REVIEW: Mahadewa Mahadewi – Nova Riyanti Yusuf

Foto: dok. pribadi

Judul: Mahadewa Mahadewi
Penulis: Nova Riyanti Yusuf
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Agustus 2003 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp – (hasil bookswap, IRF 2014)
Jumlah halaman: 195 hal.
ISBN: 979-22-0464-4

*

“Tantangan terbesar manusia adalah mengakui kekurangan dan jujur pada diri sendiri. Lewat karya yang gemilang, novelis muda Nova mengajak kita untuk menjadi pemberani memenangkan tantangan itu. Rangkaian kata yang lugas dan berisi dari novel ini telah memperkaya khasanah kesusasteraan Indonesia… Teruslah berkarya…” – Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Cendekiawan.

“Nova memahami kehidupan sekaligus dengan berbagai perspektif: perspektif legenda Mahabharata, Shakespeare, sejarah, gagasan mengenai reinkarnasi, Buddhis, agama Islam, psikiatri dan psikologis Freudian, serta bahkan semacam sosiologi perkotaan mengenai masyarakat yang plural. Keunikan novel ini, bisa dikatakan, membuka jalan bagi estetika novel era informasi dalam bentuknya yang lebih tajam dari sekedar novel fragmentaris. Novel ini bahkan momentaris; manisa hanya bisa berusaha memburu & menyelamatkan momen-momen tertentu dalam kehidupan, yang tak bisa dialami kembali, tetapi kadang menyergap seperti deja vu.”- Faruk HT, kritikus sastra, direktur Pusat Studi Kebudayaan UGM.

*

Review:

Mahadewa Mahadewi saya ambil di meja Book Swap pada IRF 2014 kemarin. Terhitung buku lawas jika dilihat dari tahun sekarang –saat saya membacanya. Buku ini diterbitkan pertama kali pada Agustus 2003, dan sejujurnya saya tak tahu bagaimana kondisi karya sastra pada zaman itu. Pada 2003 barangkali saya juga masih piyik –boro-boro baca sastra, apalagi sastra seperti Mahadewa Mahadewi yang disebut surealis bagi beberapa orang.

Hal pertama yang menarik dari Mahadewa Mahadewi adalah judul dan covernya. Abstrak, tapi menyimpan sesuatu. Seorang wanita yang terselubung –entah apa, bersama sepasang malaikat di kanan kirinya. Sekilas saya membuka buku ini, dan sempat ragu mengambilnya karena merasa bacaan kedokteran bukan bacaan yang cocok. Tapi kemudian, jenis fontnya yang berwarna dan banyak ragam itu toh membuat saya kepincut juga.

Saya cukup ‘masuk’ ke dalam dunia Yukako –tokoh utamanya. Gadis ini adalah seorang yang kompleks. Selewat, saya merasa dejavu. Seorang yang sangat kompleks adalah ciri tokoh milik Sekar Ayu Asmara –penulis favorit saya. Bedanya, Sekar Ayu Asmara bisa melukiskan tokohnya dengan teratur, sehingga pembaca tidak kesulitan untuk memahami. Ralat, saya, entah pembaca lain. Di Mahadewa Mahadewi, saya berkali-kali heran dengan Kako. Mengapa ia begitu labil di usianya yang seharusnya sudah dewasa. Ada dua lelaki dalam hidupnya di awal cerita –Reno dan Leo. Kako sendiri berkata bahwa ia kesal pada Leo yang membuatnya harus hamil kemudian memaksa menggugurkan kandungan tersebut hanya karena tak ingin ketahuan istrinya. Baiklah, ketika kita berani menjalani hubungan seperti itu, maka seharusnya si Leo sebagai seorang yang lebih dewasa memahmi itu. Oke, OOT deh jadinya. Kembali ke Kako. Setelah menangani seorang pasien rumit seperti Reno –dan akhirnya malah terlibat affair, ia meninggalkan Jakarta, kemudian pergi ke Darwin ikut keluarganya. Sedari sini, saya merasa Kako semakin sulit dipahami. Ia menentang sesuatu, tapi akhirnya mengikuti.

Dan lagi, perpindahan POV serta setting tempat sangat cepat. Sungguh, mereka benar-benar tokoh-tokoh metropolitan sekali, yang mungkin kekayaannya nggak usah ditanyain lagi, sampai perpindahan Jakarta-Darwin yang berulang kali, ditambah perpindahan Gangga (sahabat Kako) dari Jakarta-Canada-Darwin-Jakarta lagi-Darwin lagi, nggak bisa saya hitung dengan cermat saking seringnya.

Apa hal yang ingin disampaikan penulis dalam novel ini? Yang bisa saya tangkap, inti dari cerita ini adalah psikologis dan sisi terdalam dari diri manusia. Bahkan manusia waras dan sakit jiwa di dalam cerita ini batasnya tipis sekali. Siapa saja bisa menjadi pesakitan di cerita ini. Itulah mengapa saya menyebutnya cerita yang complicated but interesting.

Dan barangkali, ini hal yang sangat pantang saya bahas di dalam review. Tapi selewat saja. Saya tak ingin menghakimi typo seseorang, tapi untuk buku yang terbit dari penerbit sekelas Gramedia Pustaka Utama, masih ada tulisan ‘yach’, ‘nich’, ‘dech’, dan semacamnya, menurut saya agak aneh.

Tambahan, terlalu banyak istilah kedokteran yang bikin mabok di dalam buku ini. Walau semuanya dijabarkan di halaman paling belakang, tapi penulis bahkan menggunakan istilah (yang mungkin tak dipahami orang awam) untuk sebuah kata yang sejatinya masih bisa dituliskan dengan kalimat sederhana. Oh ya, ini buku yang agak dewasa, karena di tiap partnya bisa saja terselip kisah senggama dadakan. Jadi, pastikan kalian yang di bawah umur tidak membacanya, atau tidak kaget ketika nekad membacanya 😛

Saya menyelesaikan buku ini dalam tempo yang cukup cepat. Karena kebetulan ada waktu untuk membacanya, dan otak saya sedang welcome untuk cerita seperti ini. Surealis? Entahlah, saya tak bisa mencapnya surealis, karena barangkali saya sendiri belum paham sepenuhnya apa itu novel yang surealis. Tapi, memang, novel ini rumit. Cocok buat mikir. Atau sejauh ini, cocoklah buat kalian yang suka sama masalah psikologis. Novel ini sakit jiwa. Hahaha.

Well, 3 dari 5 bintang untuk Mahadewa Mahadewi.

“I knew that you were Arjuna.”

“And you must be Krishna. We have never met, yet I feel that I have known you.”

“Perhaps.” said Krishna, “we have been friends in other lives.”

“We will be friends in this life,” said Arjuna.

“Yes,” said Krishna, and they embraced.

*

Quotes:

  • “Tetapi aku mengerti sesuatu. Adakalanya keindahan hidup muncul dari kacamata orang gila.” – Yukako, hal. 2
  • Momen pertama yang sangat cepat berlalu dan selalu diimpikan untuk terulang kembali. – hal. 12
  • “Kalau aku boleh tahu, apa makna dari kedewasaan diri? Karena bertambahnya usia dalam hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, windu, dekade, dan seterusnya tidak menambah bobot kedewasaan. Semua dalam hidup ini memang relatif, tidak ada parameter.” – Yukako, hal. 50
  • “Comfort is just an illusion, but pain is real.” – Mahadewa, hal. 58
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s