REVIEW: Fiksi-fiksi Benang Merah [Dalam 4 Genre] – Ervin Ruhlelana

image

Judul: Fiksi-fiksi Benang Merah [Dalam 4 Genre]
Penulis: Ervin Ruhlelana
Penerbit: Samantha School Publishing & Kendi Aksara
Tahun Terbit: 2013 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 80.000
Jumlah halaman: 250 hal.
ISBN: 978-602-1510-02-5

*

Blurb:

Buku ini berisi kumpulan fiksi pendek yng dikelompokkan ke dalam 4 genre; JAZZ, GRUNGE, BLUES, dan ORKES. Ditulis dari rentang 2001-2013.

JAZZ

“Kau harus belajar banyak tentang tradisi teks dan tradisi oral, Anak Muda, jangan cuma oral seks yang ada dalam kepalamu.” – Sangkuriang, Glossolalia Lelaki Tua, dan Selinting Bako Mole

GRUNGE

Shifra Londa, gadis cantik yang diberaki ratusan lalat saat dia lahir, bertubuh semampai, berkarakter liar dan licin seperti belut, yang sudah bermetamorfosa menjadi sekawanan burung pipit, mati ditikam pisau jagal dengan tiga tikaman, dua di paru-paru, satu di rahim. – Binatang Jalang (a short about a perfect murderer)

BLUES

Berbulan-bulan aku tak menemukan jawaban, dia hampir beku, aku masih juga kaku, kami diam-diaman karena alpa memang pandai menyerang segala. Alpa yang begitu lama, begitu menggoda, hingga saat ini, saat dia sudah membeku jadi batu, terjebak di kepalaku, aku hanya bisa memberinya paku. Cuaca buruk yang melegenda, karena alpa tak bisa dilawan dengan buku-buku sejarah atau ensiklopedia, bahkan Paman Google mulai memakai dandanan hipster sok tahu. – Jutaan Bilangan Silang, Tisyu-tisyu Astrologi, dan Nebula-nebula Berkarat

ORKES

Nina menguap, bau vagina purba menelusup pelan ke hidung Berapi. Berapi terbatuk, sececret air madi mencrot di ubun-ubunnya. Seekor serigala hidup disana. Dan rupanya purnama sudah tiba. Dengan konsentrasi dan kontrasepsi, Berapi mengeluarkan serigala dalam rahim Nina pelan-pelan. Persalinan berhasil dengan baik. Serigala itu lari ke kedalaman hutan, lolongannya masih menggema. – A Short About An Organic Vagina

*

Review:

image

Minggu lalu, Ervin –penulis buku ini, baru saja meluncurkan novel barunya berupa e-book yang bisa diunduh gratis. Kebetulan, dia membagikannya terlebih dulu di Path dan menodong sebuah review. Akhirnya, setelah cas cis cus, gue kebagian review dua buku –yang baru itu dan Fiksi Benang-benang Merah ini. Tadinya mau dikirimin, tapi gue bilang sis @bellazoditama punya. Kemudian gue menyesal, karena setelah baca jadinya pengin punya satu buat koleksi di lemari, hahaha.

Oke, jadi Fiksi Benang-benang Merah adalah sebuah kumpulan fiksi pendek yang dibagi ke dalam 4 genre –seperti yang tertulis pada blurbnya. Keseluruhan buku ini adalah sebuah kotak pandora super absurd, bertebaran kata-kata senggama, kata-kata asing, kata-kata yang jarang digunakan, atau kata-kata yang kemudian dirangkai menjadi bahasa tingkat tinggi.

Buku ini absurd, bagi semua orang.

Buku ini mungkin aneh, bagi yang tidak mengerti atau tidak paham inti tulisan Ervin Ruhlelana.

Buku ini mungkin sebuah karya sastra yang menarik, bagi mereka yang dapat menjangkau kedalaman pikiran si penulis, menyelam jauh ke dasar kepalanya.

Tapi buat gue –yang cuma mengerti sebagian dari buku ini, tulisan-tulisan Ervin itu absurd, gila, dan beda. Ia menuliskan cerita-cerita yang kaya, seolah ia telah lahir dan mati berkali-kali, melewati pergantian zaman berkali-kali, menonton dan membaca, serta bercerita banyak hal dengan banyak manusia berbeda.

Pada Sangkuriang, Glossolalia Lelaki Tua, dan Selinting Bako Mole, Ervin mengajak pembacanya untuk mengingat bahwa sejarah adalah alat kekuasaan. Ia menyampaikan hal itu lewat seorang lelaki tua yang menghembuskan asap bako mole. Hanya percakapan singkat, keduanya pun lebih banyak diam, tapi di akhir cerita, sebuah pesan langsung ditembakkannya begitu saja pada pembaca.

Setelahnya, ada sebuah quote yang agak menyentil gue. Sebuah kalimat penutup cerita Bau Rahasia dari Aroma Angin Laut Selatan, bunyinya begini: dan rahasia akan tetap menjadi rahasia jika kamu hanya menceritakannya pada orang mati.

Tapi yang paling gue suka adalah Surat dari Nusantara Borges untuk Adolfo Bioy Casares. Gue paling suka deskripsi Negeri Eloprogo dari sudut pandang Ruhlelana, yang diceritakannya dalam surat ini.

“kamu pasti ingat saat kita tenggelam di pusaran konstelasi semesta saat itu.

