Review: Blues Merbabu – Gitanyali

Jpeg

Judul: Blues Merbabu
Penulis: Gitanyali
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun Terbit: Februari 2011 (Cetakan pertama)
Harga: Rp – (beli di lapak buku bekas Rp 20.000,-)
Jumlah halaman: 186 hal.
ISBN: 9789799103154

*

Blurb:

Sebagai anak PKI, lebaran tidak lagi sama bagi Gitanyali diakhir 1965. Ia masih SD di kota kecil di kaki Gunung Merbabu ketika menyaksikan sang ayah diambil aparat, dan tak pernah ketahuan lagi rimbanya. Sang ibu menyusul ditahan tanpa tahu kapan akan dibebaskan karena dianggap terlibat Peristiwa G30S. Kehidupannya berubah, keluarganya tercerai berai.

Diasuh oleh sang paman di Jakarta, dunia Gitanyali terbuka lebar. Ia menempa diri untuk tidak kalah pada sang nasib. Ia menikmati kehidupan sebagai anak kebanyakan yang penuh godaan, termasuk dalam kehidupan seksual, tanpa terbawa arus. Ia memilih bertahan tanpa harus “melawan”.

*

Review:
Ketika membaca blurbnya, saya (atau mungkin juga banyak pembaca lain) mempunyai harapan yang cukup tinggi akan buku ini. Sejujurnya, sebelum saya mengoceh lebih jauh, harus saya katakan bahwa buku ini nggak seimbang. Cover, judul, dan blurbnya menarik. Bahkan saya suka judulnya: Blues Merbabu. Tapi ketika saya membacanya, jauh sekali dari ekspektasi. Cerita dibuka dengan kisah seorang om-om 40-an bernama Gitanyali, pagi itu seorang perempuan muda berusia 22 tahun bernama Nita datang ke rumahnya untuk menonton Crayon Sinchan. Lewat obrolan mereka pagi itulah, mengalir kisah hidup Gitanyali yang katanya anak PKI.

Jpeg

Saya pikir harusnya suasana PKI 1965 itu jauh lebih menegangkan daripada yang saya baca di sini. Gitanyali flashback menceritakan kehidupannya. Tapi ayahnya pergi baik-baik, bahkan terkesan pergi bersama tamu saja. Dan juga ini agak menyebalkan, Gitanyali ini sedikit-sedikit mikirnya ke seks atau penis lagi, seks atau penis lagi. Bahkan buku ini lebih banyak menceritakan gejolak masa muda, fantasi seks atau perbuatan zinanya dengan mbak ini dan mbak itu –dia suka perempuan yang berumur 30 tahunan, ketimbang menceritakan pergolakan PKI kala itu. Di dalam buku disebutkan bahwa pemberantasan PKI di Jawa Barat lebih selow ketimbang di daerah Gitanyali di Jawa Timur. Tapi ketika membaca pengalaman Gitanyali pun, saya merasa selow. Saya nggak merasakan ada ketakutan atau apa pun ketika membaca penumpasan PKI yang katanya kejam –lewat buku ini.

Kemudian cerita berjalan datar sampai akhir. Flat, nggak ada gejolak apa-apa.

Saya menutup bukunya dengan penyesalan sudah membuang waktu begadang tadi malam  dan menyematkan 1 bintang saja di Goodreads. Tapi nggak apa-apa, dengan begitu saya berhasil membuat keputusan bagus: nggak akan beli sekuelnya. Karena bukan cerita PKI seperti ini yang saya harapkan. Kalau hanya soal seks, mungkin sebaiknya saya beli buku roman dewasa saja sekalian, semacam 50 Shades of Grey gitu, deh.

Note: Saya pikir Gitanyali itu cewek, ternyata laki, dan om-om :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s