Review: Soekarno: Kuantar ke Gerbang – Ramadhan K.H.

Judul: Soekarno: Kuantar ke Gerbang
Penulis: Ramadhan K.H.
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: Januari 2014
Harga: Rp. 69.000,-
Jumlah halaman: 432 hal.

*

Blurb:

Ingatan itu masih tertera jelas. Sosok mungil dengan sekuntum bunga warna merah tersunting di sanggulnya. Hingga bertahun-tahun, sosok itulah yang hidup dalam benak Soekarno.

Inggit bukan sekadar kekasih. Dalam dirinya, Soekarno menemukan kawan sekaligus ibu. Di dalam rengkuhan perempuan sederhana itu, dia tumbuh menjadi seorang pejuang yang tangguh.

Tak banyak yang menyoroti kisah cinta antara Inggit Garnasih dan Soekarno. Disusun berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Inggit, Ramadhan K.H. menyampaikan sebuah kisah menyentuh. Lewat novel ini, kita akan tahu episode-episode penting dalam hidup Soekarno sebelum masuk ke istana dengan sosok yang selalu melekat di sana: Inggit Garnasih.

*

Review:

Sudah lama mencari buku ini dan baru menemukannya bulan lalu di sebuah toko buku di kawasan Cikini. Mengingat ini sebuah kisah nyata, maka saya harus katakan bahwa ini adalah kisah cinta paling setia sekaligus paling menyedihkan yang pernah saya baca.

Barangkali yang anak-anak muda tahu dari buku pelajaran sejarah adalah bahwa Ibu Negara kita yang pertama adalah Bu Fatmawati. Tanpa tahu bagaimana kisah Bung Karno sebelum menjadi Presiden RI. Bagaimana kehidupan keluarga Bung Karno sebelum menjadi orang besar, sebelum masuk istana. Adalah Enggit, atau Ibu Inggit Garnasih, perempuan penuh pengorbanan itu. Beliaulah yang memutuskan ikut dengan Bung Karno di masa muda sang proklamator. Bahkan sedari Soekarno muda –atau Kusno, panggilan sayangnya, masih kuliah untuk meraih gelar Insinyur. Bu Inggit pulalah yang membiayai semua, menghidupi dapur rumah tangga mereka. Kala itu umur beliau terpaut tua sepuluh tahun dari Kusno. Dan ketika memutuskan mengikuti Kusno, ia meninggalkan Sanusi, suaminya, yang akrab disebut sebagai Kang Uci. Seorang yang juga amat baik hatinya, menerima kenyataan pahit dengan lapang dada. Bahkan membuat surat pernyataan bahwa Soekarno boleh memperistri Inggit Garnasih dengan satu syarat: jangan pernah sakiti hatinya.

Inggit Garnasih ikut dengan Soekarno selama dua puluh tahun. Menderita dari satu tempat pembuangan ke tempat pembuangan lain. Ende, Bengkulu, Padang, singgah di Palembang, terlunta di bawah sikap semena-mena Jepang, hingga akhirnya berakhir di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, beberapa waktu sebelum perceraian mereka.

Pernah saya membaca di salah satu esai, bahwa kisah cinta Bung Karno adalah serangkaian kisah karma. Barangkali ada benarnya. Bu Inggit pergi dari H. Sanusi untuk menikah dengan Bung Karno. Karena menginginkan keturunan, Bung Karno ingin menikahi Fatmawati. Yang mirisnya, Fatma telah dianggap anak oleh Bu Inggit. Ditempatkannya perempuan ini di kamar anak angkatnya, Ratna Djuami atau Omi. Jadi tak salah bahwa Omi pun marah mengetahui bahwa Papinya ada affair dengan Fatma. Lebih menyedihkannya lagi, walau sudah punya banyak keturunan dengan Fatmawati, toh sang proklamator tetap melanjutkan petualangan cinta dengan istri-istri berikutnya.

Kisah Bu Inggit mungkin adalah yang paling memilukan di antara semua wanita yang singgah di hati Bung Karno. Namun karma yang diterima Fatmawati barangkali berkali lipat lebih menyakitkan dari air mata Bu Inggit.

Terlepas dari siapa pun yang dianggap sebagai ibu negata pertama, saya menaruh rasa salut pada Bu Inggit Garnasih. Sungguh perempuan yang sabar dan tiada duanya. Pengorbanan 20 tahun itu sia-sia untuk dirinya sendiri dan berujung perceraian. Tapi malahan, perjuangan beliau yang ikut membantu memerdekakan Indonesia –walau satu hal tak sempat beliau lakukan sebelum hengkang dari posisi istri Bung Karno: menjahit bendera pusaka.

Di titik ini saya mulai membenci buku sejarah sekolahan yang hanya menyajikan kisah manis. Bahkan tak menyebutkan nama Bu Inggit sedikit pun.

Tapi bersyukurlah saya, bahwa dongeng sebelum tidur saya dulu terkadang berisi kisah istri-istri Bung Karno. Sehingga tahu sedikit banyaknya. Walau kala itu belum membaca buku dan kisah lengkapnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s