REVIEW: Niskala dan Sebuah Novel Berjudul Episode IV –Ruhlelana

niskala

Judul: Niskala dan Sebuah Novel Berjudul Episode IV
Penulis: Ruhlelana
Penerbit: Samantha School Publishing
Tahun Terbit: Juli 2014 (Cetakan Pertama)
Harga: – (Free download, via Ziddu)
Jumlah halaman: 291 hal.
ISBN:

*

Pengantar Editor: Eva Ifanya

(berhubung ini masih format e-book, dan bahkan belum ada blurb-nya, berikut gue cantumkan pengantar dari editornya. Menurut gue, nggak kalah menarik untuk mendapat gambaran mengenai buku ini. Semoga penulis dan editornya sendiri nggak keberatan)

Saya adalah satu dari sedikit orang yang mendapatkan draft novel Episode IV. Episode IV adalah sebuah draft novel yang ditulis oleh seorang anak muda bernama Niskala. Seseorang yang memiliki kedekatan khusus dengan saya di masa lalu. Saya harus mengatakan hal ini sebab akan membantu pembaca memahami kenapa Niskala banyak menyebut nama saya dalam novel ini.

Draft ini saya dapatkan dari Niskala secara berkala, sejak draft pertama yang dia berikan pada saya dalam bentuk fotokopian, hingga draft ke-19 yang saya dapatkan setelah “kepergian” Niskala. Bahkan hingga draft yang terakhir kali saya dapatkan, novel ini masih terlalu absurd, tata bahasanya acak-acakan, alurnya berantakan, ceritanya tidak jelas. Suatu hari saya membuka laci di kamar Niskala. Saya menemukan setumpuk kertas berceceran berisi tulisan-tulisan. Saya membaca tulisan itu satu persatu. Barulah saya mengerti kenapa Niskala sering bilang pada saya bahwa novel bikinannya ini adalah novel yang bisa dibaca dari halaman manapun kamu mau. Cara pembacaannya boleh dilakukan secara teratur maupun acak, sesuai selera pembacanya.

Lalu saya punya ide untuk menyusun ulang novel ini dan menggabungkannya dengan tulisan-tulisan yang saya temukan di laci kamarnya, karya-karyanya yang berceceran di internet, beberapa surat darinya yang dialamatkan pada saya, serta sebuah transkrip wawancara Mayanina kepada Niskala yang dimuat dalam sebuah majalah musik pada tahun 2000. Selama penyusunan ulang novel ini saya sempat beberapa kali menerbitkan draft-nya pada kalangan terbatas sebab saya butuh masukan dari teman-teman, baik teman-teman saya di dunia kepenulisan, maupun teman teman Niskala yang juga saya kenal. Saya bahkan menemui beberapa dari mereka dan memperlihatkan draft novel ini, dan memberitahu mereka jika ada perkembangan baru.

Akhirnya saya yakin dengan draft terkahir ini. Draft yang kemudian resmi menjadi naskah novel. Novel yang saat ini berada di tangan anda adalah versi terakhir dari novel Episode IV. Dan karena naskah ini, meskipun keseluruhannya ditulis oleh Niskala (kecuali Wawancara pada Epilog), tapi susunan serta pemilihan bab adalah murni pekerjaan saya, atas persetujuan beberapa teman. Saya pikir ini menjadi karya baru, bukan lagi novel Episode IV, yang hingga penulisnya “tiada”, tak pernah resmi menjadi naskah novel. Untuk itu saya berterimakasih kepada semua orang yang sudah membantu saya menyelesaikan naskah ini.

Maka dari itu saya memberi judul baru, Niskala dan Sebuah Novel Berjudul Episode IV.

Selamat membaca…

*

Review:

“ada apa di balik garis kematian?” kata edgar allan poe.

aku hanya memandangnya sebagai serentetan kata-kata yang teramat sering dilantunkan oleh sebuah wacana pencapaian tertinggi – nihil – seperti misalnya seorang perempuan – samantha – yang selalu berteriak mati di setiap akhir episodenya

Untitled2

Itulah kalimat pertama yang tertera di Bagian Satu: Kisah Episode IV. Semenjak awal, nama Samantha banyak disebut-sebut dalam novel ini, kemudian disambung dengan nama-nama lain seperti Niskala, Karna, Joey, dan If. Niskala dan Sebuah Novel Berjudul Episode IV merupakan karya absurd Ervin yang terbaru, dirilis bulan Juli ini. Bedanya dengan Fiksi-fiksi Benang Merah yang terbit 2013 lalu, Niskala kebih padat dan terdiri dari berbagai macam jenis tulisan. Mari absen satu-satu; cerpen, puisi, sejenis prosa, semacam skrip film, gambar-gambar sketsa, penggalan lirik lagu, serta surat-surat yang ditulis Niskala untuk If, dan transkrip wawancara sebuah majalah musik kepada Niskala yang dijadikan epilog cerita.

