REVIEW: Surat Untuk Ruth – Bernard Batubara

Judul: Surat Untuk Ruth
Penulis: Bernard Batubara
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: April 2014 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 45.000
Jumlah halaman: 168 hal.
ISBN: 978-602-03-0413-7

*

Blurb:

Ubud, 6 Oktober 2012

Ruth,

Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita bisa saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama?

Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan?

Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth?

Jika memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu.

Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.

-Areno

*

Review:

Sebelum Surat Untuk Ruth, buku Bara yang pernah gue baca adalah Kata Hati. Buku itu juga yang kemudian difilmkan, meski jujur kalau dari gue sendiri –kurang berkesan. Kemudian, ketika tahu kabar Surat Untuk Ruth akan terbit dan mengintip sekilas covernya di timeline, gue langsung jatuh hati (sama covernya, bukan cuplikan blurbnya). Dari blurb, sudah bisa gue duga bahwa ini masih perkara galau. Sebelum baca, sempat minta pendapat beberapa teman yang sudah baca.

Katanya format Surat Untuk Ruth ini seperti diary, jadi si tokoh utama seperti curhat dan di dalam curhatan berupa surat itulah ia bercerita –flashback mengenai masa lalunya bersama Ruth; awal perkenalan mereka, hari-hari yang mereka jalani, bagaimana ia kemudian jatuh cinta pada Ruth, bagaimana mereka liburan berdua, dan akhirnya harus berpisah karena Ruth dijodohkan dengan teman semasa kecil yang tidak lain adalah anak dari sahabat ibunya.

Warning, di bawah ini mungkin akan sedikit spoiler, jadi buat yang belum baca dan nggak mau tahu spoiler, tutup aja postingan ini. Tanpa bermaksud apapun, gue berusaha menulis review sejujur-jujurnya dan atas permintaan beberapa teman yang mengincar buku ini, gue akan menulis sedikit bocoran.

Ini dia.

Jadi, Surat Untuk Ruth bercerita mengenai seorang lelaki bernama Areno Adamar (nama ini agak aneh ketika diucapkan, entah beneran atau perasaan gue aja) yang menceritakan kisah cintanya bersama seorang wanita bernama Ruthefia Milana (nama Ruth ini malah bagus banget buat gue, katanya sih masih berkaitan dengan kumpulan cerpen Bara yang berjudul Milana –yang sebenarnya lagi belum pernah gue baca). Pada bagian awal cerita, pembaca akan disuguhkan bagaimana kisah perkenalan Are dan Ruth di sebuah kapal feri menuju Bali. Kemudian, hingga lebih dari setengah buku, semuanya berjalan datar. Tidak kelihatan konflik utamanya apa. Semuanya datar, hidup berjalan begitu saja. Mereka dekat, Are merasa jatuh cinta dan sering mengungkapkan rasa sayang –dan dideskripsikan bahwa Ruth tidak pernah mengungkapkan hal yang sama, ia lebih banyak diam.

Kemudian diceritakan mereka liburan berdua ke Batu, Malang, dan akhirnya menjadi momen ciuman pertama mereka. Kemudian lagi Are bertemu dengan seorang rekan bisnis bernama Abimanyu dan melihat foto Ruth menghiasi desktop laptop Abi. Ternyata, Abi ini adalah mantan kekasih Ruth yang masih mencintainya. Ibu Ruth dan Abi bersahabat, hingga mengatur perjodohan mereka dari kecil. Setelah dewasa, Ruth pernah mencoba menerima Abi karena cowok itu kekeuh pengin jadian, tapi hanya bertahan 3 bulan pertama dari 2 tahun masa pacaran mereka. Bulan keempat hingga tahun kedua, dihabiskan Ruth dengan berpura-pura bahwa mereka baik-baik saja. Abi terus merasa semua baik-baik saja karena dia mencintai Ruth, tapi Ruth tidak. Maka setelah itu ia memberanikan diri minta putus. Abi juga berlapang dada menerima dan siap menunggu Ruth kembali padanya. Intermejo sedikit, Are mengatakan jenis cowok kayak gini bebal –ralat, menurut gue, cowok seperti Abimanyu ini malah tergolong cowok yang sabar banget. Saking mencintai, dia rela menghabiskan umur menunggu Ruth, nggak melarang Ruth berkelana dengan lelaki lain, nggak mengekang Ruth padahal bisa saja kalau dia jahat –kan mereka sudah dijodohkan.

