REVIEW: Dilan – Pidi Baiq

Judul: Dilan (Dia adalah Dilanku tahun 1990)
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: Pastel Books (Mizan Group)
Tahun Terbit: 2014 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 59.000
Jumlah halaman: 330 hal.
ISBN: 978-602-7870-41-3

*

Blurb:

“Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalo sore. Tunggu aja.” (Dilan 1990)

“Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang.” (Dilan, 1990)

“Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.” (Milea, 1990)

*

Review:

Yak, karena orang-orang lagi pada heboh sama novel ini, akhirnya ikut baca juga. Awalnya merasa 300an halaman terlalu tebal untuk novel ringan, tapi setelah dibaca dan selesai, malah merasa kurang. We want more! *cewek, wes byasa ndak konsisten* :)))

Jadi cerita ini sebenernya ringan banget, seringan-ringannya, nggak berat kayak buku sastra atau dosamu 😦

Ini tentang Dilan dan Milea, dua ABG SMA era 1990an yang saling jatuh cinta. Buku ini ditulis dari sudut pandang Milea di zaman sekarang, ketika dia mengenang lagi dari awal, bagaimana kali pertama dia mengenal seorang Dilan –lelaki yang kemudian ia cintai. Mengenang bagaimana perjalanan cinta mereka di antara orang-orang sekitar; teman Dilan yang nggak suka Lia, atau beberapa cowok yang bersaing dengan Dilan memperebutkan Lia. Ini anak muda banget. Fresh pokoknya :)) apalagi ditambah setting Bandung dan bahasa mereka yang kental Sunda banget, jadi inget Jomblo-nya Kang Adhitia Mulya 😀

Satu kata yang bisa gue lukiskan tentang buku ini: manis! Gombalan-gombalan Dilan pada Milea dan hadiah-hadiah unik yang dia berikan, bikin pembaca jadi ikut malu-malu, seperti kata @Birucahya: serasa digombalin beneran. Benar adanya, mood gue jadi baik setelah baca buku ini, karena sering senyum-senyum sendiri, ketawa sendiri, bahkan ngakak.

Seorang Dilan di mata Lia –atau mungkin di mata seluruh pembaca, adalah seorang bad boy yang sebenarnya baik dan penyayang. Dilan anak geng motor, kadang terlibat kasus, tapi sejak sama Lia dia nggak pernah sengaja cari ribut sama orang lain. Dilan orang yang nggak akan diam kalau dipojokkan, seperti ketika Suripto si guru galak itu menganiaya beberapa anak di sekolah, Dilan sampai nggak segan berantem tonjok-tonjokan sama dia. Dilan penyayang, ketika dia udah sama satu cewek, maka dia bakal menjaganya baik-baik. Seperti Anhar yang digebukin Dilan sampai hampir mati, karena berani nampar Milea, seperti Susi yang nggak ditanggepin, karena Dilan cuma sayang Milea, atau seperti Kang Adi yang dijuluki monyet karena pengin memisahkan dia dengan Milea.

Dilan itu romantis dengan caranya sendiri :))

Sayangnya cerita ini dipenggal pas lagi seru-serunya, jadi harus nunggu buku kedua. So far, Pidi Baiq gombalannya memang juara dan beda sendiri, beliau menuliskan buku ini dengan bahasa yang ringan dan santai, bahkan terkesan apa adanya aja, karena banyak kalimat-kalimat bahasa Sunda nyempil. Pemilihan setting 1990an juga bener-bener pas, karena di era itulah anak ABG masih waras, nggak pada aneh-aneh kayak sekarang, nggak dewasa sebelum waktunya –iya, kayak sekarang. Beberapa teman bilang, ini seperti Balada Si Roy, tapi dengan penyajian lebih feminis, karena ditulis dari sudut pandang ceweknya. Actually, era 1990an adalah di mana masa muda akan terus menjadi masa muda, walau belasan bahkan puluhan tahun berlalu.

Iya, Mput jiwanya tua.

Sekian.

Terima kasih untuk Pidi Baiq yang sudah menciptakan lelaki hebat seperti Dilan di tahun 1990, terima kasih untuk senyum-senyum geli dan ketawa ngakak selama baca buku ini. 5 bintang untuk Dilan. Titip salam buat Milea, dan menunggu buku berikutnya 🙂

*

Quotes:

Senang sekali rasanya bersama orang yang kuanggap bisa memberiku penghiburan. Tenang sekali rasanya bersama orang yang kuanggap bisa memberiku perlindungan. Riang sekali rasanya bersama orang yang aku rindukan bisa berdua denganku. – Milea, hal. 212

Dilan yang membuat aku merasa dilindungi, bahkan ketika aku sedang berada jauh darinya. Aku tahu ia bukan Superman, tapi oleh dia aku bisa merasa aman, seolah-olah dia sudah akan langsung datang untuk menghilangkan setiap orang yang berani menggangguku, yang berani menyakitiku. Dilan mungkin tidak paham dengan teori bagaimana seorang lelaki harus memperlakukan wanita, tapi apa yang dia lakukan selalu bisa membuat aku merasa istimewa dan lain daripada yang lain. – Milea, hal. 261.

“Kamu pernah nangis?” kutanya
“Waktu bayi, pengen minum.”
“Bukan, ih!” Kataku. “Pas udah besar. Pernah nangis?”
“Kamu tau caranya supaya aku nangis?” Dia nanya.
“Gimana?”
“Gampang. Menghilanglah kamu di bumi.” – Dilan to Milea, hal. 262

“Sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan, jangan rindu.”
“Kenapa?” Kutanya.
“Berat,” Jawab Dilan. “Kau gak akan kuat. Biar aku saja.” – Dilan to  Milea, hal. 284

Dan malam ini di tempatku, adalah malam yang sunyi. Malam hujan di Jakarta, dan kerinduan individu di dadaku, kepadanya! Ini adalah hutan rindu, sungai yang mengalir, dan laut yang berdebur. Tidak ada kekuatan yang dapat menolak, tidak ada keahlian untuk menahan. Kuat seperti kehidupan, dan aktif!” – Milea, hal. 330

Advertisements

5 thoughts on “REVIEW: Dilan – Pidi Baiq

  1. Pingback: Book-admirer and Friends #2: Petronela Putri | Book-admirer

  2. novel ini memang keren banget!fresh! ringan tapi ngena buat dibaca dan berisi pula(bukan isi ayam atau kentang yaa),, tapi saya malah kepengan jadi dilan rasanya saking kerennya itu anak. top dan rekomen bgd pokoknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s