Berkaca dari Pembaca di Kota Kecil

Image from here

Kemarin siang, saya menghubungi seorang kawan dari Tanah Rencong, untuk menanyakan bagaimana kira-kira minat baca di daerahnya. Sari Afriza –karib saya itu, kemudian menceritakan bagaimana suka dukanya menjadi pembaca yang berasal dari kota kecil.

Garis besarnya sudah sangat saya ketahui. Karena sebelum menetap di Jakarta, saya sendiri juga berasal dari kota kecil yang cuma punya 2 toko buku untuk satu kota, yang stoknya lebih banyak dan update pun cuma satu (walau tidak bisa dibilang selengkap toko buku di Jakarta). Satunya lagi antara hidup segan, mati tak mau. Karena itu juga, saya merasa seperti orang haus yang ketiban es parut dengan sirup Marjan, begitu tiba di ibukota. Saya bisa membeli buku di toko buku berbagai merk, dari buku jenis lokal sampai buku import. Bahkan bisa berburu buku murah, ketika uang jajan sedang pas-pasan.

Kembali ke Tanah Rencong. Pertanyaan pertama saya, seberapa besar minat baca di sana? Sari mengatakan, bisa dibilang sangat rendah sekali. Ditambah lagi, memang kota kecil itu tidak punya toko buku. Untuk mendapatkan novel, mereka hanya bisa mencarinya di toko-toko buku kecil (bukan Gramedia atau semacamnya, di sana tak ada Gramedia), atau meminjam dari perpustakaan/rental buku. Jika ingin buku-buku baru, biasanya pesan online dari Jakarta (yang ongkos kirimnya bisa kalian bayangkan sendiri).

Ini juga terjadi di beberapa daerah lainnya di pelosok Nusantara. Pernah sekali, saya membuat giveaway yang isinya mewajibkan peserta menulis blog dan menceritakan sesuatu. Seorang peserta tampak gigih mengikuti giveaway tersebut, karena katanya di daerahnya tidak ada toko buku, jadi dia sangat berharap mendapat buku dari kuis-kuis yang diadakan penerbit/penulis di sosial media.

Hal ini yang kemudian membuat saya bertanya-tanya. Apa sebabnya buku masih kurang diminati di daerah atau kota kecil?

Apakah memang minat baca yang rendah menyebabkan toko buku ‘malas’ buka cabang di daerah-daerah tersebut? Atau kebalikannya, tidak ada yang ‘memulai’ untuk membuka toko buku lengkap agar mereka bisa mendapatkan bacaan, yang mengakibatkan mereka jadi semakin malas dengan benda bernama buku (karena kemudian menjadi barang yang susah didapat).

Maka beruntunglah kita semua yang hidup di kota besar. Di mana terdapat banyak komunitas buku, komunitas pembaca, komunitas penulis. Di mana terdapat begitu banyak orang yang ‘haus’ akan kegiatan menulis dan membaca. Setidaknya, ada beberapa kota yang menurut saya sudah termasuk kategori beruntung di Indonesia (walau memang, minat baca kita secara skala nasional masih tertinggal jauh dari Singapura atau negara lain). Sebutlah Jabodetabek, Bandung, Makassar, dan lainnya. Di mana event-event besar literasi kerap kali diadakan. Beruntunglah kita, tak perlu membayar ongkir mahal untuk bisa membaca buku idaman. Beruntunglah, kota kita masih punya toko buku. Beruntunglah kita, tak perlu menunggu lama untuk bisa membeli buku yang baru terbit secara langsung. Bahkan beruntunglah kita, di event tertentu bisa bertemu langsung dengan penulis idola dan para editor dari berbagai penerbit.

Mereka yang di sana, bahkan kekurangan komunitas pembaca karena sedikitnya minat anak muda dalam hal perbukuan. Saya tahu, Sari selalu berusaha mengajak teman-temannya untuk membaca buku, namun hanya segelintir yang kemudian benar-benar konsisten dan serius. Beberapa diantaranya pernah bergabung membuat komunitas –yang namanya tak ingin saya sebutkan di sini. Intinya, komunitas itu membaca satu buku dalam sebulan, kemudian didiskusikan bersama. Sari sendiri termasuk ke dalam ketua salah satu grup bacanya. Diam-diam, saya memantau komunitas kecil itu, penasaran bagaimana perkembangannya. Bahkan saya pernah berjanji pada Sari, jika komunitas itu terus konsisten dan bertumbuh, saya ingin masuk dan ikut meramaikan. Ia menyetujuinya, tapi apa daya komunitas itu sekarang kandas di tengah jalan dengan dalih koordinator umumnya memang sudah sibuk, hingga tak sanggup lagi mengurus komunitas. Pertanyaan besar saya berikutnya adalah, apa tak ada yang bersedia menggantikan beliau?

Apa terlalu sedikit orang yang bersemangat untuk membuat komunitas baca di sana terus hidup dan aktif?

Ini pertanyaan besar yang belum terjawab.

Sari juga bercerita, bahwa saya tak boleh membayangkan perpustakaan di sana seramai di sini. Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia barangkali hiruk pikuk setiap harinya, riuh oleh mahasiswa dan umum yang ‘haus’ mencari buku-buku kuliah, atau sekadar membaca skripsi mahasiswa lain. Di sana, dikisahkan Sari, perpustakaan adalah tempat sepi. Hanya segelintir yang kebetulan mencari bahan skripsi, yang akan masuk perpustakaan. Kurang lebih aktivitasnya sama saja, tapi kami masih sama-sama tak mengerti mengapa jumlah pengunjung di sini lebih padat. Alasan basinya, mungkin fasilitas. Mungkin orang kota besar sudah didukung oleh fasilitas memuaskan di perpustakaan, hingga mereka betah berlama-lama.

