Review: Tiga Sandera Terakhir – Brahmanto Anindito

25674513

Judul: Tiga Sandera Terakhir
Penulis: Brahmanto Anindito
Penerbit: Noura Books
Tahun Terbit: Mei 2015 (Cetakan pertama)
Harga: Rp 62.000
Jumlah halaman: 316 hal.
ISBN: 9786020989471

*

Blurb:

Penyanderaan brutal terjadi di sebuah desa di Papua. Korbannya lima orang—warga negara Indonesia, Australia, dan Perancis. Semua telunjuk segera mengarah ke OPM, Organisasi Papua Merdeka. Namun, OPM sendiri menyangkalnya. Mereka menegaskan bahwa pihaknya sudah lama tidak menggunakan cara-cara ekstrem seperti itu, demi perjuangan kemerdekaan Papua Barat.

Lantas, siapa dalang penyanderaan itu? TNI enggan berteka-teki terlalu lama. Satuan Antiteror Kopassus di bawah pimpinan Kolonel Larung Nusa segera diturunkan ke Bumi Cenderawasih. Tapi, malang tak bisa ditolak. Korban malah berjatuhan, baik di pihak sandera maupun anggota Kopassus. Salah seorang anggota bahkan dinyatakan hilang secara misterius di belantara Papua.

Kolonel Nusa mulai menyadari bahwa lawannya ini bukan sekadar milisi OPM. Melainkan pasukan khusus seperti dirinya.

*

Review:

Saya termasuk orang yang royal jika sudah jatuh cinta pada sesuatu. Dalam hal ini, berlaku juga untuk buku. Jika saya menyukai tulisan seseorang, saya akan membeli bukunya yang lain. Dan dalam hal ini juga, Bang Bram berhasil ‘menguasai’ keroyalan saya dengan baik dan membuat saya jatuh cinta berkali-kali. Saya pertama kali jatuh cinta pada Satin Merah beberapa tahun lalu, kemudian jatuh cinta untuk kedua kali pada Rahasia Sunyi.

Hari ini, ketika saya selesai membaca buku ini, saya kembali merasakan hal yang sama –walau tak ada kisah roman sama sekali di dalam Tiga Sandera Terakhir. Sepertinya saya memang cocok dengan gaya menulis beliau.

Tiga Sandera Terakhir adalah sebuah kisah thriller yang kental akan aroma militer. Barangkali kamu bisa langsung menebak usai membaca blurbnya. Awalnya, saya sedikit bingung ke mana cerita ini akan dibawa. Tapi ternyata (seperti biasa) Bang Bram punya kejutan di seperempat bagian belakang bukunya. Seharusnya buku ini terasa berat, karena temanya. Tetapi saya membacanya cukup cepat dan cukup menikmati segala unsur yang ada. Ketika sedang tegang membaca adegan yang serius, bisa saja ada selipan jokes ringan yang spontan membuat saya tertawa.

Seingat saya –atau sejauh yang pernah saya baca, masih belum ada novel Indonesia yang membahas militer. Atau ada, tapi saya yang nggak ngeh. Intinya, ketika membaca buku ini, saya tertegun dan segera terbayang berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk riset. Hahaha. Sepertinya butuh banyak persiapan matang untuk menyelesaikannya.

Tiga Sandera Terakhir bercerita tentang seorang Kolonel bernama Larung Nusa, seorang yang punya jabatan tinggi tapi kerap disepelekan orang lain di belakang hanya karena ia menantu seorang menteri. Orang-orang tak percaya bahwa prestasi yang dimilikinya luput dari bantuan sang mertua. Sebuah kasus besar kemudian terjadi di Papua, OPM diduga terlibat. Di sinilah Nusa harus membuktikan pada semua orang, bahwa ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Pembaca akan dibawa ke tanah Papua yang keindahan alamnya masih seksi, dan belum sebising ibukota. Tak salah juga ketika Bang Bram berkata dalam ‘pesan cinta’-nya di novel ini, bahwa ini adalah novel cinta tanah air. Salah satu yang selalu saya kagumi dari beliau adalah berani memilih setting yang antimainstream –sama seperti ketika beliau memilih Kerinci (Jambi, Sumatera) untuk setting Rahasia Sunyi.

Beberapa kesalahan tulis memang terjadi, tapi tak terlalu mengganggu. Hanya selewat saja, dan saya juga tak senang mengomentari hal sepele. Jadi takkan saya bahas lebih lanjut mengenai typo.

Tentang gaya penulisan, mengulang yang di atas, saya selalu suka gaya menulis Bang Bram. Di sini, maskulinnya terasa banget, mungkin karena mayoritas tokohnya adalah laki-laki, dan penulisnya memang laki-laki juga. Hahaha.

Beberapa bahasa daerah setempat sempat membuat saya tidak mengerti dan mengerutkan kening. Mungkin, baiknya ketika menuliskan bahasa daerah, ada catatan kaki di bawah halaman yang bersankutan, jadi pembaca bisa lebih memahami arti obrolan tersebut. Memang, sih, beberapa kata bisa diraba-raba artinya, tapi tak semua. Sama seperti ketika kita menuliskan Bahasa Minang dari Sumatera Barat saja misalnya, tak semua huruf ‘O’ itu berarti ‘A’ dalam Bahasa Indonesia. Ada kata-kata yang penulisan dan lafalnya jauh berbeda dengan arti Bahasa Indonesianya.

Mungkin begitu saja catatan cinta kali ini :p
Well, pada akhirnya, 5 dari 5 bintang untuk novel ini.
Dan tentu, saya masih menunggu saat-saat jatuh cinta berikutnya.

Advertisements

2 thoughts on “Review: Tiga Sandera Terakhir – Brahmanto Anindito

    • Seharusnya masih ada di tokbuk, tapi kalau nggak nemu, bisa order ke toko buku online kayak bukabuku, kutukutubuku, redaksi penerbitnya langsung (gagasmedia), atau ke penulisnya di twitter @brahmandito 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s