REVIEW: Simfoni Bulan – Feby Indirani

Judul: Simfoni Bulan
Penulis: Feby Indirani
Penerbit: Media Kita
Tahun Terbit: Januari 2006 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp – (hasil bookswap, IRF 2014)
Jumlah halaman: 206 hal.
ISBN: 979-794-013-6

*

Blurb:

Setelah lima tahun menjadi jurnalis, Bulan memutuskan berhenti dan beralih menjadi penulis novel. Terbiasa bekerja dengan fakta dan data aktual ternyata memandulkan kemampuannya berimaginasi. Ia tak bisa menulis, jika tak mengalaminya sendiri. Maka ketika hendak menulis sebuah novel tentang pelacur, persis itulah yang dijalaninya: menjadi pelacur untuk observasi partisipatoris. Demi sebuah proses mengalami.

*

Review:

Pertama tertarik ngambil buku ini pas lagi di bookswap IRF 2014 lalu. Mungkin blurbnya kurang menarik bagi beberapa orang, tapi blurb singkatnya itu salah satu yang menarik buat gue, makanya rela meninggalkan salah satu buku yang gue pegang di tangan untuk ditukarkan dengan buku ini. Sempat dipendam di lemari buku selama 4 bulan, sebelum akhirnya beberapa hari lalu gue kembali semangat pengin bongkar timbunan dan membaca stok lama duluan.

  1. First impression

Honestly lagi, warna dan desain covernya yang menurut gue menarik, makanya gue ngambil buku ini dari meja swap. Sisanya meraba-raba dari blurb. Biasanya gue lebih suka memastikan kalau rating dari buku yang gue ambil itu lumayan. Sempat cek Goodreads, dan ternyata responnya kurang meriah. Walau hanya 1 dari 4 komen yang bernada negatif. Akhirnya diambil juga. Hehe. Untungnya diambil, karena ternyata malah suka pas udah selesai dibaca.

  1. How did you experience the book?

Sebenernya yang bikin bingung dari buku ini malah tokoh utamanya. Pemikirannya labil. Kadang dia teguh dan keren sekali, malah kadang uring-uringan. Ya, namanya juga cewek. Udah dari sananya kayak gitu. Cuma bahasanya di beberapa bagian (nggak semuanya, sih, cuma beberapa) masih kebawa-bawa kayak jurnalis. Serasa baca berita koran. Dan selewat buka tentang penulisnya, ternyata memang kerja di media. Seperti yang gue tweet tadi malam, sih: jurnalis dulu baru jadi novelis, pasti beda jauhlah gaya bahasanya sama novelis yang jadi jurnalis.

  1. Characters

Salah satu yang gue suka dari novel ini adalah tokohnya yang unik-unik, dan nggak segan menjadi berbeda dari tokoh-tokoh di novel lain. Beberapa diantaranya bahkan ekstrem dan frontal.

Bulan Rahmatulayla: tokoh utama novel ini, seorang jurnalis yang mengundurkan diri dari kantor karena menganggap pers terlalu dikendalikan pandangan masyarakat dan pemerintah. Ia ditegur keras karena menuliskan tulisan yang menurutnya benar, mengenai penggusuran Kramat Tunggak pada tahun 1999, yang kemudian digantikan Jakarta Islamic Center. Bulan kemudian ingin menjadi novelis dan mencoba menulis novel pertamanya, namun jenuh karena merasa tidak sanggup berimajinasi dengan baik. Maka ia akhirnya terjun menjadi pelacur sungguhan.

Steve: seorang sahabat Bulan yang punya usaha kelab malam dan dunia hingar-bingar lainnya, termasuk menyalurkan para PSK ke klien-kliennya. Atas bantuan Steve, akhirnya Bulan bisa bekerja menjadi pelacur, bahkan Steve juga yang mengendalikan semuanya. Steve termasuk orang yang jujur, asik, namun tetap profesional dalam urusan bisnis haram sekalipun.

