Baca Buku Genre Apa?

Gambar dari sini

Kalau baru berkenalan dengan orang baru yang katanya sama-sama suka membaca, saya seringkali mendapat pertanyaan seperti judul di atas.

Baca buku genre apa saja?

Kalau sudah begini, saya suka bingung. Walau saya punya genre favorit, tapi saya nggak selalu baca genre tersebut. Misalnya, saya suka misteri dan thriller (bukan horror yang ada setannya, ya), tapi kadang saya juga baca roman, filsafat, bahkan buku non fiksi. Bahkan, walau saya sempat mengklaim diri sebagai orang yang bukan pembaca fantasi -sebab otak saya kurang paham untuk mencernanya, toh ketika orang melihat header blog ini, kalian pasti langsung tahu bahwa saya adalah pembaca The Mortal Instruments.

Bedanya, TMI adalah urban fantasi, yang menurut saya lebih ‘sederhana’ ketimbang fantasi yang garis keras semacam The Lord of The Rings. Sekilas, urban fantasi adalah kisah fantasi yang masih memuat dunia nyata dalam ceritanya. Sedangkan fantasi biasa -saya kurang paham apa saja istilahnya, adalah fantasi yang punya dunia sendiri, bahkan peta dan nama kerajaan karangan si penulisnya. Nah, imajinasi saya tidak akan berhasil jika tidak menonton filmnya. Walau orang-orang yang suka fantasi rata-rata kesal dengan hasil ramuan film, sebab dianggap tidak sesuai lagi dengan buku aslinya, atau banyak adegan yang tidak ditampilkan. Sepenuhnya bukan salah director juga, sebab film yang hanya dua jam itu takkan bisa menampung ratusan lembar isi buku. Maka, biasanya saya maklum, terlebih untuk genre fantasi.

Kembali lagi. Saya biasanya membaca apa saja yang sedang saya inginkan. Kadang saya baca non fiksi, kadang saya baca filsafat, kadang saya baca roman, kadang sastra lokal, kadang kumpulan cerpen (walau sangat jarang durasinya).

Tapi sejauh ini saya memang lebih suka buku lokal. Apalagi buku lokal yang muatan unsur budayanya kental, seperti buku-buku Remy Sylado, atau yang genre lebih populer semacam Senjakala karya Ni Komang Ariani, pemenang sayembara Femina itu. Unsur Bali-nya membuat saya terpukau, sebab saya suka membaca bagaimana kehidupan adat orang lain, sejarah daerah lain.

Mungkin selera saya agak sedikit berbeda, sebab saya perhatikan lagi, mbak-mbak seusia saya ini biasanya lebih jatuh cinta pada metropop, chicklit, atau harlequin. Tapi saya tidak membaca ketiganya. Kisah cinta kadang membuat saya lelah dan lebih cepat tertidur ketika membaca, maka kadang saya membaca hal-hal yang bisa memancing rasa ingin tahu saya.

Jika ditanya genrenya, apa saja bisa. Selama memuat unsur di atas. Tapi jarang juga kan ada metropop atau chicklit yang punya unsur adat lokal, mungkin sebab itu saya tak membacanya.

Mungkin saya ini tipe pembaca gado-gado, apa saja masuk asal menarik. Hehe. Lalu bagaimana dengan genre bacaan kalian?

Advertisements

8 thoughts on “Baca Buku Genre Apa?

  1. Aku malah paling jarang nanya suka genre apa. Aku malu aja bacaanku remeh *blushing

    Tapi rasanya emang gitu deh kalau suka baca, rata-rata emang bacaannya gado-gado walau tetep ada favoritnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s