REVIEW: Kembang Jepun – Remy Sylado

Judul: Kembang Jepun
Penulis: Remy Sylado
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2003 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 35.000
Jumlah halaman: 328 hal.
ISBN: 979-22-0137-8

*

Blurb:

Inilah kemegahan cinta yang tulen,

yang pernah berakar;

dan pernah berantakan,

tapi kini kembali menggaung,

karena nurani yang

tidak pernah menyerah

Ia dipijak, dianiaya, diperkosa,

dan dipaksa untuk mati,

tapi tak pernah ia merasa kalah,

tak pernah ia binasa…

*

Review:

Berawal dari niat mengumpulkan buku-buku sastra karya Remy Sylado untuk koleksi pribadi, gue mendapatkan Kembang Jepun sebagai buku ketiga setelah Ca Bau Kan dan Namaku Mata Hari. Agak susah memang mendapatkan sastra-sastra lama, apalagi yang juga lumayan diincar banyak pembaca lain. Perebutan buku sastra lama diantara para penggemar buku di online shop itu ibarat perebutan baju-baju sale 90% diantara emak-emak kalap menjelang Lebaran –butuh perjuangan, kesabaran, dan tidak jarang sikut-sikutan. Jadi gitu, sejauh ini, baru tiga judul yang ada di tangan. Sisanya masih dalam pencarian.

Kembang Jepun. Dari covernya, mata pembaca sudah dimanjakan dengan penampilan seorang gadis berkimono Jepang. Barangkali, beberapa orang akan langsung teringat Memory of Geisha ketika melihat cover Kembang Jepun. Sejujurnya, gue lebih suka membaca cerita mengenai zaman kolonial Belanda ketimbang cerita yang Jepang-jepangan, tapi kali ini pengecualian –karena Remy Sylado yang menulis.

Kembang Jepun berawal dari seorang gadis kecil bernama Keke, yang (terpaksa) dijual abangnya ke seorang Jepang pemilik Shinju –yang berarti rumah pelacuran di Jalan Kembang Jepun, Surabaya. Kala itu tahun 1930, ketika Kotaro Takamura terdesak di Shinju miliknya, menghadapi kenyataan bahwa ia mulai susah dan tidak punya Geisha muda lagi. Sedangkan, untuk mendatangkan Geisha baru dari Jepang butuh biaya besar dan izinnya semakin dipersulit. Ia kemudian bertemu Jantje, seorang lelaki yang menawarkan gadis-gadis belia kepadanya dengan imbalan uang. Gadis-gadis inilah yang kemudian akan dididiknya menjadi Geisha, dididik sesuai budaya Jepang, ditanamkan segala yang berbau Jepang ke dalam diri mereka.

Karena ketidaksengajaan, Keke –adik kandung Jantje ikut ditahan di Shinju. Kotaro Takamura menyukai anak itu semenjak pertama melihatnya dan yakin ia akan menjadi Geisha yang diminati, serta menolak jika Keke tidak ditinggal bersama teman-temannya yang lain. Benar saja, beberapa tahun setelah dididik Yoko –Geisha tertua di sana, Keke menjadi bintang. Namanya diubah menjadi Keiko, mereka menanamkan nasionalisme Jepang dalam dirinya, meyakinkan bahwa ia adalah seorang gadis Jepang, mengajari makan minum bahkan cara berhubungan seks ala Geisha.

Selang beberapa lama, muncul seorang wartawan harian Tjahaja Soerabaja. Joesoep Soebroto Goenawarman Andangwidjaja Kesawasidi atau yang lebih sering disebut Tjak Broto, ditugaskan atasannya untuk meliput Shinju –yang di depannya merupakan sebuah restoran Jepang. Di sanalah segala kisah Keke bermula. Mereka berkenalan, kemudian saling jatuh hati. Perjuangan demi perjuangan dilalui, pelarian demi pelarian dilakoni, walau ada seorang lelaki Jepang yang menyukai Keke dan berusaha menjauhkannya dari Tjak Broto. Bahkan hingga bertahun-tahun kemudian, Hiroshi Masakuni –lelaki itu, masih terobsesi ingin memiliki Keke –yang dipanggilnya Keiko, sebagai istri.

