Review: Perempuan Bernama Arjuna – Remy Sylado

Judul: Perempuan Bernama Arjuna – Filsafat dalam Fiksi
Penulis: Remy Sylado
Penerbit: Nuansa Cendekia
Tahun Terbit: Maret 2014 (Cetakan Kedua)
Harga: Rp. 65.000,- 
Jumlah halaman: 273  hal.
ISBN: 9786028395809

*

Blurb:

Apakah Anda termasuk orang yang menunggu karya fiksi bermutu? Jika itu pertanyaannya, maka yang ditunggu telah tiba.

Berkisah tentang seorang perempuan bernama Arjuna, keturunan Cina-Jawa, yang ngotot memilih belajar filsafat untuk memahami “perilaku” Tuhan ketuimbang ilmu psikologi – yang menyoroti perilaku manusia.

Terdapat ulasan lebih 150 sosok filsuf dunia, dan puluhan sosok di luar kategori filsuf. Jika target pembacaan literatur fiksi tujuannya untuk mendapatkan “kenikmatan”, maka yang paling terasa dari novel ini adalah “sensasi ilmiah” dari tiga hal, yakni, kisah-kisah kehidupan para filsuf, latarbelakang lahirnya metode pemikiran, dan makna dari substansi ajaran/paham/aliran pemikiran.

Sekalipun isinya berupa kajian filsafat, buku ini asyik dibaca karena di dalamnya juga memuat laku hidup keseharian, dan yang tak kalah menariknya ialah potret gaya hidup seksualitas kaum hawa dan adam dari sudut pandang biologi-evolusioner. Nilai-nilai falsafah dan kesusastraan di dalamnya patut diacungi jempol.

Faiz Manshur : Redaktur Nuansa Cendekia

*

Review:

Setelah sekian lama, akhirnya kesampaian membaca buku ini. Perempuan Bernama Arjuna berkisah mengenai seorang perempuan blasteran Cina-Jawa asal Semarang bernama Arjuna –iya, ia perempuan dan itu nama aslinya. Awal mula kekeliruan nama itu adalah karena sang kakek berharap cucunya berjenis kelamin laki-laki.

Sebagai perempuan, Arjuna ini kerap merasa dirinya tidak cantik. Ia kemudian belajar filsafat di kelas Magister di sebuah universitas di Amsterdam, demi mempelajari ‘perilaku’ Tuhan, alih-alih belajar psikologi –sesuai keinginan ibunya, yang menurut Arjuna hanya menyoroti perilaku manusia. Pada poin ini, saya tahu bahwa ia memiliki pemikiran yang cukup menarik.

Sangat banyak ulasan filsuf dunia dalam buku ini. Bahkan jika bukan Om Remy yang menulis –dan jika bukan karena saya menyukai gaya menulis beliau, saya pasti akan segera mencap buku ini sebagai buku non fiksi yang ngaku-ngaku sebagai buku fiksi. Tapinya lagi, sepertinya memang Om Remy ingin memberikan pelajaran filsafat dalam bentuk yang sedikit lebih ‘ringan’, yaitu menceritakannya di dalam kisah fiksi, dan tidak menulis buku terlalu tebal. Sebab, biasanya orang-orang awam keburu malas membaca apa-apa yang bertitel filsafat karena menganggap teori satu ini cukup berat, terlebih jika didukung dengan ketebalan bukunya yang, astaga, nggak nyantai banget!

Barangkali juga, ini menurut saya saja sih, filsuf yang dibahas teorinya itu terlalu banyak jumlahnya, sehingga hanya selayang pandang, dan pasti tidak semua bisa dipahami dengan sebaik-baiknya oleh pembaca. Kurang lebih 150 filsuf dunia dalam 206 lembar buku (sisanya hingga halaman 270 adalah indeks pelengkap saja), menurut saya terlalu banyak. Beberapa nama memang pernah saya jumpai di kelas PKN atau Sosiologi semasa SMA dulu. Saya ingat, guru saya bercerita tentang Marx, tentang J.J. Roesseau, Immanuel Kant, Plato, dan sebagainya. Serta, ada juga tokoh-tokoh yang saya kenal di luar kelas secara otodidak, seperti Socrates, Alexander Agung atau Iskandar Zurkarnain —yang ini erat hubungannya dengan sejarah dan sebab saya juga membaca sejarah jadi nama beliau terasa agak familiar, Friedrich Nietzsche yang saya sukai dengan pemberontakannya –bahwa Tuhan telah mati dan kita manusia yang membunuhNya, serta ada juga Sigmund Freud yang di dalam buku ini disebut-sebut termasuk ke dalam antiteisme.

