REVIEW: Cerita Calon Arang – Pramoedya Ananta Toer

index

Judul: Cerita Calon Arang
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun Terbit: Februari 2010 (Cetakan Kelima)
Harga: Rp –
Jumlah halaman: 96 hal.
ISBN: 978-979-97312-1-0

*

Blurb:

Cerita Calon Arang bertutur tentang kehidupan seorang perempuan tua yang jahat. Pemilik teluh hitam dan penghisap darah manusia. Ia pongah. Semua-mua lawan politiknya dibabatnya. Yang mengkritik dihabisinya. Ia senang menganiaya sesama manusia, membunuh, merampas dan menyakiti. Ia punya banyak ilmu ajaib untuk membunuh orang… murid-muridnya dipaksa berkeramas dengan darah manusia. Kalau sedang berpesta, mereka tak ubahnya sekawanan binatang buas, takut orang melihatnya.

Tapi kejahatan ini pada akhirnya bisa ditumpas di tangan jejari kebaikan dalam operai terpadu yang dipimpin Empu BAradah. Empu ini bisa mengembalikan kehidupan masyarakat yang gonjang-ganjing ke jalan yang benar sehingga hidup bisa lebih baik dan lebih tenang, tidak buat permainan segala macam kejahatan.

*

Review:

Buku Pram barangkali termasuk sastra yang wajib baca. Sebenarnya sudah lama mendengar bagaimana respon-respon positif orang mengenai karya beliau, sempat juga tertarik sama tetraloginya, terutama yang Bumi Manusia. Tapi malah buku ini yang ada duluan di tangan. Hehe.

Udah lama pengin baca buku yang ini. Sebenarnya mungkin ada beberapa versi mengenai cerita Calon Arang. Pram sendiri membenarkan dalam kata pengantar yang ditulis beliau pada puluhan tahun silam (yang juga tercantum di dalam novel ini). Sedari awal juga dituliskan bahwa kisah ini diperuntukkan bagi anak-anak. Membaca Cerita Calon Arang, jadi teringat sebuah film lawas. Kalau mau dibandingkan sepertinya tidak setara. Entah mengapa, saya merasa buku terkadang jauh lebih jujur ketimbang film. Film bisa dimodifikasi menjadi bentuk dan rupa apa saja, karena sejatinya film bertugas memberi nyawa pada cerita agar tampak hidup. Harus hidup. Sedangkan buku lebih mampu bercerita secara jujur.

Beberapa yang berbeda adalah, selama ini saya tak pernah tahu bahwa Empu Baradah menikah lagi, dan Wedawati begitu dibenci ibu tirinya. Malahan yang saya tahu, Wedawati termasuk dekat dengan Empu Bahula (murid ayahnya yang kemudian ditugaskan menikahi Ratna Manggali).

Dan buku ini menjawab pertanyaan saya setelah sekian lama. Bagaimana kelanjutan cerita kerajaan tersebut dan hidup Empu Baradah sendiri. Hanya saja, yang masih kurang jelas, tidak disebutkan siapakah istri baru Empu Baradah dan siapa anak lelakinya itu.

Well, 4 dari 5 bintang untuk Cerita Calon Arang yang legendaris. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s