Berlatarkan zaman Kolonial, Jepang, dan kemerdekaan, Kembang Jepun menawarkan perjuangan seorang perempuan Minahasa yang tangguh. Berkali-kali sengsara, terjatuh, miskin, tapi ia tetap setia pada kekasihnya. Dipisahkan takdir sejauh-jauhnya, di seberang lautan, toh akhirnya mereka tetap dipertemukan kembali. Barangkali inilah yang dimaksud dengan kemegahan cinta yang tulen, seperti yang tertulis di blurb. Bahwa cinta yang sejati –sebagaimanapun rintangannya, akan terus bertahan dan menemui jalannya sendiri.

Yang gue suka dari novel Remy Sylado adalah gaya berceritanya. Di samping itu, pembaca mampu diajak masuk ke dalam suasana cerita. Sama seperti kisah Tinung di novel Ca Bau Kan, seperti ada sebuah magnet yang menarik gue masuk ke dalam hidupnya. Detik-detik bermulanya kisah para gadis ini, hingga detik menjelang mereka menua dan akhirnya meninggalkan dunia. Tinung dan Keiko, Tan Peng Liang dan Tjak Broto –adalah contoh tokoh-tokoh Remy Sylado yang cukup melekat dalam ingatan. Walau harus gue akui, sampai sekarang ini, Tan Peng Liang masih tetap juara. Tjak Broto memang hebat, tapi Tan Peng Liang jauh lebih tangguh dan kokoh. Namun, keduanya tetap memiliki satu kesamaan; setia. Setia ala Tan Peng Liang sepertinya berbeda dengan versi Tjak Broto. Tan Peng Liang bermain-main dengan wanita, tapi hatinya selalu pulang pada Tinung –si Ca Bau Kan Kalijodo itu. Sedangkan Tjak Broto setia dari awal bahkan hingga akhir hidupnya, tetap pada Keke. Walau memang, ia sempat menikah lagi karena menyangka Keke sudah meninggal, tapi akhir cerita Kembang Jepun sudah cukup untuk menjelaskan betapa setianya seorang Joesoep Soebroto.

Well, selain itu, cerita-cerita Remy Sylado tampaknya kerap kali mengusung lokalitas budaya setempat. Setelah Batavia dan Semarang di Ca Bau Kan, kini Surabaya dengan Jalan Kembang Jepunnya. Jadi buat yang memang suka cerita budaya tempo dulu, bisa baca dua buku ini. Buku lainnya belum tahu, karena gue sendiri belum nemu dan baca. Semoga secepatnya. Dan dari dua buku yang sudah gue baca, feeling gue kuat bahwa risetnya nggak main-main. Ternyata ketika gue mengetikkan nama penulisnya di mesin pencari, gue baca info bahwa Remy Sylado konon katanya memang sering riset ke Perpustakaan Nasional atau keliling lapak buku bekas untuk mencari buku-buku lama. Selain itu, beliau juga menguasai banyak bahasa –yang gue kira cukup membantu juga ketika menulis novel atau mencari data.

Finally, akhirnya karena kekaguman pada semua hal yang gue sebutkan di atas, gue berani memberi 5 bintang untuk Kembang Jepun.

*

Quotes:

Yang ia bicarakan itu menyangkut masalah politik. Dan bukan karena Geisha maka saya tidak tertarik pada politik, tapi karena saya perempuan. Saya kira banyak orang mendukung saya, bahwa tidak sedikit perempuan dari pelbagai kedudukan tidak tertarik pada politik. Sebab politik tidak pernah bisa jadi sederhana. – Keiko, hal. 70

“Nanti pada suatu waktu kau akan membenarkan, bahwa perempuan harus juga bicara, dan bicaranya harus didengar. Perempuan bukan hanya dilihat mukanya dan dinikmati badannya, tapi juga harus didengar bicaranya.” – Tjak Broto to Keiko, hal. 71

Dan menurut saya, semua perempuan yang kekanak-kanakan adalah mereka yang tidak pernah mau menerima bahwa perjuangan melawan usia adalah perjuangan yang sia-sia. – Keiko, hal. 103

“Semua orang akan jadi tua, keriput, dan jelek. Tapi makin tua, kita akan semakin bijaksana. Kecantikan pada usia tua adalah bagaimana mempertahankan cinta yang sudah dibangun pada usia muda.” – Tjak Broto, hal. 116

Kino cho atami mokanashi, asu to yu tanomi hakana kyo ni ikian (Serbaduka ingatan hari kemarin, ketidakpastian di hari esok, maka biarlah hidup menjadi hidup di hari ini) – hal. 241

Advertisements

2 thoughts on “REVIEW: Kembang Jepun – Remy Sylado

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s