Review: (Kumpulan Puisi) Dalam Lipatan Kain – Esha Tegar Putra

Jpeg

Judul: Dalam Lipatan Kain
Penulis: Esha Tegar Putra
Penerbit: Motion Publishing (Kata Bergerak)
Tahun Terbit: Maret 2015 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 54.000,-
Jumlah halaman: 132 hal.
ISBN: 9786027005464

*

Selewat:

Lahir, tumbuh dan besar, di negeri di mana kata-kata meng-
ambil peranan penting dalam segala lini kehidupan membuat
saya harus berpandai-pandai dalam memilah pengucapan
pada orang dan harus lihai lagi sigap memaknai ucapan
orang. Setiap kata dikeluarkan dan diterima mesti dengan
kesepadanan pikiran dan perasaan.

Perihal tersebut tidak pernah diajarkan di mana pun oleh
siapa pun. Sebab kosakata dalam kitab bahasa ibu saya,
berikut kaidah pengikat penggunaannya, akan muncul dan
terserap dengan sendirinya seiring pergaulan dalam masya-
rakat. Teramat mustahil seseorang di negeri saya pandai
berkata lihai memaknai kata tanpa masuk ke lingkaran per-
gaulan masyarakat yang merupakan leksikon bergerak.

Dalam lingkaran itulah orang-orang mencipta kalimat muja-
rab bin ajaib, hasil tatanan ulang pembongkaran kosakata
dari kitab bahasa segala mungkin. Mereka menata, mengulas-
jahit, menambal-sulam, memadu-padu, bahkan jikalau perlu
memelintir kata hingga makna sebuah kata harus rela ter-
lempar untuk kemudian dimasuki oleh makna lain. Proses
menata kata-kata tersebut terjadi terjadi di mana saja, kapan
saja, dan dalam situasi apa saja.

*

Review:

Dalam Lipatan Kain ini adalah buku yang paling gue tunggu-tunggu. Setelah Pinangan Orang Ladang, kayaknya cukup lama jedanya sampai Bang Esha nerbitin buku (solo) lagi. Btw, gimana ya caranya review kumpulan puisi? Sampai lupa. Haha.

Intinya, puisi-puisi dalam buku ini tampak lebih matang memang, ketimbang yang dulu. Isi buku dibagi menjadi beberapa bagian, dan beberapa puisi ada di dalam buku ini adalah puisi yang sudah pernah dimuat di buku sebelumnya.

Sama seperti review yang gue tuliskan di Goodreads, gue suka puisi-puisi di sini karena lokalitasnya kental banget. Mungkin buat yang nggak pernah ke atau nggak pernah tinggal di daerah asal penulisnya, puisinya kurang berasa. Tapi buat gue, ya, ini sesuatu yang bawaanya bikin pengin pulang kampung. Hahaha.

Hiligo’o, Kinol, Penjara Muara, dan yang lainnya, semuanya terasa familiar.

Tapi gue paling suka yang Di Perlintasan Jalan Gereja ini..

Jpeg

Klik untuk memperbesar

Sebenernya masih ada beberapa yang lain, sih. Tapi kayaknya lebih enak kalau baca langsung sendiri. Hehe.

Dan kejutan kali ini adalah berhasil ketemu langsung sama penulisnya di acara AseanLitFest 2015 kemarin. 🙂

Silakan, buat yang suka puisi. Gue nggak bisa berkomentar banyak kalau soal puisi, barangkali penulisnya bahkan tahu lebih banyak daripada gue.. 😛

Eh, tapi gue nggak suka puisi sih aslinya. Cuma beberapa puisi yang bisa bikin betah bacanya 😛

di-ttd waktu masih fresh from oven :p

di-ttd waktu masih fresh from oven :p

Tadaaa

Tadaaa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s