Review: Sastra, Perempuan, Seks – Katrin Bandel

Judul: Sastra, Perempuan, Seks
Penulis: Katrin Bandel
Penerbit: Jalasutra
Tahun Terbit: 2006 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 55.000,-
Jumlah halaman: 140 hal.
ISBN: 9793684534

*

Blurb:

Dalam dunia sastra Indonesia saat ini “perempuan” dan “seks” merupakan dua isu yang sangat penting “perempuan” terutama dalam arti “pengarang perempuan” dan “seks” sebagai tema karya sastra yang sedang ngetren. Begitu banyak pengarang perempuan baru bermunculan dalam beberapa tahun terakhir ini dan tidak sedikit dari mereka mendapat sambutan yang luar biasa, baik dari segi respons media, penghargaan sastra, maupun jumlah buku yang terjual. Benarkah karya mereka demikian hebat sehingga pantas dihebohkan serupa itu? Berbagai klaim muncul seputar para “pengarang perempuan baru” itu : tulisan mereka hebat, menciptakan gaya penulisan baru, mereka mendobrak tabu, terutama seputar seks dan hal itu sering dipahami sebagai semacam pembebasan perempuan bahkan sebagai feminisme.

Katrin Bandel dalam buku ini berusaha mempertanyakan klaim-klaim tersebut. Menurutnya kehebohan seputar beberapa penulis perempuan (bukan “perempuan” penulis), yang secara popular disebut sebagai “sastrawangi” itu, sangat berlebihan.

*

Review:

Saya tak pernah tahu siapa itu Katrin Bandel sebelum buku di atas. Membeli Sastra, Perempuan, dan Seks pun atas rekomendasi. Jadi, sebenarnya saya seperti sedang bermain judi ketika membaca buku yang judulnya lumayan menarik ini. Satu dua halaman pertama, rasanya tulisan Katrin Bandel tidak begitu berat dan tidak sulit dipahami. Bahkan jika kamu bukan pembaca setia non fiksi pun, saya rasa kamu akan tetap bisa memahami maksud tulisan beliau. Mungkin ini yang dinamakan ‘menyederhanakan yang rumit’. Saya dengar, orang smart biasanya punya kemampuan seperti itu, barangkali Katrin pun demikian. Hahaha.

Saya terpikat pada bab pertama, Karya Sastra sebagai Taman Bermain. Dalam tulisan pertama ini, beliau bercerita mengenai Supernova karya Dee Lestari –sebuah karya yang mungkin tidak asing lagi dalam dunia sastra Indonesia. Saya tahu, kalian semua tahu, sebanyak apa pembaca Dee. Dan bagaimana tiap edisi Supernova ditunggu-tunggu pembaca.

Agak klasik, Katrin membahas tentang sebuah forum diskusi interaktif di homepage Truedee (yang sekarang sayangnya tak bisa diakses lagi). Di sana, para tokoh Supernova itu seperti hidup dan saling berinteraksi satu sama lain. Bahkan ada yang ngelunjak, dan berkata bahwa ketika buku terbit, mereka semua sudah lepas dari pengarang, menjadi milik pembaca. ‘Seorang’ tokoh bahkan menjerit dan berkata, “Dee, jangan pura-pura tidak mengenal kami. Kami nyata, kamu tahu itu.” Sedangkan sisanya ada yang berkata bahwa author is dead. 

Dari sanalah kemudian mungkin Katrin menyimpulkan kesannya terhadap karya sastra yang digunakan sebagai taman bermain. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada tokoh-tokoh yang ditulis itu. Ada jutaan bahkan milyaran jumlahnya tokoh karya sastra di dunia ini, bayangkan jika mereka semua ‘nyata’ dan ‘hidup’. Akan sepenuh apa tempat yang diumpamakan sebagai taman bermain itu 😀

Setelah selesai dengan bab pertama, saya harus akui bahwa saya semakin tertarik dengan opini Katrin yang lain. Sempat saya berhenti membaca buku ini sejenak, sebab ada buku lain yang harus saya selesaikan lebih dahulu. Hingga kemudian saya melanjutkan ke bab berikutnya, saya mendapati tulisan beliau semakin unik saja. Intinya, Katrin Bandel mengajak pembacanya berpikir ulang mengenai sastra Indonesia, khususnya mengenai tokoh/penulis perempuan dan tulisan berbau seks yang mulai naik daun di era tersebut (2006 kala buku ini ditulis).

Beliau juga membandingkan dua Nyai yang sangat terkenal dalam sastra Indonesia –Nyai Dasima dan Nyai Ontosoroh. Walau saya sudah mengetahui kisah kedua Nyai ini, namun Katrin Bandel membuat saya berpikir ulang. Keduanya mempunyai kedudukan yang sama, tapi cara hidup dan sifat berbeda. Hal yang berbeda inilah yang menentukan jalan hidup mereka ke depannya.

Kemudian ada pula penuturan tentang karya Eka Kurniawan (yang kebetulan salah satunya baru selesai saya baca sebelum membaca buku ini). Dalam Cantik itu Luka, semua hal seolah berbalik menjadi aneh dan tak masuk akal, bahkan buku ini dianggap ngawur –bahkan gagal, oleh Maman S. Mahayana. Tapi menurut Katrin, Cantik itu Luka bisa diinterpretasikan sebagai logika pascakolonial: dendam pribumi yang dirampas kekasihnya –tanahnya, budayanya, dunianya –tak juga terselesaikan, dan dendam itu yang menentukan jalan sejarah keturunannya hingga saat ini.

