Surat Untuk Remy Sylado

Menulis surat terbuka untuk mengarang favorit merupakan salah satu dari serangkaian kegiatan ulang tahun BBI yang kelima. Sebenarnya, saya bukan tipe orang yang pandai menulis surat, dan saya seringkali tidak tahu ingin menulis apa, walau banyak yang ingin saya sampaikan.

Tapi saya pikir, momen seperti ini akan jarang terjadi. Dan, jika disuruh menyebutkan satu saja nama penulis favorit, sampai hari ini jawaban saya tak pernah berubah: Remy Sylado.

Semoga surat di bawah ini tidak terkesan aneh 😛


Kepada Om Remy,

Sejujurnya saya tidak tahu harus menggunakan panggilan apa. Jika ditilik dari usia, barangkali Om Remy seumuran ayah –atau bahkan kakek saya. Tapi untuk menampilkan kesan netral, saya panggil Om saja 😛

Saya pertama kali mengenal karya Om Remy lewat film Ca Bau Kan. Justru film itulah yang membuat saya terpesona pertama kali, entah mengapa. Padahal kala itu, saya baru duduk di bangku SD, dan bisa dibilang saya sama sekali belum membaca novel sastra. Siapalah bocah ingusan yang hanya kebetulan menonton Ca Bau Kan di televisi lokal?

Tapi ternyata kisah itu melekat di ingatan saya, hingga bertahun-tahun kemudian. Bahkan, ketika saya mulai tertarik membaca novel, saya kembali mencari tahu tentang Ca Bau Kan. Dan dengan polosnya saya merasa bahagia bahwa cerita itu memang berasal dari buku. Saya mencari bukunya di beberapa lapak buku bekas, mendapat harga yang kadang keterlaluan, hingga akhirnya seorang teman membelikannya untuk saya.

Saya membaca ulang buku tersebut dan mengakui bahwa –sama seperti kebanyakan cerita pada umumnya, memang lebih greget versi buku ketimbang versi filmnya. Tapi tak mengapa, saya tetap menyukai Tan Peng Liang dalam diri Om Ferry Salim, serta Tinung dalam diri Mbak Lola Amaria. Saya menonton film itu berulang-ulang, membaca Ca Bau Kan berulang-ulang. Hingga akhirnya saya mulai penasaran dengan karya Om Remy yang lain, dan ternyata judulnya banyak sekali.

Salah satu dan salah duanya yang sudah saya baca adalah Kembang Jepun, Puisi Mbeling, Namaku Mata Hari, dan sebagainya. Salah satu hal yang saya suka dari buku Om Remy adalah mengenai ulasan budayanya. Saya seolah menyelami budaya tersebut. Dan sebagai penyuka sastra lokal, saya seperti mendapati ‘junjungan’ dalam paket komplit. Saya ingin sekali, suatu hari, bisa menulis seperti (baca: sekeren) Om Remy, walau harus menghabiskan bertahun-tahun untuk riset. Entah kapan akan terealisasi, saya tidak tahu. Sama seperti saya tidak tahu, apakah cita-cita muluk saya untuk berguru menulis pada Om Remy akan tercapai, atau bahkan tidak. Sama seperti saya tidak tahu, apakah cia-cita sederhana saya untuk berfoto bersama Om Remy akan tercapai, atau juga tidak.

Tapi saya akan menunggunya sebagai kejutan.

Kelak saya mungkin akan tahu.

Sembari menunggu, sekarang saya sedang membaca Perempuan bernama Arjuna.

Semoga buku ini bisa membuat saya jatuh cinta pula.

🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s