REVIEW: Robohnya Surau Kami – A.A. Navis

Judul: Robohnya Surau Kami
Penulis: A.A. Navis
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: April 2012 (Cetakan ke-18)
Harga: Rp. – (beli di tokbuk bekas, jadi kurang tahu harga aslinya)
Jumlah halaman: 142 hal.
ISBN: 978-979-22-6129-5

*

Blurb:

Dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”, berdialoglah Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah…

“…..kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak….”

Kutipan cerpen di atas ditulis oleh A.A. Navis, sastrawan besar yang telah melahirkan karya-karya monumental dalam sejarah sastra Indonesia. Pemikirannya yang kritis dapat dijadikan sebuah otokritik bagi setiap pemeluk agama di Indonesia dan mana pun juga. Silakan bercermin pada cerpen-cerpen yang ada di dalam kumpulan ini. Lalu putuskan, apakah kita akan menarik hikmah dan manfaat atau bersikap “buruk rupa, cermin dibelah”.

*

Review:

Gue baca buku ini dalam rangka Readathon Day – 24 Januari 2015 kemarin. Sebenernya udah punya dari beberapa minggu lalu, tapi belum selesai dibaca. Kebetulan, hari Sabtu minggu lalu ada acara Readathon, yang konsepnya kurang lebih, membaca satu atau lebih buku dalam kurun waktu 4 jam nonstop. Event internasional, sih, cuma Goodreads Indonesia ikut meramaikan. Bacanya boleh selesai, boleh nggak, tapi perkembangannya harus diupdate di forum GRI. Lumayan, gue bisa menghabiskan buku A.A. Navis ini segera, ternyata.

  1. First impression

Soal cover, gue enggan berkomentar, deh. Sebenernya gue lebih suka covernya yang versi warna putih (tapi gue juga nggak tahu itu edisi cetakan ke berapa), cuma dapatnya yang ini. Lagian, nyari bukunya agak susah juga, makanya pas nemu cover ini juga langsung gue beli aja. Hehe.

Awalnya, gue kira ini cerita sastra yang agak berat. Sama seperti novel, kumpulan cerpen pasti ada juga kan yang bahasanya nyastra dan berat. Awalnya juga, gue ragu mau baca ini. Takut otak nggak sampai untuk memahami isinya.

  1. How did you experience the book?

Sambungan dari nomor 1, ternyata isi bukunya nggak berat-berat amat. Malah tentang kehidupan sehari-hari. Mungkin memang akan terasa sedikit berat kalau kalian nggak terbiasa atau familier sama bahasa Minang atau bahasa Melayu. Karena settingnya zaman dulu, buku ini banyak menggunakan bahasa Melayu dan menyisipkan petuah-petuah adat Minangkabau di dalamnya.

  1. Main Idea/Theme

Kalau dibaca secara keseluruhan, gue yakin nggak bakal kelihatann apa main idea-nya. Tapi kalau dibaca sekali dua kali lagi secara keseluruhan, sebenarnya temanya sih simpel. Kalo menurut gue sih, kerukunan umat dan sifat-sifat jelek dalam hidup manusia. Kadang kita melihat orang yang kayaknya baik dan dituakan, tapi penampilan ternyata nggak menjamin. Kadang juga sebaliknya. Itulah yang (menurut gue) ingin diajarkan A.A. Navis melalui cerpen-cerpennya.

  1. Review Singkat Cerpen

Cerpen dalam buku ini ada 10, tapi gue akui, hanya beberapa yang benar-benar nusuk dan gue bener-bener suka. Berikut ulasan singkatnya:

