Review: In Short – Rachel Hadeli Lie

Judul: In Short [Kumpulan prosa dan puisi]
Penulis: Rachel Hadeli Lie
Penerbit: Binarupa Aksara
Tahun Terbit: 2015 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp – (dapat dari bookswap IRF 2015)
Jumlah halaman: 180 hal.
ISBN: 978-602-302-315-8

*

Blurb:

THIS IS A SAD LITTLE BOOK
It tells the story of a love gone wrong
It was beautiful. Until it wasn’t

Characters and events
in this book are entirely fictional
or maybe they are not
dun, dun, dun

You decide

*

Review:

[Review in Bahasa]: Mendapatkan buku ini di IRF 2015 kemarin, tepatnya di meja bookswap. I’ve no idea about this book, pada awalnya, walau tahu ini adalah buku terbitan indie (sepertinya, sebab kurang familiar dengan nama penerbitnya). Satu-satunya yang membuat saya penasaran pada buku ini adalah blurb-nya yang singkat dan menarik. THIS IS A SAD LITTLE BOOK, tertulis pada bagian paling atas. Saya tergelitik untuk mengambil, kemudian membacanya sendiri. Ingin membuktikan seberapa sedihnya buku ini 😛

Sekilas, tampak seperti buku-buku karya Lang Leav, tapi ternyata penulisnya orang Indonesia. Karena itu juga, saya memutuskan menuliskan review dalam Bahasa Indonesia, bukan Inggris. Secara keseluruhan, In Short terbagi atas beberapa bagian besar; daydreaming, asleep, awake, dan treats. Hampir tiap tulisan memiliki ilustrasinya masing-masing, dan seringkali saya terpaku dengan sketsa yang menggambarkan tulisan-tulisan tersebut.

Jenis tulisannya pun tidak seragam. Ada yang berupa prosa –yang cukup panjang, mencakup hampir dua halaman, ada puisi yang hanya terdiri dari beberapa bait, bahkan ada short poem yang hanya terdiri dari satu atau dua bait sangat pendek.

Sepertinya istilah ‘LITTLE SAD BOOK’ memang cocok dengan buku ini. Rata-rata, tema tulisannya adalah mengenai cinta yang bertepuk sebelah tangan, perselingkuhan, perpisahan, rasa sepi, kehilangan, dan berbagai jenis kesedihan lainnya. Seolah buku ini adalah sepaket kesedihan yang disajikan dengan apik beserta sketsanya masing-masing, sehingga pembaca bisa ikut tenggelam dalam kesedihan di penulis.

My favorite is ‘The Game’ (pg. 23), bercerita tentang sepasang perempuan dan laki-laki yang bertemu ketika mereka sama-sama sudah punya pasangan, beranggapan bahwa mereka tidak akan pernah jatuh cinta. Yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi ternyata tidak. Sebab, ternyata mereka masih saling mengingat setelah sekian tahun. Diberi judul The Game barangkali karena kisah tersebut tampak seperti sebuah permainan game; kadang kita merasa bahwa kita akan menang, tapi ternyata kita kalah.

A boy and girl met.
He had a girlfriend and she had a boyfriend
Their first meeting didn’t work out
He tought, “my girlfriend and I are forever.”
She tought, “things will work out with my boyfriend.”
A year later, boy remembered girl

Today, the game begins.
A broken heart? Maybe
A happy ending? Maybe

Saya agak takjub, bahwa ada buku seperti ini dari pengarang lokal. Sebab biasanya yang saya tahu, penulis luarlah yang lebih ‘betah’ menulis tulisan-tulisan sendu, mendayu, tanpa harus hiperbola dan memilih kata-kata lebay. Lang Leav sudah melakukannya sebelum ini, dan saya rasa Rachel Hadeli Lie sedang mencoba melakukannya. Rachel cukup berhasil, walau saya tak bisa mengatakan bahwa ia sudah setara dengan karya Lang Leav. Bagaimana pun, Lang Leav punya tulisan yang lebih deep maknanya. Tapi untuk buku lokal, saya rasa buku ini cukup menarik.

Dan, In Short juga bisa menjadi pilihan asyik ketika kamu sedang jenuh membaca novel atau kumpulan cerpen. Saya selalu melakukannya –membaca prosa, tiap kali saya jenuh pada novel atau cerpen.

Cobalah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s