Antiteisme, agnostik, ateis, atau apapunlah istilahnya, saya merasa buku ini menarik ketika tiba di bagian Nietzsche si ‘pembunuh’ Tuhan, tapi malah jadi kurang mendalam sebab (lagi-lagi, sialan!) saya merasa terlalu banyak tokoh yang dibahas, jadi porsi pembahasan untuk tiap tokoh malah sedikit sekali, masih agak dangkal, dan sudah harus berpindah ke tokoh lainnya. Walau begitu, saya juga merasa bahasannya menarik ketika membahas filsafat dari sejarah Socrates yang menurun pada Plato, Aristoteles, dan murid-murid atau pengikut mereka lagi. Bagaimana pun, nama tokoh-tokoh ini mungkin tak bisa lepas dari teori Sosiologi, dan beberapa mata pelajaran lain selama di SMA, itu pun jika kamu masuk kelas IPS.

Dan sebagai tambahan komplain, saya merasa bahwa kisah percintaan Arjuna dengan Prof. Dr. Jean-Claude van Damme SJ, pastor Jesuit itu hanya tempelan belaka. Semuanya terasa terlalu terburu-buru, dan bahkan nyaris tanpa masalah kecuali ketika pastor tua itu ditendang karena skandal percintaannya dengan Arjuna –hingga ia memutuskan menjadi Jesuit murtad pada jangka waktu satu tahun kemudian. Oke, saya hanya tidak bisa menerima dengan akal sehat, bagaimana mungkin perempuan Indonesia berumur 25 tahun yang menjalin hubungan dengan lelaki tua berumur 60an tahun, tapi tidak mendapat kesulitan apa-apa dari keluarganya? Saya merasa ini agak terburu-buru ingin mencapai garis finish, sehingga mungkin tidak ada pertimbangan untuk memberikan sedikit konflik mengenai percintaan mereka dari sisi keluarga besar Arjuna. Kalau untuk masalah perbedaan agama, ditilik dari sejarah keluarga bahwa orangtua Arjuna pun berbeda kepercayaan, sepertinya masih bisa ditoleransi. Dan bahkan, halo, di Indonesia sebenarnya ada kok pihak-pihak yang tidak picik dan menerima perbedaan seperti ini dalam bentuk pernikahan. Tapi perbedaan usia dan budaya, aduh, saya masih tidak bisa paham. Entah, mungkin saya hanya masih picik pula terkait masalah ini. Sebab menurut saya 60 dan 25 itu cukup jauh. Tidak hanya belasan tahun saja lho selisihnya. 😦

Dan bahkan, pikiran saya yang paling jahat mengatakan, lebih baik tak usah ada bumbu roman di dalam buku ini, sebab hanya akan terkesan janggal jika dijadikan tempelan semata. Seperti Om Remy ingin mengatakan bahwa, sejelek-jeleknya perempuan pasti ada yang mau juga, dalam hal ini dikisahkanlah kisah percintaan dan seks Arjuna bersama Van Damme yang terlalu cepat dimulai dan terlalu cepat happy ending itu.

Kemudian, entah mengapa saya merasa bahwa penulisnya memang menentang antiteis, dan merasa bahwa antiteis adalah sekumpulan orang bodoh yang menyangkal Tuhan padahal mereka tahu Tuhan ada di dekat mereka. Tapi mengulang kata Arjuna, saya suka kalimat ini, “bukankah antiteisme pun adalah sekumpulan orang-orang percaya? Mereka adalah orang yang percaya bahwa Tuhan tidak ada.” Jika mau ditambahkan dari pemahaman tokoh-tokoh antiteisme lainnya, Tuhan hanya khayalan manusia atas tuntutan atau kebutuhan psikologis mereka.

Entahlah.

Masih banyak yang harus saya cari tahu untuk bisa menyetujui ini, serta menyangkal yang itu, atau sebaliknya.

Advertisements

2 thoughts on “Review: Perempuan Bernama Arjuna – Remy Sylado

  1. Hmmm…. kayaknya emang kurang efektif ya.. Maunya terkesan tidak menakutkan, tp malah bikin pusing karena banyak yg diulas tp ga mendalam. Kalo emang mau belajar filsafat cara asyik, mungkin mending baca Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder. Kenyang beneran itu. Filsafatnya dapet, misterinya dapet…sampe2 bingung, tadi maksudnya apa ya?!? Hahaha…

    • Hahaha, iya Mbak. Udah lama tahu buku itu sih. Cuma karena bawaan aku anaknya kurang suka baca buku terjemahan (kalo aslinya pasti ya lebih berat lagi, kan), jadi belum juga tertarik untuk dibeli. Cuma mungkin someday akan baca 😀 hehe. Makasih rekomennya, Mbak Fanda ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s