Visya Yudhistira: seorang penulis kontroversial yang pernah diidolakan Bulan. Ia tidak pernah mau terbuka pada orang-orang, namun Bulan berhasil menarik perhatiannya. Visya kemudian jatuh cinta pada Bulan, dan sialnya karena ‘kegilaannya’ juga, lelaki ini tidak mau melepaskan Bulan sama sekali. Tokoh ini termasuk salah satu tokoh yang gue suka. Dia beda, walau sakit. Sakit jiwa akut! Pernah bikin steak dari daging tetangganya, pernah menyayat tubuhnya di jalanan ramai kemudian dilarikan ke rumah sakit, bahkan pernah menggarami luka di tubuhnya. Ia bisa muncul di mana saja; di dalam mimpi, bahkan di dunia nyata di mana pun Bulan berada. Beberapa pembaca menduganya ikut aliran setan seperti di Amerika sana, namun tidak ada yang pernah tahu hingga akhir cerita novel ini. Kayaknya seru deh kalau ada satu novel khusus tentang Visya.

EmHa: seorang wartawan dari media lain, teman Bulan dulunya ketika masih sering liputan. EmHa ini yang penasaran tentang ‘pelacur yang dulunya wartawati’ karena diceritakan Steve. Ia akhirnya membooking Bulan, namun tidak menidurinya. Termasuk tokoh baik juga, sih. Walau Akhirnya Bulan kenal si Gangga dari dia.

Gangga: cowok yang katanya lumayan menarik karena anak LSM. Pernah kerja di LSM perempuan dan sekarang di LSM anak. Dia berhasil membuat Bayu –anak angkat Bulan, menjadi tenang. Tapi ternyata.. Sudahlah, baca di ending -_-

Mariatun: Seorang PSK Kramat Tunggak yang menjadi sahabat Bulan, karena sering bertemu saat Bulan turun liputan ke lapangan. Mar termasuk salah satu gadis yang ceria dan senior di rumah bordil tempatnya bekerja. Ia punya seorang anak bernama Bayu dan seorang pacar bernama Barkah.

Bayu: Anak tunggal Mar. Anak ini yang kemudian diurus Bulan setelah Mar meninggal. Karena merasa begitu dekat dengan ibunya, Bulan nggak tega membiarkan Bayu terlantar. Bayu punya rambut gondrong yang tidak pernah mau dipangkasnya, karena dia takut dengan gunting.

Barkah: Pacar Mar, seorang lelaki pekerja serabutan yang bekerja tak jauh dari daerah lokalisasi. Mar cinta mati sama cowok ini, tapi kemudian dia jadi buronan karena diduga membunuh Mar.

Siti: asisten rumah tangga di rumah kontrakan Bulan. Masih muda, masih 17 tahun, tapi dia punya banyak adik di kampung, hingga terbiasa mengurus anak. Siti termasuk orang yang jujur dan dipercaya Bulan, sehari-hari dia yang mengurus Bayu di rumah.

Azka: Mantan bos di kantor Bulan. Sekaligus mantan pacarnya Bulan, sih. Ups, maksudnya Bulan jadi selingkuhan dia. Cowok yang sudah berumur dan umurnya terpaut cukup jauh juga, tapi pernah disukai Bulan karena sosoknya kebapakan.

Meerva: seorang gadis India yang pernah kuliah di London, namun pulang kembali ke tanah airnya untuk mengajarkan tarian tradisional pada anak-anak sekitar. Bertemu dengan Bulan sesaat setelah Visya meninggalkan gadis sendirian di India.

Adit: Adik lelaki bulan, tepatnya adik tiri. Awalnya ia sangat bersahabat, tapi kelamaan malah membenci Bulan karena satu alasan.

Tante Siska: tante Bulan, adik dari ibunya. Tante Siska ini tipe perawan tua yang lebih senang tinggal di rumah, nggak pernah kelihatan punya pacar. Berbibir tebal dan nggak pernah becanda sama sekali.

