Review: Bukan Permaisuri – Ni Komang Ariani

Judul: Bukan Permaisuri
Penulis: Ni Komang Ariani
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit: 2012 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp 36.500,-
Jumlah halaman: 138 hal.
ISBN: 978-979-709-647-2

*

Review:

Butuh beberapa minggu untuk menghabiskan buku ini, karena banyak alasan. Pertama, karena saya sebenarnya bukan pembaca kumpulan cerpen. Jadi, memang butuh waktu agak lama untuk membaca kumcer. Kemudian, karena saya awalnya membeli buku ini karena sebelumnya suka sama novel Senjakala. Ya, mungkin karena memang tidak bisa disamakan antara cerpen dan novel, jadi ekspektasi saya terhadap buku ini salah karena terlalu tinggi pada awalnya. Di beberapa cerpen, rasanya agak biasa, bahkan terkesan datar, tak ada konflik berarti. Saya melewati lembar demi lembar halamannya dengan wajah kurang bersemangat 😛 Tapi tenang, ada kok, yang memang ceritanya menarik.

Secara garis besar, Bukan Permaisuri bercerita mengenai perempuan dan Bali. Bagaimana orang-orang Bali memperlakukan perempuan-perempuan mereka. Bahwa setiap perempuan pada akhirnya selalu ditakdirkan untuk menjadi ‘pelayan’ bagi lelaki-lelaki yang menikahi mereka. Ada banyak sisi dari sosok perempuan yang diceritakan; dari perempuan lemah yang kemudian hanya menjadi pajangan dan cermin bagi si lelaki, dipajang begitu saja di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah, menjaga anak, menemani tidur, dan hanya sampai di sana. Tapi ada juga Nyoman Rindi (hal. 64) yang memilih menjadi sosok antimainstream dengan menolak menikah hanya karena tuntutan usia atau ketakutan akan cap perawan tua dari orang seisi desa. Ia lebih nyaman dengan kesendiriannya yang mandiri, ketimbang bergantung pada lelaki yang mungkin hanya akan menjadikannya pelayan. Rindi termasuk salah satu tokoh favorit saya di buku ini.

Ada juga kisah tentang perempuan-perempuan yang sudah menjadi ibu, bagaimana mereka memandang keluarga, anak-anak, dan apa yang telah mereka miliki setelah menikah. Ada kebanggaan, ada obsesi untuk menjadi serba sempurna, ada penyesalan, kadang kesedihan, atau kesepian. Semuanya dikisahkan cukup lengkap dalam Bukan Permaisuri.

Lengkap, tapi hanya sedikit kisah yang benar-benar bahagia menurut saya. Mungkin keteguhan Nyoman Rindi adalah salah satu porsi kecil kebahagiaan dalam buku ini, sedangkan sisanya tidak benar-benar berakhir bahagia. Bukan Permaisuri seperti menggambarkan lika-liku serta kegalauan perempuan-perempuan yang kebetulan dilahirkan di tanah Bali, sebab di tanah itu orang-orangnya masih teramat sangat menjunjung tinggi adat.

Saya juga sempat berharap bahwa ulasan tentang budaya Bali akan kental di sini, apalagi cerpen Ni Komang Ariani termasuk cerpen media, yang saya tahu sudah dimuat di beberapa koran. Tetapi entah ini perasaan saya saja, atau pembaca lain pun merasakan, budaya Bali di Bukan Permaisuri tidak sekental itu, biasa saja. Walau banyak perempuan desa yang menjadi tokoh dalam cerita, tapi budayanya tidak ditekankan, yang ditekankan adalah bagaimana kerisauan hati mereka menghadapi tekanan budaya-budaya yang konon sangat kuat.

Padahal, saya ingin sekali membaca budaya melalui sebuah fiksi, tapi barangkali kali ini saya harus puas dengan porsi yang segini, tidak setinggi harapan saya ketika kali pertama mendapati kiriman buku ini di meja kerja.

Atau mungkin juga, lain kali saya harus membaca novelnya saja.

Entahlah.

“Percayakah kamu Seni, pada tubuh perempuanmu sudah ditanam kutuk? Tubuh perempuanmu tidak akan pernah berhenti menyakitimu. Tubuh perempuanmu yang akan membunuhmu pelan-pelan.” – Kutuk Perempuan (hal. 44)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s