  1. Robohnya Surau Kami: cerpen ini yang paling gue suka, yang sekaligus menjadi judul bukunya. Menceritakan tentang seorang kakek yang sehari-harinya mengurus surau, bahkan hingga tua dan meninggalnya, mungkin hanya kakek yang peduli pada surau di kampung tempatnya tinggal. Sayangnya, seorang yang dipanggil Ajo Sidi kemudian mengecewakan Kakek. (rate: 5/5)
  2. Anak Kebanggaan: tentang seorang bernama Ompi, yang angkuh dan selalu membanggakan anaknya di hadapan orang sekampung. Tapi ternyata anaknya tak pernah sehebat yang ia banggakan, dan sedihnya dia nggak pernah tahu apa yang sebenarnya dilakukan anaknya di kota. (rate: 3/5)
  3. Nasihat-nasihat: Mengenai seorang tua yang kerap dimintai pendapat oleh anak-anak muda di sekitarnya. Karena biasa dituakan, ia merasa besar kepala dan selalu ingin dimintai pendapat pada masalah apapun. Hingga suatu hari anak lelakinya bertemu seorang perempuan asing di bis. (rate: 5/5)
  4. Topi Helm: Cerita ini agak panjang, tapi sebenernya di beberapa bagian agak bikin ngantuk. Sederhana sih, mengenai seorang yang mendapatkan hibah topi helm bekas majikannya. Ia sangat membanggakan topi tersebut, karena jika memakainya, ia akan merasa menjadi orang yang hebat dan kaya raya –seperti majikannya dulu. Tapi salahnya, dia terlalu sayang bahkan memuja topo tersebut. (rate: 3/5)
  5. Datangnya dan Perginya: Nah, ini twistnya bagus. Gue suka. Tentang seorang lelaki tua yang menyesal pernah mengusir anaknya dari rumah. Suatu hari anaknya beritikad baik mengundangnya datang ke rumah, untuk memperbaiki hubungan mereka. Bapak tua itu datang dengan senang hati, karena telah menyesali perbuatannya di masa lalu, hingga ia tahu, siapa istri dari anak lelakinya. (rate: 5/5)
  6. Pada Pembotakan Terakhir: Ini ceritanya agak pedih, tapi nggak begitu nendang, menurut gue. Tentang seorang anak kecil yang bercerita, bahwa ibunya sering membotakkan kepalanya setiap kali ia berulang tahun. Bagian yang paling sedih adalah ketika ia menceritakan teman belakang rumahnya yang kerap disiksa. (rate: 3/5)
  7. Angin dari Gunung: tentang percakapan dua orang teman, yang satunya terlihat minder, yang satunya berusaha membujuk. Agak datar. Sebenarnya gue nggak begitu ngerti sama cerpen ini, walau ceritanya nggak panjang. Eh, ngerti sih, dikit. Tapi menurut gue nggak terlalu nendang. (rate: 2/5)
  8. Menanti Kelahiran: Menceritakan seorang perempuan hamil yang mulai sering curiga sama suaminya. Akhirnya, suaminya mengalah dan mulai sering mengajaknya keluar. Untuk menjaga rumah, mereka kemudian membayar seorang pembantu untuk menunggui rumah. Endingnya nggak terlalu mengagetkan sih, bahwa pembantunya ternyata penipu, dan anak yang dibawanya ternyata cuma anak jalanan yang dipaksa untuk kooperatif dan menyamar jadi anaknya. (rate: 3/5)
  9. Penolong: Nah, menurut gue cerpen yang ini juga kurang nendang.. Tentang seorang bernama Sidin yang kebetulan lewat di jalur kecelakaan kereta api, kemudian membantu orang-orang mengevakuasi kereta yang baru kecelakaan. Ketika sedang membantu menolong korban-korban, ia bertemu seorang yang aneh dan banyak diam. Di sini keanehan dimulai. (rate: 3/5)
  10. Dari Masa ke Masa: Ini agak setengah fiksi kayaknya. Sepertinya A.A. Navis menumpahkan kegelisahannya dalam cerpen ini, bahwa anak muda harus selalu bergantung dan meminta pendapat yang tua. (rate: 4/5)

Quotes

  • Biasanya, di negeri Minangkabau yang beradat, jika hilang bercari, jika tenggelam diselami. Takkan dibiarkan anak gadis yang sebesar itu pergi begitu saja. Di sini Minangkabau, Hasibuan. Minangkabau yang adatnya tinggi. Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. – Nasihat-nasihat, hal. 32-33.
  • Tuhan terlalu cepat mengambil tiap-tiap yang dikasihi seseorang. Ah, aku tak mengerti, kenapa semua orang yang berbaik budi, terlalu lekas meninggalkan manusia yang mengasihinya. – Datangnya dan Perginya, hal. 61.
  • “Semua perempuan cocok bagi laki-laki yang tahu menghargai orang lain.” – Datangnya dan Perginya, hal. 67.
  • “Kini barulah saya tahu, kerjaan kita yang terutama sekarang ialah membenahi akibat kerja kita di masa lalu.” – Dari Masa ke Masa, hal. 138.

Kesimpulan

Robohnya Surau Kami termasuk kumcer yang sukses gue baca dalam waktu singkat, bukan karena isinya yang kelewat ringan, tapi sebaliknya, malah padat dan berisi. Walau, benar, kalau dibandingkan sama sastra lain, ini masih termasuk ringan, kok.

Seluruh cerpen di buku ini menggunakan kota-kota/daerah-daerah di Sumatra Barat sebagai setting. Misal: Padang, atau Kayutanam. Juga adat Minangkabau yang kental di dalamnya. Jadi, gue sudah lebih familier dengan isinya.

Penulisannya juga rapi dan tidak membosankan walau mayoritas percakapannya memang menggunakan gaya bahasa Melayu lama.

Overall, 5 dari 5 bintang untuk Robohnya Surau Kami. Cukup suka pada buku ini dan sepertinya bakal jadi salah satu koleksi buku sastra dari angkatan Balai Pustaka, selain Sitti Nurbaya.

Advertisements

One thought on “REVIEW: Robohnya Surau Kami – A.A. Navis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s