REVIEW: Gloomy Gift – Rhein Fathia

Tadaaa...

Tadaaa…

Judul: Gloomy Gift
Penulis: Rhein Fathia
Penerbit: Pustaka Populer (Bentang Pustaka)
Tahun Terbit: Maret 2015 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp
Jumlah halaman: 288 hal.
ISBN: 9786022910893

*

Blurb:

Kupandangi kamu dengan wajah memelas.

Berharap kamu mau menyingkap apa yang sedang kita alami sekarang. Kamu tetap pada pendirianmu, bungkam.

Pura-pura tak ada hal besar yang baru saja terjadi.

Bagaimana mungkin semua baik-baik saja? Di hari pertunangan kita, segerombolan orang menyerbu rumah. Tembakan diletuskan. Peluru. Jeritan orang-orang. Dan, kamu membawaku kabur masih dengan kebaya impian yang kini terasa menyiksa dipakai di saat yang tak sepantasnya.

Hari yang seharusnya bahagia, menjelma tegang dan penuh tanya. Kenapa kita harus lari? Belum cukupkah aku mengenalmu sejauh ini?

Aku tak siap menyambut kenyataan. Tak siap jika harus kehilangan. Tak kuat menahan rasa takut yang berkepanjangan.

*

Review:

pesan cinta :p

pesan cinta :p

Termasuk salah satu buku yang gue tunggu-tunggu tahun ini. Beberapa tahun mengenal Rhein Fathia, gue tahu ini genre yang termasuk baru untuknya –romance berbalut action, genre yang agak jarang untuk novel lokal juga. Tapi, beberapa kali membaca bab-bab awal Gloomy Gift, gue tahu bahwa Rhein termasuk berhasil mengeksekusi naskah yang belum pernah dia coba sebelumnya.

Well, and this is my review 🙂

  1. First impression

Covernya menarik. Seorang cowok berpakaian rapi seolah akan menikah, tapi kedua tangannya menggenggam dua pistol. Mengingatkan gue pada film-film hollywood –perang di pesta pernikahan. Woh. Seksi.

  1. How did you experience the book?

Gue selalu suka sama gaya menulis Rhein. Ia selalu bisa menuliskan romance tanpa pernah menye-menye. Sebuah romance yang tegas, kalau gue menyebutnya. Romance, tapi tetap enak dibaca sampai akhir dan tidak melelahkan. Dan tidak memaksakan ceritanya untuk penuh air mata drama. Khusus di novel ini, gue lebih suka lagi, soalnya banyak scene kejar-kejaran. Romance, action, atau bahkan kadang komedi (di beberapa bagian), bercampur jadi satu cerita.

  1. Characters

Menariknya tokoh di Gloomy Gift, karena beberapa dari mereka menggunakan sandi-sandi satu sama lain, bener-bener bikin gue merasa baca novel terjemahan. Bedanya ini murni lokal, bahkan settingnya semua lokal. Itu yang bikin nyaman bacanya, sih.

Kara Arkana: Seorang cewek tipe ‘cewek disney princess’, punya toko kado di salah satu mal, dan punya tunangan tampan bernama Zeno. Hidup Kara baik-baik saja, punya ibu yang menyayanginya dan saudara-saudara bawel, hingga hari pertunangannya dengan Zeno tiba.

Zeno Ramawijaya: Putra sulung keluarga Ramawijaya. Keluarga ini termasuk tangguh, semua anaknya bisa bela diri dan terbiasa menghadapi situasi mencekam. Zeno digambarkan sebagai seorang lelaki idaman nan jagoan. Kalau dibilang perfect dude, bisa juga, sih. Hehe.

Dhewa Ramawijaya: adik Zeno satu-satunya. Mereka kompak, dan Zeno pernah berjanji pada almarhumah ibunya untuk selalu menjaga Dhewa. Anak ini juga patuh sekali pada Zeno.