Di bagian lain, Beliau membahas mengenai perkara medis dalam sastra. Dunia barat lebih akrab dengan sains dan dunia kedokteran modern, sedangkan di Indonesia masih ada praktik perdukunan di dalam cerita, walau tak ada yang tahu bahwa dukun benar-benar orang sakti atau bukan. Sebab, menurut Katrin pun, para penulis sepertinya tidak menjelaskan apakah dukun-dukun tersebut palsu atau benar-benar memiliki kemampuan khusus. Segalanya seperti menggantung begitu saja. Misalnya dalam Salah Asuhan karya Abdoel Moeis (1928), Hanafi dikisahkan sakit karena kutukan sihir, padahal ia menenggak racun.

Kemudian, seolah menggenapi kata-kata di judul buku, tak ketinggalan Katrin Bandel menyuguhkan bahasan mengenai karya-karya sastra dari penulis perempuan Indonesia, seperti Djenar Maesa Ayu dan Ayu Utami. Beliau seolah ingin berkata bahwa tren ‘sastrawangi’ itu berlebihan. Misalnya Djenar yang terkenal dengan Nayla. Menurut Katrin Bandel, tokoh Nayla yang merupakan anak korban ketidakharmonisan rumah tangga orangtuanya, seharusnya bisa lebih dieksplor sisi psikologinya dalam cerita. Tapi malah hal ini seperti luput dari novel tersebut. Selain itu, tak dijelaskan mengapa Nayla mendatangi ayahnya setelah kabur dari rumah ibunya. Padahal semenjak ia kecil, tokoh ayah digambarkan sangat berengsek oleh ibunya. Hal-hal inilah yang kemudian dipertanyakan Katrin Bandel, apakah tulisan-tulisan para penulis perempuan itu benar menjadi sesuatu yang keren, atau karena mereka adalah salah satu dan salah dua dari sekian penulis perempuan yang berani mendobrak norma dan menulis perihal seks. Bahkan menurut beliau, pujian orang-orang terhadap Djenar itu berlebihan, karena karya Djenar sebenarnya tak istimewa-istimewa amat. Namun, seolah tidak ingin tulisannya dangkal, Katrin menambahkan bahwa ia tak perlu menulis esai sepanjang itu hanya untuk ‘mencela’ pujian yang diturunkan bagi karya Djenar. Ia pun berkata lagi, seolah ada hal lain yang ingin ditunjukkan Djenar, selain sekadar usaha untuk ‘menjual diri’ melalui tulisan-tulisan cabul tersebut.

Walau saya tidak bisa mengiyakan segala pendapat Katrin Bandel, tapi sebagian besar opini beliau barangkali benar adanya. Saya berpikir ulang mengenai banyak hal dalam sastra Indonesia. Terutama ketika saya membaca poin mengenai Sastra Koran di Indonesia (hal. 39). Di sana Katrin merasa sebenarnya kualitas dan level bagus tulisan-tulisan yang tampil di koran tidak bisa disamakan dengan tulisan di media online. Sebab, tulisan di media cetak barangkali hanya persoalan selera editornya seorang. Sedangkan perkara bagus pada sebuah tulisan di media online misalnya, tentu selera banyak pembaca. Sebab pada zaman sekarang, tulisan apa saja sudah bisa diposting dengan mandiri di media online, bisa dibaca plus dikomentari banyak pembaca. Sedangkan di media cetak, mungkin ada karya yang lebih bagus namun tidak berkesempatan terbit karena tidak sesuai dengan idealisme atau selera editor (pengasuh rubrik) media yang bersangkutan.

Dalam Incest (hal. 111) Katrin mengkritik tentang penulisan unsur budaya di dalam novel. Incest karya Wayan Artika membuat penulisnya diamuk warga di kampungnya (dalam hal ini Bali) hingga dihukum harus keluar dari sana selama beberapa tahun. Sedangkan dalam Namaku Teweraut karya Ani Sekarningsih, pun ada bahasan budaya yaitu budaya Asmat. Namun, bedanya di sini, Wayan Artika membahas budaya negerinya sendiri, berbeda dengan Ani Sekarningsih yang membahas budaya lain, serta berusaha menyelam ke dalam budaya lain tersebut.

Wayan Artika pun seperti ingin menunjukkan bahwa Bali tak selalu seindah yang dikenal turis/wisatawan selama ini. Ada sudut-sudut Bali yang tidak dikenal orang luar, misalnya seperti kebiasaan bahwa anak kembar buncing (kembar lelaki dan perempuan) harus dipisahkan selama sekian tahun, untuk kemudian dijodohkan kembali. Hal ini sudah menjadi budaya, dan budaya sangat dipegang kuat oleh orang-orang Bali. Sebab, hal itulah yang membuat negeri mereka menarik, membuat mereka menjadi bangga karenanya.

Masih ada beberapa hal yang mungkin lebih menarik daripada apa yang saya ungkap di review ini, tapi sepertinya akan lebih menarik lagi jika dibaca langsung. Kamu akan terdiam setiap beberapa halaman, kemudian berpikir sebentar, sebelum mengiyakan atau menggeleng, lalu melanjutkan bacaanmu. Inilah bagian yang paling asyik dari membaca esai Katrin Bandel.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s