Review: (Tak) Percaya Cinta – Muthia Zahra Feriani & Alldo Fellix Januardy

Judul: (Tak) Percaya Cinta
Penulis: Muthia Zahra Feriani & Alldo Fellix Januardy
Penerbit: Logika Rasa
Tahun Terbit: Juni 2014 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. – (dapat dari bookswap di bookshow Maryam)
Jumlah halaman: 164  hal.
ISBN: 

*

Percaya Cinta:

Cinta adalah definisi rasa yang tidak perlu diungkapkan dalam kata-kata. Seringkali orang yang menerjemahkan cinta dalam suatu deskripsi dengan diksi tertentu justru membuat diri sendiri kecewa.

Jika sesuatu ada karena hati yang percaya, begitu juga dengan cinta. Tanpa perlu kata-kata, percaya cinta adalah kesetiaan perjalanan rasa untuk kita yang mendamba bahagia.

Tak Percaya Cinta: 

Cinta adalah sekumpulan kisah anomali yang digeneralisir oleh para pemimpi. Kita terbiasa mendengar kisah tentang gadis biasa yang akan menemukan sang pangeran, seorang buruk rupa yang dicintai perempuan sempurna, dan keluarga raja yang tak memandang tinggi-rendah derajat manusia; seolah semua itu akan terjadi kepada diri kita. Suatu hari kita terantuk realita. Sekeliling membuat kita merasa tak layak bagi kisah cinta yang mulia. Hingga kita tak akan berhenti bertanya mengapa.

Sesungguhnya kita tak pernah percaya cinta.

*

Review:

Saya mendapatkan buku ini di meja swap pada sebuah acara, dan sumpah saya jatuh cinta pada bentuknya. Catat ini, hanya bentuknya saja, pada awalnya. Sebab buku ini berukuran mini dan hanya setinggi pembatas buku kecil. Tidak besar dan lebar seperti bentuk buku fiksi lain yang biasa beredar di pasaran. Sebab itulah saya memutuskan mengambil buku ini dari atas meja. Dan lagipula, karena Reight Book Club sedang rutin mengadakan baca barengnya, dan tema bulan April adalah antologi, jadi saya kira kumpulan cerpen ini pas untuk dibaca segera.

  1. First impression
    Awalnya justru jatuh cinta karena bentuk bukunya. Dan juga karena sampulnya, sih. Saya membayangkan, buku ini akan segreget 28 Hari karya Ndoro Kakung dan Hanny Kusumawati, sebuah buku kumpulan prosa dengan dua sudut pandang, yang ditulis oleh sepasang kekasih dalam rentang 28 hari, dan dwibahasa pula. Tapi ternyata, ini adalah kumpulan cerpen yang benar-benar kumpulan cerpen. Jadi, satu cerita tak ada hubungannya dengan cerita yang lain, yang ada hanyalah benang merah sesuai 2 tema bersangkutan: percaya cinta dan tidak percaya cinta.
  2. How did you experience the book?
    Bagian percaya cinta ditulis oleh Muthia Zahra Feriani dan bagian tak percaya cinta ditulis oleh Alldo Fellix Januardy. Saya tak mengenal mereka dan juga tidak tahu sama sekali bagaimana napas tulisan mereka sebelumnya. Tapi saya merasa tak ada yang unik atau berbeda dari buku ini. Rasanya biasa saja, sama seperti buku roman anak muda yang sudah sejak lama beredar di pasaran. Mungkin, jika mereka membuatnya lebih unik, buku ini akan lebih greget. Atau, entahlah, mungkin karena saya sudah pernah membaca 28 Hari yang membuat saya jatuh cinta sedemikian rupa dari sampul hingga benang merah dan diksinya, saya jadi membanding-bandingkan. Tapi, sungguh, saya harus jujur, bahwa tak ada yang menarik yang saya dapatkan dari buku ini. Segalanya biasa saja, baik diksi maupun ceritanya. Hanya sampul dan bentuk bukunya yang menjadi ‘penolong’.
  3. Characters
    Saking banyaknya karakter pun, saya tidak hapal satu per satu, dan tidak ada yang benar-benar melekat di kepala, jadi saya memutuskan untuk melewati bagian ini. Tidak ada yang bisa saya perkenalkan. Atau mungkin, seorang gadis cerewet bernama Mentari saja yang saya ingat samar-samar. Gadis bawel yang menunggu bagasi di bandara, lalu mengajak seorang tokoh lelaki –saya lupa namanya, atau memang ia tak disebutkan namanya di sini, berkenalan sembari menunggu bagasi mereka. Ada pada bagian ‘Percaya Cinta’ bab 7.
  4. Plot
    Semua cerita memiliki plot yang berbeda, tapi rata-rata menggunakan plot maju.
  5. POV
    Bermacam-macam POV. Ada POV 1 dan ada juga POV 3.
  6. Main Idea/Theme
    Benang merahnya adalah percaya cinta dan tak percaya cinta. Pada bagian milik Muthia Zahra Feriani, seluruh ceritanya mempunyai tema ‘percaya cinta’. Seluruh tokohnya ada saja yang percaya cinta, walau itu bukan tokoh utama. Sebaliknya, pada separuh buku, ada bagian ‘tak percaya cinta’ ditulis oleh Alldo Fellix Januardy. Penyajiannya sama. Lalu pada ending masing-masing bagian, disediakan sebuah lembar kosong yang bisa diisi sendiri oleh pembaca, apakah mereka percaya atau tak percaya cinta, serta apa alasannya.
  7. Quotes
    Cinta bukan tentang seberapa berat beban segala permasalahan di dalamnya yang dibawa, tetapi dengan siapakah kita mempercayai beban itu untuk bisa diangkat bersama. – hal. 59
  8. Ending
    Sama dengan poin 4 dan 5. Beda plot, beda POV, pastinya akan beda ending. Tapi rata-rata happy ending (yang so-soooooo biasa banget buat saya).
  9. Questions
    Tak sanggup lagi berkata-kata apalagi bertanya. Yang jelas saya sudah menyelesaikan baca bareng ini 😛
  10. Benefit

*

Secara garis besar, mungkin buku ini bukan selera saya saja. Mungkin bagi orang lain, buku ini akan terbaca lebih menarik. Sungguh saya bukan anti pada roman, atau cerita cinta. Saya pernah juga beberapa kali membaca kumpulan prosa, kumpulan cerita, tapi menyukainya. Sungguh, mungkin ini hanya masalah selera yang kebetulan tak berjodoh. Tapi intinya, saya berusaha menyelesaikannya karena komitmen baca bareng April bersama RBC.

Somehow, tetap suka cover-nya.

Itu saja.

*Ditulis untuk baca bareng April Reight Book Club, tema: antologi

Advertisements

2 thoughts on “Review: (Tak) Percaya Cinta – Muthia Zahra Feriani & Alldo Fellix Januardy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s