa nggak punya cukup bahan, sebabnya lagi karena nggak puas/kurang paham sama isi bukunya. 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s