REVIEW: Sitti Nurbaya – Marah Rusli

Judul: Sitti Nurbaya – Kasih Tak Sampai
Penulis: Marah Rusli
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun Terbit: 2002 (cetakan ke 37)
Harga: Rp. – (beli di book fair)
Jumlah halaman: 271 hal.
ISBN: 979-407-167-6
Status: Baca bareng BBI, Oktober 2014 – Buku-buku Balai Pustaka

*

Review:
Barangkali hampir tidak ada penikmat sastra yang tidak mengenal Sitti Nurbaya, sebuah roman angkatan lama bersetting Sumatra Barat, diterbitkan Balai Pustaka berpuluh-puluh kali serta diangkat menjadi film dan sinetron beberapa kali.

Sitti Nurbaya adalah tragedi percintaan dua anak muda, di mana perjodohan menjadi masalah utamanya. Sitti –putri dari Baginda Sulaiman, seorang gadis cantik namun bernasib malang. Ia bersahabat dengan Samsul Bahri, bahkan perlahan-lahan mulai mencintai sahabatnya tersebut. Samsu pun memiliki perasaan yang sama, tapi kebangkrutan Baginda Sulaiman ternyata berbuntut panjang dan membuat Sitti terpaksa menikah dengan datuk tua bernama Datuk Meringgih.

Sampai di sini, kayaknya banyak yang akan familiar dengan ceritanya. Di buku yang gue baca ini, bahasanya masih mempertahankan bahasa melayu lama. Di dalamnya banyak pantun dan surat-surat ‘berkasih-kasihan’ antara Samsu dan Nurbaya. Pertama kali gue baca Sitti Nurbaya zaman SMP, di perpustakaan sekolah, dan semenjak itu gue merasa suka sama ceritanya. Mungkin lebih tepatnya, gue jadi suka karena gue familiar sama semua setting dan bahasanya. Hampir semua settingnya berada di Padang, ibukota provinsi Sumatra Barat –tempat gue menghabiskan masa kecil. Bahkan di Gunung Padang, di atas bukit itu, ada makam Sitti Nurbaya. Waktu kecil gue sering nanya sama nyokap, itu asli atau nggak. Nyokap selalu bilang, itu fake. Cuma makam yang dibuat menyerupai ilustrasi dalam novel, untuk kepentingan wisata, karena cerita cinta Nurbaya sudah terkenal di mana-mana. Tapi sebenarnya nggak ada yang tahu juga, sih. Gue sampai sekarang masih ragu soal makam itu. Cuma, memang nggak ada salahnya berkunjung ke sana kalo kebetulan main ke Padang #iklan #VisitWestSumatra2015 😛

Begitulah, dan Marah Rusli ternyata berhasil menciptakan roman yang abadi bahkan setelah puluhan tahun. Selain beliau, ada banyak pengarang-pengarang lain yang juga menciptakan roman-roman era lama, mungkin seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah milik Hamka. Roman-roman seperti ini mungkin bisa menjadi pilihan yang bagus kalau kalian ingin mulai membaca buku-buku sastra angkatan Balai Pustaka 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s