Kemudian demi membahagiakan ibunya, Ruth memutuskan berpisah dengan Are dan hubungan mereka yang kalau gue baca, sih, baru seumur jagung. Dia memutuskan menerima lamaran Abimanyu yang sudah menunggu –karena merasa selama ini belum pernah berbuat sesuatu untuk membahagiakan ibunya. Alasan yang agak gimanaa gitu –mengingat akhirnya toh ia lari dari acara pernikahan. Ruth ini sedikit drama di bagian ending, menurut gue. Dia bisa aja bicara baik-baik sama keluarga bahwa ia tidak bisa menerima Abi, tapi ia memutuskan memilih dan akhirnya malah kabur di hari H –bikin malu dua kali lipat.

Lalu drama bertambah ketika di hari H, kapal feri yang ditumpangi Are kecelakaan di laut lepas dan akhirnya terbakar. Hari yang sama juga, Ruth memutuskan lari dari keluarganya dan pergi menyusul Are –tapi segalanya terlambat karena Are sudah meninggal terbakar dalam kecelakaan tersebut.

End of spoiler.

Bagi gue, Surat Untuk Ruth agak jauh dari ekspektasi awal. Dari covernya, gue mengira ini sesuatu yang baru (oke, setidaknya, gue berharap ini sesuatu yang baru). Covernya manis, simpel, dan elegan. Warnanya juga soft dan nggak norak, tipe cover yang pas untuk buku roman. Tapi ternyata isinya memang gegalauan lagi, walau harus gue akui, Bara jago merangkai diksi yang indah dan terbacanya sedih. Sedangkan untuk cerita, sorry to say, nggak berkesan 😦 Gue nggak mendapat kesan apapun dari kisah yang seharusnya sangat sederhana ini –tapi malah dirangkai dan dipanjang-panjangkan menjadi surat berdiksi galau.

Masalahnya simpel saja, Ruth ini bingung memilih Are atau Abi. Dia tahu isi hatinya, dia mencintai Are. Tapi kemudian dia bingung dan memilih Abi, pada akhirnya tetap lari dan kembali ke Are (ketika semuanya sudah terlambat). Tapi kenapa, dari awal hingga setengah buku, sama sekali nggak kelihatan konflik? Cuma ada cerita manis antara Are dan Ruth atau bumbu-bumbu tambahan seperti kisah cinta Bli Nugraha dan Ayudita –teman mereka berdua, yang harus kandas karena beda kasta (tradisi masyarakat Bali, harus menikah dengan orang yang kastanya sejajar).

Lalu ada beberapa bagian yang mungkin keliru ketika dituliskan. Seperti ketika di halaman 67, ada scene Bli Nugraha menelepon dan memanggil Areno dengan sebutan ‘Are’, padahal di bab-bab awal dijelaskan sendiri oleh Are bahwa Bli Nugraha lebih senang memanggil namanya sebagai Damar dari Adamar, bukan Are dari Areno. Setelah di halaman 67 bagian atas memanggil ‘Are’, di bagian tengah ia kembali memanggil ‘Damar’. Nggak konsisten.

Selain diksi, gue suka deskripsi Bali-nya. Cukup menarik, juga ada beberapa nama pantai dan resto yang asing di telinga gue dan rasanya cukup berguna buat orang-orang yang belum pernah ke Bali kayak gue, hahaha.

Well, 2 dari 5 bintang. Satu untuk cover, satunya untuk diksi dan deskripsi Bali-nya. Kalau berkesempatan membaca karya Bara berikutnya, gue berharap ada sesuatu yang berubah. Jika Surat Untuk Ruth dibandingkan dengan Kata Hati, gue masih memilih Kata Hati –karena ceritanya lebih jelas dan nggak terlalu terkesan dipanjang-panjangkan. Oh, iya, apalagi di bab-bab belakang ada daftar 30 blablabla-or-something itu, gue skip semua karena kebanyakan dan lelah duluan bacanya 😦

Quotes:

  • Indah, namun sesaat. Cantik, namun sebentar. Memukau, namun begitu lekas menghilang. Seperti kamu. Seperti kita. – hal. 19
  • “Meninggalkan seseorang karena sudah tidak sayang lagi menurutku adalah tindakan yang tidak pantas dilakukan.” – Ruth, hal. 28
  • Semesta sebetulnya sama saja seperti hati manusia, tidak dapat kita kira. – hal. 46
  • Kamu tahu, Ruth, terkadang lebih sedikit kita tahu sesuatu, maka lebih baik. – Are, hal. 86
  • Di saat kita tidak lagi mencari, di situlah kita akan menemukan. – hal. 102
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s