Review: Kita & Rindu yang Tak Terjawab – Dian Purnomo

Judul: Kita & Rindu yang Tak Terjawab
Penulis: Dian Purnomo
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: Juni 2015 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp 54.000,-
Jumlah halaman: 288 hal.
ISBN: 9797808238

*

Blurb:

“Di antara banyak cerita yang pernah kudengar, kisah dari tanah asalku selalu mampu meninabobokan. Tentang kebanggaan, ketegaran, kebersamaan, keutuhan. Sayangnya, tentang kisah cinta yang sempurna tak pernah melekat.
Kilau Danau Toba yang sering jadi dambaan seakan sampai ke teras rumahku. Hawa dinginnya menyapu lembut wajahku, sambil membisikkan rahasia. Bahwa Samosir, pulau di dalam pulau itu, selalu setia menunggu.

Aku pernah berharap kenyataan tentang kita juga seperti itu.
Namun, sepertinya harapan itu terbang terlalu tinggi sehingga tak mampu kuraih.

Kita pernah berjanji, akan menjejakkan kaki sejauh yang kita bisa.
Juga berjanji hati akan tetap di sini. Terikat bersama rindu-rindu yang selalu kukirimkan.

Sayangnya, balas rindu belum juga sampai.
Adakah di semilir angin Danau Toba kau titipkan jawabnya?
Aku menunggu di sini, harapan semakin samar.
Jika aku tetap setia, masihkah semesta mau memihak kita?

—Naiza

*

Review:

Buku seri Indonesiana pertama yang saya baca, setelah sekian lama tidak membaca buku gagasmedia. Awalnya ingin membaca ini karena penasaran dengan serial indonesiana yang mengangkat tema budaya, tapi ternyata buku bacaan pertama ini not bad juga.

Kita & Rindu yang Tak Terjawab bercerita tentang seorang perempuan batak bernama Naiza Rosauli Situmorang yang sudah sangat cukup umur dan seperti kebanyakan batak lajang lainnya, dituntut untuk segera menikah dan memberi cucu untuk kedua orangtuanya.

Karena Nai tak kunjung membawa calon menantu batak, akhirnya Mama batak dan Papa batak memutuskan menjodohkannya dengan Sidney Sinaga, seorang lelaki idaman semua mertua, yang sudah punya segala hal; tsakep, kerjaan bagus, penghasilan yahud, dan bahkan punya dana sendiri untuk pernikahan serta membeli rumah masa depan. Mama batak senang mendapat calon menantu sukses, Papa batak lebih senang sebab ia akan melihat Nai menikah sebelum ia mati. Satu-satunya yang tidak bahagia adalah Nai sendiri, atau barangkali Tantra –sahabat Nai dari SD, yang kini sedang melanjutkan S2 di Belanda.

Sejujurnya jika ditanya bagaimana kesan mengenai buku ini, saya merasa terhibur ketika membacanya. Dialog-dialognya yang batak banget membuat saya tertawa berkali-kali, membayangkan tokoh-tokoh itu berceloteh. Ditambah, tidak sedikit manusia batak dalam hidup saya, yang membuat saya bisa memvisualkan dialog tadi dengan lebih baik, dan membuat tawa saya semakin kencang (dan sialnya saya membaca buku ini di balik kubikel kantor). Tapi jika ditanya dalam atau tidaknya budaya yang dibahas di sini, saya hanya bisa menjawab ‘lumayan’, sebab saya tidak tahu apa ukuran deep soal pembahasan budaya batak. Saya pun yakin, budaya batak yang sebenarnya jauh lebih dalam dari yang ditulis di buku ini, tapi saya juga takkan mengatakan bahwa buku ini dangkal. Sebabnya, teman-teman saya yang batak pernah merasakan sebagian besar hal dalam cerita ini; umur sudah bertambah, didesak menikah dengan sesama batak hanya agar budaya tak tergerus zaman, keberatan hati untuk menikah dengan sesama batak sebab cinta tak bisa dipaksakan, obrolan & jokes soal sinamot, dan segala macamnya.

Bicara ending, sebenarnya pun, happy ending adalah hal yang biasa saja. Tapi, saya suka cara penulisnya membawa pembaca menuju akhir cerita. Pada akhirnya, dari segala problematika ‘wajib nikah sama batak!’ ditutup dengan sebuah pelajaran berharga: kita tak bisa memaksakan sesuatu kepada orang lain, bahkan anak kita sekali pun. Sebab hidup adalah milik pribadi, bukan milik orang lain –orangtua sekali pun. Sebab menikah dan hidup setelah menikah, tetap kita yang menjalani, bukan siapa-siapa selain kita.

Tapi setelah semua ke-yahud-an, kelucuan batak-batak-an, serta ending ciamik ini, saya hanya pengin menambahkan satu kesan lagi..

…typo-nya toloongg, seperti nggak kelar diedit! Hahaha.
(of course tidak akan saya list, kok, typo-nya. Tak ada gunanyalah itu. Yang penting Tantra dapat marga Nainggolan! Hahaha lagi!)

Bapakku selalu mengumpamakan gunung sebagai sebuah cita-cita. Kita mendakinya dan ketika berada di puncaknya, kita akan merasa sangat bahagia. Seperti mimpi yang terpenuhi. – hal. 69

Advertisements

4 thoughts on “Review: Kita & Rindu yang Tak Terjawab – Dian Purnomo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s