Kalau memang itu alasannya, saya tak bisa menentang. Fasilitas memang tak pernah bisa dibandingkan, antara kota besar dengan kota kecil. Jadi, mari kita pindah ke taman bacaan.

Menurut Sari juga, di sana ada sebuah taman bacaan yang dikelola FLP (Forum Lingkar Pena) regional Aceh, namun tidak begitu ramai. Malah, sekarang taman bacaan itu kalah oleh tempat jasa rental buku yang perlahan bermunculan.

Saya tahu, Sari termasuk salah satu orang yang suka sekali membaca. Hanya saja, lingkungan membuatnya tidak bisa menciptakan kelompok baca atau membuat event literasi yang asyik. Kita akan lebih kuat jika bersama-sama. Sejatinya seperti itu, bukan? Dan barangkali hal inilah yang dirasakan banyak pembaca lain di daerah kecil pelosok Indonesia.

Barangkali, yang benar-benar suka membaca hanya sedikit. Mereka sulit berkembang karena lingkungan tidak mendukung. Bahkan untuk mendapatkan buku bacaan, memang harus getol ikut kuis saja. Karena tidak tidak bisa bohong, ongkos kirim ke daerah itu mahal sekali. Bahkan terkadang lebih mahal daripada harga bukunya.

Teringat kata seorang kawan yang lain, @miss_zp pernah berkata, ia lebih senang memberikan hadiah kuis pada mereka yang memang ketahuan tinggal di tempat nan jauh, agar orang-orang yang jauh dari toko buku tetap bisa membaca buku-buku terbaru.

Jadi, dengan keadaan yang seperti ini, setelah berkaca pada para pembaca di kota kecil itu, apa yang selanjutnya akan kita perbuat?

*

*ditulis dari hasil chat dengan @sariafriza di siang bolong sehabis bangun tidur

Advertisements

9 thoughts on “Berkaca dari Pembaca di Kota Kecil

  1. Tulisan bagus, Put. Aku pun merasa senasib dengan temanmu itu, haha. Untungnya kampung aku nggak terlalu jauh dari ibukota, jadi sesekali masih bisa ngesot dan terbang ke sana. Tapi ya, rasanya memang tersiksa banget sih, setelah biasa dengan fasilitas–dulu yang toko buku jaraknya tinggal lempar kolor, beli berkilo-kilo dapat ongkos kirim gratis (dan waktu relatif singkat), event literasi yang bisa didatengin layaknya jin ‘pop pop pop’, sekarang nggak lagi. Mungkin aku nggak segigih temanmu yang bikin komunitas ini itu. Apapun kondisinya ya, akhirnya dinikmati aja sih. Lagi pula lumayan menurunkan kebiasaan numpuk buku jadi terlalu banyak dan benar-benar beli yang memang pengin dibaca aja. Haha.

    • Iya kak T__T berasa banget ternyata ya bedanya kalau tinggal di kota kecil, terlebih lagi di daerah yang ke mana-mana masih jauh. Jaaaauuhhhh banget bedanya. Dapet satu dua judul buku yang diincer rasanya susah banget. Kalau di kota besar tinggal ngesot, haha. Semangat, kak! Kemarin kakak ke jakarta kita ga sempat ketemuan. Next time ketemuan yuuukk 😛

      • Hahaha… untungnya masih ada temen-teman baik di Jakarta yang mau direpotin cari buku ini itu. :p

        Pengalaman lainnya pesen buku via online dari kota kecil/desa tuh kadang-kadang ada toko buku online yang jangkauan kirimnya nggak sampai tempat tersebut, misalnya opentrolley. Hahaha. Ya pokoknya tinggal di kota kecil itu daripada diskon lebih baik ngasih free ongkir sih. Tempatku yang nggak begitu jauh dari Jakarta aja sekitar 30rb-35rb/kg, lumayan bisa dapet satu buku. Eh, tapi senang juga sih sekarang mulai ada toko buku online yang kasih gratis ongkir. Semoga toko-toko online lainnya mengikuti jejak mereka. #halah

        Siap, nanti kalau ke sana lagi aku kabar-kabarin! 😀 😀

  2. Aku senasib dengan kak Sari. Disini toko buku gak ada yang lengkap, Kak. Novel aja susah, apalagi buku pelajaran sekolah? Suka sedih sendiri. Harus 4 jam ke Surabaya buat nemuin gramedia. Segitu susahnya ya buat dapetin bahan bacaan? hehe :^)

    • Wah 😦 Agak susah ya kalau terlalu jauh begitu. Habis dana dan tenaga selama di jalan doang 😐 tapi kalau boleh tahu, di sana ada rental buku atau perpustakaan daerah atau semacam itu?

  3. Saya benar-benar merasakannya karena saya sedang kuliah di Tanah Rencong ini. Contoh yang paling baru saja ketika hendak mencari Koala Kumalnya Radit, sangat sulit. beberapa toko buku yg saya datangi mengatakan stok habis, dan baru masuk lagi jika sudah banyak yg mencarinya, itupun toko buku harus menunggu beberapa minggu setelah memesan stok buku. yah, sekarang aku mengerti gramedia tidak buka di aceh karena minat msyrakatnya juga kurang. aku sendiri akhirnya memesan kpd keluarga sendiri yg ada di Medan, lalu di kirim lewat jne. btw, tulisan yang bagus, membuka pikiran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s