  1. Plot

Plotnya lumayan menarik, alurnya maju (dan mundur hanya di beberapa flashback). Cuma seperti yang gue tuliskan di poin 2, kendala di sini cuma beberapa bahasanya terbaca kayak bahasa liputan. Tapi sebenarnya nggak bera-berat amat, sih. Masih sanggup dipahami, dan masih bisa diteruskan membacanya sampai akhir.

  1. POV

POV 3

  1. Main Idea/Theme

Tentang seorang wartawati yang ingin beralih menjadi novelis, untuk menuliskan novelnya secara real, ia beralih profesi menjadi pelacur sungguhan.

  1. Quotes
  • Kaum sinting tidak mengenal istilah bodoh. Kami adalah kelompok jenius yang tak pernah bisa dipahami orang-orang biasa. – 5
  • “Guru besar saya adalah kehidupan itu sendiri. Karena kehidupan sudah memberikan lebih banyak, jauh lebih banyak dari apa yang kita bayangkan. Hanya melalui hiduplah kita bisa mengubah segala sesuatu, manisnya darah, asin keringat, tajamnya pisau, dan mendekati gerbang kematian.” – Visya Yudhistira, 28
  • “Kalau hanya menulis, semua orang bisa melakukannya. Tapi aku? Bukan. Aku bukan sekadar penulis. Aku ini aktor. Dan aktor yang baik adalah orang yang menjadi. MENJADI. Bukan berpura-pura memerankan orang lain yang bukan dirinya.” – Visha pd Bulan, 32
  • Bulan sendiri masih ragu apakah surga benar-benar ada. Tidak ada yang bisa membuktikan. Tidak pernah ada wartawan yang liputan ke surga. Lagipula haruskah Bayu dibohongi hanya karena dia anak-anak? Bulan tidak suka menjual mimpi. – 44
  • Sejak konsep ibu dan surga mulai tercipta, masyarakat tidak menghendaki perempuan sebagai manusia. Manusia hanyalah para lelaki. Karena hanya lelakilah yang boleh berbuat kesalahan. Kekhilfan lelaki akan mudah dimaafkan dan dimaklumi sebagai sesuatu yang manusiawi. Tapi perempuan haruslah sempurna. Karena surga ada pada telapak kakinya. – 64
  • “Percayalah, besok semua akan baik kembali. Ambang normal dari manusia terbuat dari bahan karet yang bisa ditarik sampai melar panjang. Kita makhluk yang paling lentur, paling cepat beradaptasi dengan keadaan. Dengan sakit, dengan pahit, dengan luka, dengan apa pun..” Visya pd Bulan, 174
  1. Ending

Di beberapa bagian terakhir menjelang ending, terutama scene di India, gue merasa alurnya jadi dipercepat. Kesan buru-burunya kelihatan banget, kayak pengin cepat selesai, padahal part itu yang seharusnya padat dan bisa diceritakan lebih panjang daripada yang tertulis ini. Bahkan bisa eksplor India seperti Eat, Pray, Love. Tapi mungkin penulisnya lebih fokus ke goal utama yaitu membawa Bulan kembali ke Jakarta untuk menemukan Gangga yang asik menikmati ‘naskah palsu’-nya. But, still good ending kok. Udah lumayan kece endingnya.

  1. Questions

Ng, nggak mau buat satu novel sendiri mengenai Visya Yudhistira? :p

  1. Benefits

Nggak merasa rugi baca novel ini, walau udah telat beberapa tahun juga sebenarnya. Lewat 9 tahunan. Tapi ternyata ada aja jalannya biar ketemu. Novel-novel tentang jurnalis begini selalu menarik. Mungkin seperti Jakarta Undercover karya Emka, menelusuri sesuatu yang tidak pernah teraba masyarakat awam. Selain nambah pengetahuan, jadi greget juga bacanya. Hehe.

*

Finally, 4 dari 5 bintang untuk Simfoni Bulan dan Feby Indirani.

Advertisements

3 thoughts on “REVIEW: Simfoni Bulan – Feby Indirani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s