Semuanya memang acak dan bisa dibaca dari bagian mana saja. Tapi seperti yang bisa kalian lihat sendiri pada bagian pengantar editor, tulisan-tulisan ini kemudian disusun lagi ketika hendak disatukan menjadi sebuah buku. Walau memang, pada edisi finalnya masing-masing tulisan masih berdiri sendiri, tapi setidaknya urutannya sudah teratur. Kalian akan dibawa dari kisah awal bagaimana Samantha tercipta, puisi-puisi yang ditulis tentang Samantha, mengapa karya ini disebut Episode IV, dan latar belakang lainnya. Setelah selesai dengan pengantar-pengantar tadi, kalian akan masuk ke dunia baru dan diperkenalkan kepada tokoh lain.

Buku ini sendiri terdiri dari 3 bagian; Kisah, Proyek, dan Elegi.

Pada bagian pertama –seperti yang sudah gue jelaskan, berisi latar belakang tentang segala yang ada dalam buku ini. Favorit gue adalah cerita tentang Samantha Story yang dikabarkan menghilang, kemudian penulisnya gagal menuliskan semuanya dari awal sampai akhir seperti sediakala –walau ia telah berusaha. Tercermin dari bagian ini,

Tiga babak terakhir dari Samantha Story menghilang. Aku mengalami kegelisahan akut dan writer’s block menyerangku dengan kemarahan dan dendam yang meluap-luap. Lalu kupaksakan membuat kumpulan puisi lainnya seperti Samantha Story, tapi kuberi judul My-Own Stories dengan putus asa yang meninju ninju benak dan rasaku. Kegelisahan yang diwajarkan oleh sebuah netralisasi – penggaraman. Aku gagal. Tiga babak terakhir itu tak bisa ditulis ulang.

Sketsa-sketsa dan tulisan semacam skrip film juga turut memeriahkan bagian satu, sebelum akhirnya sampai ke bagian dua, berjudul Proyek, di mana kalian akan banyak melihat tips bunuh diri lengkap dengan metode, rekomendasi, usaha yang dibutuhkan, tingkat kekacauan yang dihasilkan, faktor kesakitan, jenis drama yang akan ditimbulkan, kepastian kematian dan lainnya. Inilah mengapa gue menyebut tulisan Ervin selalu ‘gila’ dan berbeda, gue beneran nggak pernah menemukan tips bunuh diri –setidaknya, cukup banyak seperti ini, di buku-buku lain yang sudah gue baca sebelumnya.

Entah gue nggak gahul atau gimana, tapi nyatanya ketika menemukan sesuatu yang agak ‘gila’ ini, gue membacanya dan menyukai segala sisi absurdnya. Alasannya, sederhana saja, kadang-kadang jadi orang waras dan membaca segala yang waras itu melelahkan; sesekali bacalah sesuatu yang gila. Endingnya cuma dua: makin pintar, atau malahan jadi makin stres. Syukurnya, gue selalu yang pertama :p

Untitled3

Selain alur cerita yang berlarian ke sana ke mari, Ervin menuliskan ceritanya dengan gaya sastra, tapi sastra ‘semau gue’. Mungkin kalian akan menemukan beberapa kata tingkat tinggi dalam novel ini, tapi percaya gue, kalian nggak akan menemukan bahasa yang kelewat kaku. Tulisan ini adalah segala yang terucap dari benak penulisnya. Segalanya, dan menurut gue nggak disaring jadi kaku. Di sana kelebihannya yang kedua, pembaca bisa lebih santai menikmatinya –nggak seberat menikmati sastra lain pada umumnya.

Jadi, mari berkenalan dengan Niskala. Ia mendapatkan sebuah boneka seks dari sahabatnya yang bule dan kemudian mati muda. Boneka itulah yang kemudian ia beri napas kehidupan dan dinamakan Samantha. Samantha sering menjadi inspirasi tulisan dan puisi-puisinya, yang kemudian belakangan menjadi nama band ciptaan Niskala bersama Karna dan beberapa rekan lainnya. Nah, tapi selain nama Samantha, ada nama If yang juga kerap disebut di sini. Niskala berkata bahwa If berarti manusia pertama, pasangan adam. Kemudian, di bagian akhir –tepatnya di bagian Elegi Eva Ifanya, diketahui bahwa If masuk ke dunia paralel yang lain bersama Niskala, kemudian menjelma menjadi Sekala. Sekala ini yang akhirnya bertransformasi menjadi Samantha. Bisa dibilang, jika Samantha adalah khayalan, maka sosok aslinya adalah diri If sendiri. Selain itu, If juga manager band Samantha Impossible Dream.