Garin Ramawijaya: Ayah Zeno, seorang lelaki tegas dan selalu hati-hati dalam mengambil keputusan, serta pintar menyembunyikan kecemasannya –kecuali dari hadapan Belinda.

Belinda: Ibu kara, seorang janda dari anggota ABRI, makanya dia peka pada tanda-tanda kecil di sekitar, dan punya banyak koneksi ke mana-mana termasuk di kepolisian. Ibu-ibu yang cukup keren juga, sih. Hehe.

Pandu: Almarhum ayah Kara. Walau cuma muncul namanya saja, tapi gue merasa beliau patut dibahas di poin ini, karena Pandu membentuk karakter Kara dan membuat Belinda menjadi perempuan kuat.

Hana Ramawijaya: almarhumah ibu Zeno (istri Garin Ramawijaya). Seorang wanita keibuan yang sangat dicintai keluarganya. Hana menjadi penengah diantara 3 lelaki Ramawijaya, dan mereka lebih hampa setelah kepergian Hana. Sosok Kara yang dianggap Zeno menyerupai Hana, yang membuatnya selalu ingin melindungi gadis itu mati-matian.

Adrian: seorang rekan kerja Zeno di SYL. Termasuk seorang yang cekatan juga, sih. Intinya, semua anak SYL kerjanya cepat dan ‘licik’.

Violet: ini anak IT-nya SYL, kerjanya bobol sistem dan pertahanan, ngehack data orang bila dibutuhkan, serta mempertahankan data mereka dan menciptakan proteksi bagi SYL. Violet digambarkan sebagai seorang perempuan cantik, namun kadang sendu. Ia tidak menyukai gadis seperti Kara, gadis yang dianggapnya merepotkan dan mengganggu konsentrasi Zeno.

Furky: cewek jagoan yang keliatannya memang agak tomboy, dia ini sahabat baik Zeno dan selalu membantu memperbaiki ‘mainan’ Zeno bila diperlukan. Latar belakang cewek ini juga bikin gue speechless, sih. Diam-diam ternyata bapaknya itu… ah sudahlah, baca aja sendiri. Haha. Keren pokoknya.

Raymond: big boss Lintang Samudera, musuh yang dihadapi SYL. Raymond ini licik dan menggunakan segala cara agar bisa melenyapkan Zeno karena dendam di masa lalu.

Martin: Almarhum putra Raymond yang pernah mencoba membunuh Zeno.

Lupus: seorang sniper profesional sekaligus pembunuh bayaran yang konon kabarnya tak pernah gagal dan paling ditakuti.

Hera dan Dhennys: pasangan suami istri dokter yang membantu Zeno. Seperti biasa, keluarga Ramawijaya punya banyak koneksi berbagai bidang profesi, dan kedua orang ini cuma salah satunya saja.

  1. Plot

Plotnya menarik, sih. Ceritanya jadi rapi pas dibaca dan nggak bikin gue capek bolak-balik halaman sebelumnya. Gue jadi lebih lancar mengikuti cerita aja. Oh, tapi ada yang aneh sih ketika Kara bertanya bagaimana keadaan Lupus usai bertempur hebat satu lawan satu sama Zeno, sedangkan dirinya sendiri hampir terbunuh seketika itu juga. Gue rasa ini agak kurang masuk akal aja. Okelah, Kara baik, itu mungkin saja. Tapi kalau kalian ada di pihak yang hampir terbunuh, apa kalian masih sempat berpikir bahwa si pembunuh mati atau tidak? Kalau gue ada di pihak itu, satu-satunya alasan gue bertanya adalah karena takut jadi tertuduh membunuh Lupus. Tapinya lagi, kalau gue jadi Kara Arkana, gue nggak bakal takut dituduh, karena gue tahu Zeno pasti akan melindungi walau apapun yang terjadi. Dan lagi, Lupus juga ada di pihak yang salah. Haha. Oke, ini kejauhan. Intinya plotnya rapi, dan alurnya maju, walau ada beberapa potongan flashback.