“aku masih ingat kamu meneguk air Elo untuk kecantikanmu dan aku mereguk air Progo untuk keabadianku.

“lalu kita berenang bersama ke pusat tempuran sungai, danau kecil, yang arusnya meliuk-liuk labil.

“danau saat Elo dan Progo saling memagut, berseteru, berisik, musik, mengalun hingga laut selatan.

“seperti kita dan ingatan kita, melebur menjadi entitas asing.

“seperti Elo dan Progo, sebagian ingatan kita meresap ke tanah, sebagian lagi terbang ke angkasa, ada juga yang nyangkut di toilet tetangga.

“sisanya, sampah-sampah ingatan kita, berlabuh di muara pantai selatan.

“sampah-sampah ingatan yang membuat kita berdua saling melupa rasa bibir, melupa rasa senyum, melupa rasa air mata.

“hingga suatu hari kamu menatapku seperti mie ayam kurang garam: hampa.

“broken arrow meledak di laut selatan menggoyangkan kapal pelaminan kita.

“lalu kita terjebak luasnya laut dan memutuskan untuk menjadi puisi saja.

“kerudung putih akad nikah kita terbang diculik angin, lalu: TSUNAMI.”

Demikian tulis Ervin dalam bab tersebut. Gue membacanya dua kali lagi setelah selesai menuntaskan kali pertama, hanya untuk terkagum kembali pada Negeri Eloprogo. Deskripsi yang sesuka hati, ajaib, agak nyeleneh, tapi tetap punya magnet untuk menarik gue membacanya sekali lagi.

Cerita pendek lain yang paling gue suka adalah Tersesat dalam Labirin Pak Haji Meubel dan Binatang Jalang (a short about a perfect murderer). Binatang Jalang menceritakan tentang seorang gadis yang ingin sekali mati di tangan pembunuh yang dikaguminya. Adalah Chairil –tokoh yang beruntung dipilih Ervin untuk berperan sebagai si pembunuh. Orang yang membunuh perempuannya sendiri atas nama cinta, yang berhasil membuat Shifra Londa terkagum-kagum dan memasrahkan dirinya terlelap di ujung pisau jagal; dalam tikaman pada paru-paru dan rahim. Uniknya, cerita ini disusun scene per scene, bukan seperti cerita pendek pada umumnya.

Episode ceritanya masih banyak, izinkan gue meneruskan, bahwa gue juga suka sekali Surat untuk Earth; yang bisa diartikan untuk bumi, atau barangkali malah untuk seorang perempuan. Mereka bersama karena cinta, bertengkar, dan kemudian berpisah. Tapi si lelaki kemudian kembali dan mewujudkan keinginan kekasih hatinya, lalu berkata seperti yang pernah kamu tahu, dan mudah-mudahan kamu masih ingat, alasanku untuk pergi tidak pernah berubah dari dulu; KEMBALI. padamu... Sebelum akhirnya pergi lagi dan meninggalkan kunci rumah pada seorang anak tetangga.

Sebagai sajian penutup, pembaca akan disajikan sebuah bonus track berjudul A Tribute to Enny Arrow. Kalian yang lahir remaja era 80 dan 90-an sepertinya tahu siapa beliau. Dan kenapa gue juga tahu? Itu rahasia, hahaha. Mungkin juga karena gue berteman dengan banyak kalangan dan usia, hal-hal simpel begini kadang terdengar seperti desau angin yang berkeliaran di atas laut –digosipkan orang-orang dari mulut ke mulut. Nah, kembali ke Fiksi Benang-benang Merah, cerita penutup ini mendeskripsikan seorang perempuan (barangkali di mata penulisnya). Seorang perempuan tasty yang tubuhnya digambarkan serupa Sungai Nil, bibirnya berasa bunga sedap malam, payudaranya bagai cabai muda baru dipetik, dan seluruh rasa paling enak di Bumi bersatu di vaginanya, yang disebut sebagai lautan.

Setiap beberapa lembar, mata juga akan dimanjakan oleh lukisan dan ilustrasi-ilustrasi yang sesuai dengan isi cerita. Lukisan pula yang kemudian dijadikan cover buku hardcover ini, yang jika kalian ubek-ubek keterangannya, maka kalian akan tahu bahwa lukisan tersebut berjudul ‘Sang Pujangga’, dilukis oleh Sony Santosa.

Setelah keseluruhan cerita selesai, gue sempat baca pengantar singkat Sony Santosa, yang menyebutkan bahwa penulis buku ini adalah penggemar perempuan –karena itulah ladang inspirasi karya dan kisah untuk puisi-puisinya. Jadi nggak heran juga, sih, ya, kalau banyak sekali perempuan bermunculan dalam buku ini. :p

Orang-orang yang sudah membaca Fiksi-fiksi Benang Merah sebelum ini, memberi dua dan tiga bintang di Goodreads, tapi gue berani memberi 4 bintang. Mengapa? Karena ternyata gue suka, karena gue selalu suka sesuatu yang beda, atau mungkin juga karena gue sedang absurd dan kurang waras.

Atau barangkali, gue memang sableng dari sananya. Sepertinya yang ini. 🙂

*

Note:

Satu hutang selesai. Selanjutnya review Niskala dan Sebuah Novel Berjudul Episode IV, menyusul. Gue orangnya agak lemot kalau baca versi e-book, kelihatannya bakalan agak lama. 🙂

Review:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s