Pada saat-saat tertentu, Niskala menceritakan perempuan itu sebagai If –dirinya yang asli, tapi seringkali juga sosoknya muncul sebagai Samantha. Yang paling menarik adalah bagian menjelang akhir –prosesi penebusan dosa. Gue suka bagian endingnya –dan merasa Ervin sudah menuliskannya dengan cerdas. Tapi kayaknya harus kalian baca sendiri, nggak enak kalau spoiler. Gue nggak suka spoiler, kalian baca aja. Apalagi gue baca e-book, siwer kali. Kalau pengin tahu, baca dari awal dan rasakan sensasi siwernya sendiri :p *halah*

Draft ini sendiri adalah versi terbaru dari semua draft yang ditulis & dikumpulkan dalam rentang tahun 1999 hingga 2014. Barangkali benar kata seorang teman, menulis adalah sebuah proses. Ketika sebuah tulisan diolah secara matang, hasilnya memang lebih memuaskan daripada tulisan asal jadi yang ditulis dalam waktu singkat dan cuma mengejar target selesai. Gue pikir, menulis bukan masalah mengejar ending, menulis adalah bagaimana menciptakan proses matang menuju ending. *halah lagi*

Jadi, kalau kalian mau mencoba baca sesuatu yang baru, mungkin bisa coba baca novel ini. Entah bisa disebut novel juga atau nggak, yang jelas isinya cukup gado-gado. Kalian bakal mendapat banyak jenis tulisan dalam sepaket e-book, hahaha.

Notes: ini beberapa quotes yang kebetulan nemu dan sempat ditandai.

  • Waktu hanyalah rekaan kecil mereka untuk mempersempit pikiran kita dan ruang adalah ide besar mengenai cara hebat membatasi ide. – hal. 18

  • Tapi setiap kali puisi tercipta, Aku selalu mati. Dan perlu sebuah puisi untuk menghidupkanku lagi. – hal. 21

  • Aku kutuk kau menjadi bidadari. Agar kau tak rayu aku lagi, Samantha! – hal. 28

  • Bloody ballpoint. Darah bercucuran. Menulis kata. Menulis kalimat. Menulis cerita kematian. Lalu mati. – hal. 34

  • Then I looked at her eyes. I saw a piece of diamond there. A fossil of a tear. If we can choose which nice dream we want to have, then I’ll choose the best one: UTOPIA, once she told me. – hal. 45

  • Apakah aku salah berdoa untuk mati hanya karena rindu bercumbu dengan Tuhan? – Niskala, hal. 114

  • Ajaib, Samantha pada akhirnya tidak jadi mati meskipun di setiap akhir episodenya selalu diakhiri dengan kata “mati”. – hal. 124

  • Aku memang sudah hidup jutaan tahun yang lalu dan entah berapa ratus ribu kali bertransformasi dan bereinkarnasi ke ratusan ribu dunia paralel dengan kadar ingatan yang sangat minim tentang dunia yang ditinggalkan. – (Proyek Imitasi), hal. 154

  • Ah, penasaran dengan akhir. Orang-orang selalu tergila-gila pada sebuah akhir. Tahukah kau, klimaks dari sebuah cerita adalah ketika si pengaran sudah tidak bisa berpikir lagi dan tidak tahu lagi bagaimana menyelesaikan ceritanya. hal 170

  • Kata-kata tak pernah menjadi fakta. Hanya fiksi, hanya mati. Kematian bukan fakta seperti realita, bukan tanya. – hal. 196

*

Well, 4 dari 5 bintang untuk Niskala dan Sebuah Novel Berjudul Episode IV. Dengan ini hutang review gue selesai, dan rasa penasaran sementara selesai. Kalau nanti ada tawaran rasa penasaran yang baru, siap menampung :p

Advertisements

One thought on “REVIEW: Niskala dan Sebuah Novel Berjudul Episode IV –Ruhlelana

  1. Pingback: Alasan Mengapa Saya Tak Bunuh Diri | www.petronelaputri.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s