Review: Napas Mayat – Bagus Dwi Hananto

Judul: Napas Mayat (Juara III Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014)
Penulis: Bagus Dwi Hananto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: April 2015 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp 48.000,-
Jumlah halaman: 183 hal.
ISBN: 978-602-03-1522-5

*

Blurb:

Aku memotongnya dengan sangat rapi, membuang lemak yang tidak dipakai sehingga hanya tersisa beberapa potong daging besar saja dari kaki, dada, dan tangan. Semua jeroan dari bagian bawah sampai jantung kujadikan satu. Kupotong-potong dan kutambah bumbu dapur dan berbagai sayur mulai dari wortel, kol, buncis, dan kesukaanku kacang polong; menjadi sup mangkuk besar, siap buat disantap. Berporsi-porsi mangkuk aku ciduk dari panci sup. Berkali-kali sampai lenyap ditelan mulut.

Inilah salah satu novel juara sayembara menulis paling prestisius di Indonesia.

Ada sesuatu di dalam novel ini yang telah membuat para juri memilihnya menjadi salah satu pemenang. Sesuatu yang kompleks, brutal, menyimpan dendam, sekaligus keindahan.

Napas Mayat mempertanyakan Tuhan, cinta, dan arti kemanusiaan di zaman sekarang. 

*

Review:

Sebenarnya 2.5 bintang, tapi digenapkan jadi 3 bintang aja. Sebenarnya salah satu yang menarik minat untuk membaca buku ini adalah kerena 3 hal; judulnya yang unik dan beda, fakta bahwa buku ini adalah juara III Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014, serta tulisan di blurbnya: Napas Mayat mempertanyakan Tuhan, cinta, dan arti kemanusiaan di zaman sekarang.

Gelap, itulah satu-satunya kata yang cocok untuk Napas Mayat yang tokohnya adalah seorang lelaki dengan masa muda yang gemilang. Lelaki ini mempunyai orangtua yang kaya raya, sehingga merasa bisa berbuat semaunya, tapi toh harta bisa habis juga lama-kelamaan, dan kemudian takdir membuangnya sebagai seorang tua yang disingkirkan sekitar. Tema yang diangkat juga sebenarnya bagus, sebab jarang kayaknya novel lokal mengangkat tema ini (nggak akan disebut soalnya mencegah spoiler. Hihi). Hanya saja, alur ceritanya berjalan sangat lambat. Teramat sangat lambat. Padahal hanya 183 halaman, tapi butuh waktu cukup lama untuk mencernanya, bukan karena novelnya berat atau diksinya tingkat tinggi, tapi lebih karena alurnya.

Diksinya malah cukup bagus dan banyak kata-kata yang quotesable sekali di buku ini. Pembaca akan benar-benar dibawa ke dalam sebuah kota suram bernama Kota A, tempat si tokoh tinggal, lalu diajak berkeliling di antara kegelapan kota. Seperti tak pernah ada matahari dan keceriaan di sana, saya suka gaya-gaya cerita yang seperti ini, hanya saja jika tidak dikemas dengan ciamik, jadinya malah akan lambat. Sebab di dunia remang-remang, tak pernah ada keriuhan yang membahagiakan, semuanya tenang, lambat, dan datar.

Tokoh lelaki –satu-satunya tokoh sentral di sini juga ateis. Hal ini juga yang kemudian membawa pembaca-pembacanya kepada pertanyaan tentang eksistensi Tuhan. Hidup seolah tidak berpihak padanya, seolah semua yang buruk ditimpakan kepada si tokoh. Seolah, kutuk yang tiada akhir telah ditakdirkan untuk ditelannya seumur hidup.

Dari sepertiga awal hingga menjelang akhir, rasanya berat sekali perjalanan membaca Napas Mayat. Saya sempat berhenti beberapa hari, sebelum melanjutkannya kembali. Saya pikir, saya tidak akan menyelesaikannya hingga halaman akhir, tapi ternyata saya masih sanggup.

Quotes:

“Kau tahu, sesungguhnya Tuhan telah mati bagi mereka yang kecewa. Bagi dirimu dan bagiku yang kita. Tidak ada apa pun di luar sana. Hanya kekosongan.”

“Di jalanan aku menemukan berbagai tingkah yang membuatku begitu terhenyak. Manusia senang mencari kebahagiaan dan selalu berdosa; tiba-tiba menjadi takut kepada Tuhan dan kadang melupakannya untuk dosa gembira yang memuaskan mereka.”

“Mungkin kematian adalah sesuatu yang dibikin Tuhan untuk membuat kita takut. Tapi kau tidak percaya pada-Nya, jadi tidak usah kau anggap. Yang paling dasar dari semua ini adalah bahwa kematian begitu enteng; tenang tanpa siapa-siapa yang mengganggumu untuk menundanya. Di pulau-pulau ajaib, kematian mirip setoples acar ratusan tahun yang disimpan pertapa sedih.”

Advertisements

3 thoughts on “Review: Napas Mayat – Bagus Dwi Hananto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s