Review: Senjakala – Ni Komang Ariani

Judul: Senjakala
Penulis: Ni Komang Ariani
Penerbit: Koekoesan
Tahun Terbit: Oktober 2010 (Cetakan pertama)
Harga: – (beli di big sale ramadan bukabuku.com Rp. 25.000,-)
Jumlah halaman: 135 hal.
ISBN: 9789791442381

*

Blurb:

Lily mengungkap kasus hilangnya Raka secara misterius dikawasan wisata Gunung Kawi. Kehilangan itu membuat Naka (adik kembar Raka) sangat terpukul. Raka dan Naka adalah sepasang anak kembar yang tidak terpisahkan sejak orang tua mereka meninggal. Polisi gagal menemukan Raka. Masyarakat sekitar juga sudah menghentikan pencarian. Desas desus beredar tentang makhluk halus yang menyembunyikan Raka. Dalam kekalutan itu, muncul cinta tak biasa antara Lily dengan lelaki Bali bernama Cakra, karena keduanya berasal dari latar belakang berbeda. Bagaimana akhir kisah cinta mereka? Dan misteri apa yang menyelimuti kasus hilangnya Raka?

*

Review:

Duh, kangen memberikan rating sempurna untuk sebuah buku lokal. Hahaha. Awalnya beli buku ini hanya karena sedang riset soal novel tentang jurnalis. Kebetulan nama penulisnya cukup familiar dan seorang teman suka baca buku beliau, jadi akhirnya beli aja.

Senjakala bercerita tentang seorang jurnalis patah hati yang ditinggal kekasihnya, karena menganggap ia terlalu sibuk dengan berita. Kemudian, bosnya merasa iba karena ia tak mau berhenti bekerja, agar bisa melupakan kesedihan. Jadi, kemudian ia dikirim ke Bali untuk liputan berita ringan, semacam objek wisata lokal sana. Tapi kemudian, tanpa sengaja, ia terjun ke dalam kasus hilangnya seorang anak 11 tahun bernama Raka. Timeline di buku ini memang berjalan lama sekali rasanya, tapi justru itulah yang membuatnya terbaca lebih natural.

Sembari mencari-cari keberadaan Raka, Lily -si jurnalis, kemudian berteman dengan Naka -kembaran Raka yang sangat rindu pada kakaknya, dan juga I Gede Cakra, sahabat baik si kembar, seorang pemuda tampan alumni arkeologi yang rajin melestarikan adat Bali.

Seperti kebanyakan cerita, rasanya hambar kalau nggak ada kisah cintanya, ya.
Maka di buku ini juga ada kisah cinta antara Lily dan Cakra. Namun, penulis berhasil menuliskannya dengan apik, sehingga kisah romance-nya nggak membunuh inti cerita: dunia jurnalistik dan adat Bali yang kental.
Ini yang mengagumkan buat saya. Karena kadang romance langsung muncul mendominasi, sehingga sebuah cerita kehilangan arah sebab terlalu fokus di drama percintaannya saja, padahal dunia jurnalistiknya pun bagus untuk diceritakan lebih dalam lagi.

Dari awal sampai tengah cerita pun, sempat ada dugaan unsur gaib yang membawa Raka pergi. Naka pun percaya, bahwa Bli Raka hilang dengan tidak wajar, namun tak ada yang bisa berbuat lebih untuknya. Polisi pun tampak enggan ditanyai terus oleh Lily. Mereka merasa porsi wartawan harusnya tak sejauh itu, bukan untuk mengajari bagaimana cara polisi bekerja.

Dalam keputusasaannya, kemudian Naka menuliskan banyak surat untuk Bli Raka, yang selalu ia hanyutkan agar dapat dibaca kakak kembarnya itu. Dibilang ghoib, ternyata nggak terlalu. Mungkin kecuali bagian Naka bertemu Raja Anak Wungsu dan permaisurinya, yang membawa kabar tentang Raka.

Dan dalam surat-suratnya, saya merasa bahwa bahasa Naka terlalu tinggi untuk anak seusianya. Tapi tak mengapa, saya tetap menyukai novel ini.

Dan juga sangat jatuh cinta pada judulnya!

5 bintang di Goodreads!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s