Review: Noda Tak Kasatmata – Agnes Jessica

Judul: Noda Tak Kasatmata
Penulis: Agnes Jessica
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: April 2008 (Cetakan pertama)
Harga: Rp – (beli di lapak buku bekas Rp 20.000,-)
Jumlah halaman: 192 hal.
ISBN: 9789792236644

*

Blurb:
Sarah – mahasiswi jurusan Sejarah yang sedang menyusun skripsi – ingin menyelidiki peristiwa pembantaian anggota PKI tahun 1965. Untuk itu ia datang ke desa Karya di daerah Jombang, Jawa Timur. Ia tidak tahu bahwa penelitiannya selama seminggu di sana akan mengubah hidupnya.

Semua penduduk desa yang diajaknya bicara tentang topik yang peka itu diam seribu bahasa. Hambatan utama penelitian Sarah datang dari Surya, anak anggota PKI yang terbantai. Masa lalu yang kelam membuat Surya berwatak keras. Ia menganggap Sarah hanyalah gadis kaya yang cuma tahu bersenang-senang dan menghabiskan uang orangtua.

Ketika penelitiannya hampir berakhir, Sarah menyadari dirinya telah jatuh hati pada Surya, padahal pria itu kekasih orang yang memberinya tumpangan selama seminggu berada di desa itu.

Apakah Sarah sanggup menghancurkan kebahagiaan orang lain demi kebahagiaannya sendiri?

*

Review:
Ini novel ketiga Agnes Jessica yang gue baca, dan sepertinya cukup suka dengan gaya menulis beliau. Gimana ya bilangnya, ide cerita di novel-novel Agnes Jessica itu seringkali biasa aja, cuma gaya bahasanya enak dibaca, walau tidak menggunakan diksi yang unik sepert novel populer era sekarang ini.

Noda Tak Kasatmata bercerita tentang Sarah, mahasiswi Sejarah di IKIP Jakarta yang akan menulis skripsi mengenai pembantaian PKI 65. Sarah kemudian memutuskan menggali bahan skripsinya di sebuah desa di Jombang, bernama Desa Karya. Ia kemudian bertemu dengan penduduk yang lebih banyak diam, bahkan ketus ketika ditanyai mengenai peristiwa 1965. Terlebih seorang lelaki bernama Surya, anak dari salah satu anggota PKI yang dibantai 30-an tahun silam (latar novelnya September 1998). Surya sangat susah membuka diri pada orang luar, hal ini diketahui Sarah dari Lastri yang merupakan anak kepala desa tempatnya menginap, sekaligus calon istri Surya. Sebab, waktu kecil, kakak Surya menjadi bisu karena trauma melihat ayahnya dibunuh di depan mata. Surya sendiri tidak bisa mendapat pekerjaan layak selama pemerintahan orba, karena itu ia jarang bergaul dengan dunia luar, apalagi dengan orang asing dari kota besar seperti Sarah. Tapi hebatnya, hanya dalam beberapa hari, Sarah sudah bisa akrab dengan Surya. Selebihnya bisa baca sendiri, lama-lama jadi spoiler kalau diceritakan.

  1. Idenya sederhana tapi menarik. Hanya tentang seorang mahasiswi yang ingin menulis skripsi, tapi tema PKI 65-nya itu yang justru jadi daya tarik.
  2. Bagi orang-orang yang nggak suka sejarah, novel ini mungkin akan terasa membosankan, karena lumayan panjang dialog dan penjelasan mengenai PKI 65 di dalam buku ini, walau sebagai orang yang suka sejarah, harus gue katakan dengan jujur, ulasan PKI-nya nggak dalam, kok. Malah harusnya, kalau menyinggung topik sejarah, novel bisa jadi super tebal karena ada banyak cabang cerita yang harus dibahas. Sebab sejarah punya banyak kisah dan versi.
  3. Menuju ending terkesan agak terburu-buru.
  4. I hate this, tokoh utama perempuan di novel Agnes Jessica kadang sikapnya ngegemesin: seolah suka menjatuhkan harga diri di hadapan cowok. Dalam hal ini, kayak Sarah yang sudah tahu bahwa Lastri menyukai Surya (ya walau bertepuk sebelah tangan), tapi dia sampai saat sebelum pisah dan balik ke Jakarta masih nanya apa mereka bisa bersama. Nggak bisa gitu, ya, mikirin Lastri yang udah nampung dia selama seminggu di desa itu? Atau kayak Sasha di novel Antara Aku dan Dia, yang mati-matian menyangkal bahwa dia nggak kangen sama tokoh cowoknya, tapi sampai bertahun-tahun ke depan masih mikirin.
  5. Dan banyaknya kebetulan di ending cerita, serta effort tokoh-tokoh cowok di novel Agnes Jessica sangat super sekali. Seperti misalnya: tokoh cowok di novel Antara Aku dan Dia, yang kebetulan aslinya adalah anak orang kaya, kemudian mencari tahu mengenai si tokoh cewek selama bertahun-tahun, mengawasinya dari jauh, sebelum akhirnya bertemu lagi. Di novel ini pun begitu polanya. Mungkin selewat baca 5 buku aja, gue bisa mulai meraba gimana pola penulisan cerita Agnes Jessica.
  6. Tapi kenapa bintangnya 4, sementara Mput bawel banget di review ini? Karena kalau gue lagi butuh drama, gue akan baca novel Agnes Jessica. You know, sometimes you need drama for refreshing, hahaha. Tapi novel dedek-dedek gemes zaman sekarang –yang banyak beredar di toko buku itu, kadar dramanya overdosis, dan malah bisa bikin gue nggak kelar baca bukunya. Makanya, menurut gue drama ciptaan Agnes Jessica adalah yang takarannya paling pas.

Maka sekarang gue tahu mengapa pembacanya banyak, padahal ceritanya seringkali sederhana dan biasa saja.

You need ciri khas.
Got it.

*cari judul lainnya*

*

Well, 4 dari 5 bintang untuk Noda Tak Kasatmata 🙂 semoga judul lain jauh lebih memuaskan dari ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s