REVIEW: Sang Maharani – Agnes Jessica

Judul: Sang Maharani
Penulis: Agnes Jessica
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Desember 2009 (Cetakan Kedua)
Harga: Rp. – (beli di obralan, Rp. 15.000)
Jumlah halaman: 314 hal.
ISBN: 9789792244472

*

Blurb:

Sebagai putri jenderal di zaman penjajahan Belanda, Maharani memiliki segalanya: kecantikan dan kecerdasan, harta dan kehormatan. Tapi setelah ayahnya meninggal dan Belanda Kalah oleh Jepang, hidupnya berbalik 360 derajat. Ibu tirinya menjadikannya pelayan di rumahnya sendiri. Ia tak dibagi peninggalan ayahnya. Yang paling menyakitkan, ia diserahkan ke pemerntahan Jepang, yang lalu menjadikannya Jugun Ianfu, pelacur untuk memuaskan tentara-tentara Jepang. Harga dirinya terampas, tubuh bukan lagi miliknya. Hidupnya menjadi mimpi buruk yang mengerikan. Perasaannya sebagai seorang manusia utuh seolah telah mati karena merasa diri bukan lagi manusia yang berharga.

Lalu ia bertemu kembali dengan Arik, adik angkat yang sudah bertahun-tahun berpisah dengannya; adik angkat yang begitu dicintai dan mencintai dirinya. Inilah kebahagiaan yang tiada tara baginya setelah kehidupannya luluh-lantak. Namun ia menyadari cinta yang dirasakannya kepada Arik sekarang ini berbeda dengan cinta yang diberikannya beberapa tahun lalu, saat mereka masih anak-anak. Seperti roti curian yang terasa manis, cinta terlarang ini menjerat dirinya. Beranikah ia meraihnya?

*

Review:

Gue udah lama nyari-nyari buku ini. Dulu, pas baca Adriana, gue pernah ngetweet di TL, bahwa novel roman sejarah sepertinya menarik. Seorang teman memberikan Sang Maharani sebagai rekomendasi. Tapi dia sendiri mengakui bahwa nyari bukunya agak susah, jadi sejak itulah gue nyari ke mana-mana. Nggak pernah nemu, udah ada rentang setahun sepertinya –sampai akhirnya gue menemukan buku ini di obralan Gramedia. Akhirnya langsung beli, dengan harga miring pula. Dan butuh berbulan-bulan untuk membacanya, karena ketunda terus.

Kesan pertama gue membaca beberapa bab Maharani adalah, ngilu. Sebenernya nggak ngilu-ngilu banget, buat kalian yang pernah atau beberapa kali baca tulisan Agnes Jessica, pasti tahu bahwa penulis satu ini kadang pinter banget menuliskan kisah drama. Ini pujian, menurut gue Agnes Jessica bisa menuliskan drama dengan elegan. Sedihnya dapet, tapi kadang samar-samar bahwa itu drama. IMHO, sih, ya.

Termasuk ketika membaca Sang Maharani, di bagian paling sedih yaitu bagian Maharani jadi Jugun Ianfu, kadang gue merasa udahlah, skip aja. Kayaknya terlalu miris untuk dibaca, tapi akhirnya tetap gue baca. Sebenernya, gue sempat heran, Agnes Jessica romannya kelihatan biasa-biasa saja, tapi bukunya banyak dan pembacanya juga rame. Ternyata ini salah satu kelebihannya. Tulisannya memang rapi dan kalo nulis kisah sedih, sedihnya bisa berasa banget.

Untuk jalan cerita, bisa dibaca di blurb di atas. Intinya, Maharani mengisahkan perjuangan seorang perempuan blasteran Belanda-Indonesia dalam memperjuangkan harga dirinya sendiri, setelah diinjak-injak keluarga tirinya dan kehilangan kepercayaan dari banyak orang, termasuk calon suaminya sendiri. Adalah Arik, adik angkatnya yang memang sayang banget sama Rani. Arik kemudian jatuh cinta pada Maharani, dan bisa ditebak, menjadi pahlawan dalam kisah ini.

Membaca Maharani bikin gue refreshing lagi ke zaman penjahahan, zaman Belanda, zaman Jepang menerobos masuk ke Indonesia, zaman warga Belanda ditahan Jepang, zaman kekalahan Jepang dan zaman kemerdekaan. Entah mengapa, zaman penjajahan selalu punya banyak cerita yang bisa dieksplor jadi novel bagus. Contoh lainnya, Ca Bau Kan karya Om Remy Sylado. Itu juga settingnya tiga zaman dan gue suka banget.

Overall, menurut gue Sang Maharani termasuk kisah roman yang berbeda dari kebanyakan roman zaman sekarang. Selain setting dan tokoh, kerapian alur cerita jadi salah satu kelebihan Agnes Jessica. Walau di beberapa bagian, setting waktunya meloncat begitu saja, tapi sejauh ini bukan masalah buat gue.

Cuma kurang suka endingnya. Sebenernya bagus, tapi ngegantungnya agak nanggung, ya. Mending adegan suster ani nelpon Janoear itu gak usah ada aja. Itu malah bikin gue kecewa. Padahal scene yang menceritakan Janoear datang dan mewek minta maaf ke Rani udah cukup nendang.

Ini buku keduanya yang gue baca, dan sepertinya pengin nyari judul yang lain.

Well, 4 dari 5 bintang untuk Sang Maharani dan Agnes Jessica. Sungguh, ‘roman sederhana’ ala Agnes Jessica kadang malah susah dilupakan setelah selesai baca. Hehe.

*

Quotes:

  • Banyak orang mengatakan bahwa pemerintah kolonial Belanda menjajah dengan perasaan, sehingga rakyat yang dijajah tidak merasakannya selama lebih dari tiga abad. Sementara pemerintah Jepang menjajah tanpa kenal ampun, sehingga rakyat yang sudah hampir mati akhirnya menjerit juga, sebagai pilihan lain dari dijemput maut. – hal. 130
  • “Percayakah kau, kalau kukatakan bahwa sebelum aku bertemu denganmu karierku adalah segalanya?” – Arik kepada Maharani, hal. 240
  • “Ada banyak laki-laki yang menginginkanmu dan kau tinggal memilih satu di antaranya. Sedangkan aku? Satu pria yang kuinginkan hanya menginginkanmu menjadi kekasihnya!” – Moetiara kepada Maharani, hal. 304
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s