  1. POV

POV 3

  1. Main Idea/Theme

Tentang seorang gadis yang harus menerima kejutan di hari pertunangannya sendiri. Menerima bahwa kekasihnya bukan lelaki biasa, dan kenyataan bahwa mereka harus melarikan diri sementara dari kejaran orang-orang yang mengincar nyawa. Hidup yang tadinya biasa saja, mendadak jadi mendebarkan.

  1. Quotes
  • Menikah sekaligus menghabiskan seluruh hidupmu bersama sosok yang kamu cintai dan balas mencintaimu sama besarnya. Apa yang lebih indah dari itu? – hal. 41
  • “Konon, setiap anak perempuan selalu mencari sosok calon suami yang mirip ayahnya.” – Zeno to Kara, hal. 95
  • Cinta bisa membuatmu melakukan apa pun, termasuk melukai sosok yang kau cintai. – 129
  • Ada yang mereka tidak tahu. Kebanyakan pria menganggap wanita hanya sebagai makhluk yang ditakdirkan untuk ditaklukkan, bukan untuk dilindungi. Materi sebanyak apa pun tidak akan memenuhi rasa terlindungi yang wanita butuhkan. – Kara to Zeno, hal. 133
  • Jika masih rasional, itu bukan jatuh cinta. – Zeno, hal. 138
  • Sometimes, someday means I know it will never happen. – 139
  • Kejujuran tak selamanya melegakan. Adakalanya kejujuran jauh lebih menyakitkan dan mengerikan dari kebohongan. – 184
  • Someone you love has at least one secret that would break your heart. – 185.
  • Pada suatu hari nanti, ketika kita sudah sanggup melawan rasa takut dengan keberanian untuk menghadapi risiko apa pun yang akan terjadi, aku akan menjemputmu kembali. –
  1. Ending

Endingnya masih menggantung, jadi belum bisa gue komentari. Cuma penutup di novel ini udah cukup manis. Nggak memaksa untuk terlalu happy ending, tapi juga nggak sedih-sedih banget. Balance. Dan realistis. Ini penting. Fiksi tetap harus masuk akal, kalau buat gue.

  1. Questions

(mau nanya langsung ke penulisnya aja, deh. Hehe)

  1. Benefits

Benefitnya adalah, sekarang gue udah tahu gimana gaya-gaya novel romance-action lokal. Hahaha. Lumayan nambah-nambah referensi untuk nulis naskah berikutnya. Dan genre ini juga tergolong jarang kalau dari novelis lokal, jadi gue baca buku yang unik dong, ya? Hehe.

*

Well, sekarang rasa penasaran gue akan Gloomy Gift sudah terjawab walau belum sepenuhnya karena gue masih penasaran sama kelanjutan cerita di buku berikutnya. Eh, ini beneran menggantung karena ada buku berikutnya, kan? Gue harap iya, karena itu kasian Kara kalau nggak dilanjutin. Tolong lanjutin demi nasib Kara *alesan aja*

Ini udah cocok kok difilmkan, tapi gue juga nggak mau ending yang begini di filmnya. Hahaha, kalau buku okelah. Kalau film, gue bisa ngamuk. ITU GIMANA NASIB KARA?

Sengaja dikapslok biar drama. *masih aja, dah*

Oke, oke, serius! 5 bintang untuk Gloomy Gift dan Rhein Fathia. Daebak, kalau pinjem istilah temen gue yang suka Korea-korean. Gue penasaran nih sama risetnya, tanyain ah. *melipir*

Advertisements

3 thoughts on “REVIEW: Gloomy Gift – Rhein Fathia

  1. Pingback: Hidup Seimbang dan Bahagia ala Rhein Fathia: Menekuni Hobi Menulis, Traveling, Hingga Survive Kuliah Creative Writing Di Australia – Bukunya Mput

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s